Pages

Jumat, 21 Juni 2013

You Still Don't Look at Me


Seberapa keras usahaku? Seberapa jauh aku berkorban? Dan seberapa lama aku menunggu?
Jawabannya, sudah sangat sangat cukup.

Aku sering bertanya-tanya pada semesta, kapan aku bisa merasakan apa yang perempuan lain rasakan. Aku sering mengira-ngira, apakah hari ini adalah awal dari hari bahagiaku. Dan, aku sudah sering menopangkan tanganku diatas dagu, berharap aku menunggu sesuatu yang pasti. Tapi apa? Apa yang aku dapatkan? NIHIL.

Aku berjuang hari demi hari memendam rasa yang semakin tinggi di hati. Aku rasakan alam sekitar mulai enggan berbaur dengan kesedihanku. Aku sendiri. Ya, sendiri. Sedang berjuang memperebutkan hati yang tak kunjung melihat hati ini. Aku berlari mengejar hati itu, namun hati itu tlah pergi dengan hati yang lain. Sakit.

Kamu punya mata, aku pun juga. Kamu bisa melihat normal, aku pun juga. Tapi, tak pernahkah kau sedikit menolehkan pandanganmu kebelakang? Ada aku disitu. Aku yang sampai saat ini masih menunggu. Aku setia menemanimu, walau kau tak pernah menganggapku ada. Aku rela melihatmu dari kejauhan, demi memastikan kau baik-baik saja. Dan, aku rela kau dengannya, demi kebahagiaanmu semata.

Kamu punya hati, aku juga. Kamu bisa merasakan, aku juga bisa. Tapi, pernahkah kau merasakan apa yang aku rasakan? Memendam rasa untuk sekian lamanya. Pernahkah kau mencoba menyapaku? Bercanda ria denganku? Atau hanya sekedar melihatku? Kurasa tidak.

Aku selalu berada di belakangmu, mengiri setiap jejak langkah kakimu. Memastikan semesta tak ikut menumpahkan amarahnya padamu. Seseorang nun jauh disana, aku harap kamu mengerti.

0 comments:

Posting Komentar