Seberapa keras usahaku? Seberapa jauh aku berkorban? Dan seberapa
lama aku menunggu?
Jawabannya, sudah sangat sangat cukup.
Aku sering bertanya-tanya pada semesta, kapan aku bisa
merasakan apa yang perempuan lain rasakan. Aku sering mengira-ngira, apakah
hari ini adalah awal dari hari bahagiaku. Dan, aku sudah sering menopangkan
tanganku diatas dagu, berharap aku menunggu sesuatu yang pasti. Tapi apa? Apa yang
aku dapatkan? NIHIL.
Aku berjuang hari demi hari memendam rasa yang semakin
tinggi di hati. Aku rasakan alam sekitar mulai enggan berbaur dengan kesedihanku.
Aku sendiri. Ya, sendiri. Sedang berjuang memperebutkan hati yang tak kunjung
melihat hati ini. Aku berlari mengejar hati itu, namun hati itu tlah pergi
dengan hati yang lain. Sakit.
Kamu punya mata, aku pun juga. Kamu bisa melihat normal, aku
pun juga. Tapi, tak pernahkah kau sedikit menolehkan pandanganmu kebelakang? Ada
aku disitu. Aku yang sampai saat ini masih menunggu. Aku setia menemanimu,
walau kau tak pernah menganggapku ada. Aku rela melihatmu dari kejauhan, demi
memastikan kau baik-baik saja. Dan, aku rela kau dengannya, demi kebahagiaanmu
semata.
Kamu punya hati, aku juga. Kamu bisa merasakan, aku juga
bisa. Tapi, pernahkah kau merasakan apa yang aku rasakan? Memendam rasa untuk
sekian lamanya. Pernahkah kau mencoba menyapaku? Bercanda ria denganku? Atau hanya
sekedar melihatku? Kurasa tidak.
Aku selalu berada di belakangmu, mengiri setiap jejak
langkah kakimu. Memastikan semesta tak ikut menumpahkan amarahnya padamu. Seseorang
nun jauh disana, aku harap kamu mengerti.




0 comments:
Posting Komentar