
Ada sebuah persepsi yang menyatakan bahwa kehilangan seseorang bisa membuat orang lain menjadi gila. Ternyata, hal ini memang benar terjadi di tanah air. Satu dari sekian banyak orang yang kehilangan seseorang yang dicintainya, mengaku telah mengkategorikan dirinya sebagai orang gila. Simak cerita berikut.
Ada seorang tokoh, perempuan, cantik, tinggi, putih, pintar, perfect, gaul, dan so pasti kece abis. Dibalik sifatnya yang memukau, perempuan ini tergolong sosok pendiam. Ia tak banyak bicara. Ia lebih sering memendam perasaan daripada mengutarakannya.
Suatu hari, ia bertemu dengan seorang pangeran, yang mungkin bukan pangeran idamannya. Sebelumnya, sang tokoh ini tidak tau dan tidak pernah mau tau apa itu cinta. Bahkan, dia tidak pernah sedikitpun berani menyentuh cinta. Ia beranggapan, cinta itu hanya tipu muslihat belaka. Segala keluh kesah temannya akan cinta, tak pernah ia dengarkan. Ia menjauhkan diri dari cinta.
Hingga suatu saat, sosok pangeran tadi perlahan-lahan mendekati sang tokoh. Kecantikannya membuat pangeran jatuh cinta padanya. Sang pangeran pun berusaha sekuat tenaga demi mengejar cintanya. Duri-duri semak tak getir menghentikan langkahnya. Ombak besar pun ia halau dengan tangan semata. Hingga akhirnya, sang tokoh mulai masuk ke dalam jaring-jaring cinta pangeran. Ia merasakan hal yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Rindu. Iya, sang tokoh merasa rindu. Rindu akan pangeran. Lambat laun sang tokoh diam-diam menaruh hati pada pangeran. Mereka berusaha menyatukan hati yang kaya akan perbedaan.
Datang waktunya, hati itu menyatu. Erat. Sangat erat. Bahkan sulit untuk dipisahkan. Mereka bahagia. Sangat bahagia. Hari-hari mereka penuh dengan warna. Cahaya pelangi seolah menghampiri setiap pagi. Sinar bulan seakan menjadi pertanda esok masih ada hari kita bersama.
Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Kebahagiaan sang tokoh mulai pudar. Senyum mentari yang selalu ia sunggingkan kepada semesta, kini berganti mala petaka yang siap dia kobarkan kapan saja. Sosok pangeran yang dulu dicinta, kini berganti wajah monster yang siap dia terkam selagi dia lapar. Kenangan manis yang mengisi sebagian ruang hatinya, kini berubah menjadi tabung oksigen yang hampa.
Pengkhianat! Serunya dalam hati. Terkutuk kau manusia laknat! Beginilah keadaan sang tokoh sekarang. Sang pangeran telah pergi meninggalkannya, demi cinta yang baru. Perlahan-lahan, tubuhnya mulai digerogoti rasa penasaran akan cinta. Sosok pangeran pun masih mengisi sebagian memori otaknya. Lelah. Itu yang sang tokoh rasakan. Sempat terbesit dalam benak sang tokoh, untuk mengakhiri hidupnya.
Apakah ini, yang pernah kalian rasakan di waktu kehilangan? Apakah menghilangkan nyawa adalah solusi terbaik untuk melupakannya? Tidak. Tuhan itu Maha Tahu, Dia Maha Adil. Dia tau apa yang terbaik untuk umatnya. Ini terbukti pada sang tokoh, Tuhan memberikan keajaiban dalam hidupnya. Seolah dalam sekejap, ia berhasil lepas dari ingatannya akan pangeran. Ruang hidupnya kembali berwarna denga beribu cara yang tak ia duga sebelumnya.
"Aku memang sempat menjadi gila, karena cinta. Namun, sekarang aku sudah kembali menjadi semula. Segala hal tentang cinta, aku kubur dalam-dalam dari ingatanku. Setiap hari, aku berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar aku dapat melupakannya. Tuhan menjawab doaku. Aku sembuh dari penyakit cinta. Dan, Tuhan memberikanku cinta yang lain. Yang indah&abadi. Jika kalian, pernah mengalami apa yang kualami, semoga kisaku dapat menjadi inspirasi untuk kalian."
Itulah kutipab terakhir dari sang tokoh. Terbukti, ini kisah nyata! Asli! 100% Halal! Ga bohong! Dijamin!
Sekian, Salam Hangat.
posted from Bloggeroid



0 comments:
Posting Komentar