Pages

Rabu, 26 Februari 2014

Maafku.. maafmu.. adakah itu?

Aku dan kamu bagai pinang yang tak sengaja terbelah menjadi dua. Tanpa kita sadari, banyak hal-hal yang sebenarnya aku dan kamu pun menyukainya. Seharusnya kita bisa menjadi teman baik, lebih baik dari seekor lebah yang bekerja sama membangun sebuah sarang hexagonal jauh di tengah-tengah rimbunnya dedaunan. Namun, sayang.. takdir lebih dulu turun ke bumi. Aku dan kamu tak bisa saling memadukan genggaman erat jari kelingking, malah sebaliknya.. genggaman itu dengan mudah terlepas dari masing-masing sang pemilik. Tak jelas dari mana asal mulanya, tak tahu dari mana sebabnya, kau dan aku bagai gelas yang retak berulang kali. Setiap kali pecahan gelas itu berusaha menyatu, setiap kali pula gelas itu kembali retak. Memang pada dasarnya, kau dan aku bukanlah seperti kawanan burung. Awalnya aku memilih terbang ke barat, kau ke timur.. aku pergi ke selatan, kau berpetualang ke utara. Tapi, takdirlah yang menakdirkan kita bertemu untuk saling memendam perasaan tak suka dalam hati. Kata maaf pun rasanya seperti angin, hanya singgah untuk sementara, lalu berhamburan kemana-mana. Entah tertancap dimana maaf itu.


Posted via Blogaway