Secarik Kertas Kehidupanku
Karya
Nufaisa Azizah
Walaupun
dia pergi dari dunia ini, percayalah bahwa masih ada aku disini.
Ini kisah yang terjadi
di bawah langit kota hujan. Tentang harapan yang muncul di tengah kegelapan.
Tentang impian yang bertahan di antara keraguan. Tentang tangis yang berdiri di
antara penyesalan. Tentang keajaiban yang datang di antara keputusasaan. Tentang
takdir yang menggerakkan langkah kaki menuju gerbang kesuksesan. Dan tentang
dia yang menjadi alasan untuk bertahan hidup.
Sore itu langit tampak
cerah. Awan-awan enggan beranjak dari tempatnya seakan menunggu kegelapan datang
mengusirnya. Saat itu pukul 17.00 Waktu Indonesia Barat. Tak biasanya langit
masih secerah pagi hari. Mungkinkah Tuhan berkehendak membuat fenomena alam? Keindahan
pasti menemani fenomena itu. Meskipun terlihat biasa, tapi hal itu tetap luar
biasa. Rasa ingin tahu muncul dalam benakku. Segera kuambil beberapa lembar
kertas berwarna hijau yang merupakan warna kesukaanku, untuk kujadikan media
menuangkan inspirasi karyaku di bawah naungan langit cerah dengan ditemani
secangkir teh hangat buatan ibuku tercinta. Inilah hobiku. Inilah cita-citaku.
Ya, menjadi seorang penulis novel. Berawal dari hobiku yang senang
mengekspresikan perasaanku melalui kertas dalam buku diary. Dari situlah, aku
berniat untuk menggabungkan semua cerita yang pernah kutulis. Menulis semua
kejadian yang ku alami, mengeluarkan semua apa yang ku rasa, dan menciptakan
karya terindah dari emosi jiwa. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, aku
senang melakukan hal ini. Entah mengapa aku lebih senang mengekspresikan
semuanya melalui kertas, daripada aku
harus berbicara sampai mulutku berbusa, menceritakan kepada orang-orang
tentang kejadian yang ku alami, dan belum tentu orang yang kuceritakan
mendengarkan ceritaku dengan baik. Bisa jadi orang yang kuceritakan tak peduli,
menganggap semua itu adalah sampah, lalu membuangnya ke tempat yang layak. Aku
percaya buah pena lebih berharga dari potongan kue chocopologie, kue termahal
buatan Amerika. Sebab, buah pena inilah yang akan mengantarkan jiwa kita untuk
mengenang setiap detik terindah dalam hidup kita. Selain hobi menulis novel,
aku juga senang membaca novel-novel terjemahan dan mengoleksi novel-novel karya
anak bangsa. Salah satu karya penulis novel yang menjadi penghuni dunia koleksi
novelku adalah novel karya Ilana Tan. Selain itu ada pula Windhy Puspitadewi,
Andrea Hirata, Dewi Lestari, Helvy Tiana Rosa, Habiburrahman El-Shirazy, dan
masih banyak lagi. Jika kusebutkan satu per satu bisa-bisa mulutku berbusa dan
gendang telinga kalian bergetar. Oya aku melupakan salah satu penulis novel romantis
yaitu Evelyn Jingga dalam karyanya Love in Sunkist. Jika kalian membacanya,
sentuhan romantis pasti merasuk dalam tubuh kalian. Kisah romantis yang terpapar
dalam nuansa hujan membuat pembacanya melayang ke negeri awan.
Kini aku sudah duduk di
bangku Sekolah Menengah Atas kelas 3. Hobiku masih tak berubah, tak pernah
berubah, dan tak akan mencoba untuk berubah. Meskipun banyak aktivitas lain
diluar sana yang mengusikku, tapi novel tetap nomor satu. Tak pernah terbesit
dalam benakku untuk meninggalkan hobiku sendiri. Sebab itu, aku mempunyai rak
novel yang kubeli dari toko furniture
tanpa sepengetahuan keluargaku. Entah ini kelainan atau bukan. Aku tak mau
keluargaku tahu kalau aku pencinta novel dan berniat menjadi penulis novel.
Sebab, ayah dan ibuku bukan anak sastra, apalagi kakakku. Dia termasuk pencinta
ilmiah. Dia bisa mengurung diri seharian di kamar hanya untuk memecahkan tugas
kuliahnya, bergelut dengan angka-angka yang jumlahnya hanya beberapa. Jika aku
yang berada di posisi kakakku, aku lebih memilih pergi keluar membawa media
novelku, menghirup udara segar, dan mencari inspirasi untuk karyaku. Menurutku,
itu lebih menarik. Terkadang, aku meluangkan waktuku untuk berdiam diri di
kamar dengan alasan untuk belajar. Tetapi, tanganku selalu membawaku pada rak novel
yang kusimpan di belakang lemariku. Lalu, kuhabiskan semua waktu luangku di
kamar hanya untuk membaca satu per satu judul novel yang telah kubuat sendiri
seraya membayangkan betapa indahnya dunia saat itu. Untungnya, aku rajin
membersihkan kamar tidurku sehingga tidak berantakan dan bebas dari debu. Ya,
selain karena aku tak mau merepotkan ibuku, aku juga punya maksud lain. Aku tak
ingin orang tuaku tahu bahwa aku mempunya rak novel yang isinya koleksi novel
dan novel buatanku sendiri. Sebab, jika orang tuaku tahu apalagi ayahku
bisa-bisa aku menjadi santapan makanan lezat saat itu juga dan aku harus
menjelaskan panjang lebar kepada mereka. Belum lagi, aku harus mencari-cari
alasan demi menutupi sedikit fakta tentang hal itu. Dan mereka akan berkata
dengan nada agak keras pada diriku semau mereka. Benar-benar rumit. Memang,
aku bukan orang yang banyak bicara. Aku
termasuk pendiam. Oleh karena itulah, aku bisa menjadi media luapan emosi
setiap orang. Meski perasaanku sedikit berbeda dengan mereka. Sensitif. Ya, itu
penilaian mereka. Satu-satunya cara yang bisa kulakukan ketika ada seseorang
yang melukai hatiku, aku memilih untuk mengunci rapat-rapat mulutku. Berdiam
diri di tengah keramaian dunia, mencoba hilangkan rasa yang sesungguhnya tak
ada guna, dan menuangkan segala emosi jiwa dalam goresan-goresan tinta. Begitulah
aku dan biografiku.
Meskipun saat ini aku
sedang berada dalam masa menegangkan, masa dimana ujian nasional tengah
dilaksanakan. Bekerja keras demi masa depan tak semudah membalikkan telapak
tangan. Tak semudah menolehkan leher ketika ada seseorang yang menyebut nama
kita. Dan tak semudah menggelengkan kepala jika kita tidak mau akan suatu hal. Demi
satu kata yaitu lulus, aku harus rela mengorbankan hobiku ini. Aku fikir aku
hanya membutuhkan waktu beberapa hari saja untuk tak bergelut dengan hobiku.
Namun, dugaanku salah. Masih banyak yang harus kupersiapkan untuk melanjutkan
sekolah di perguruan tinggi negeri demi mengejar impianku. Letih mulai mengetuk
kesadaran diri. Namun, ini belum seberapa. Dengan berbekal Bismillah ku pilih
salah satu dari sekian banyak perguruan tinggi negeri di negeriku sebagai
tempatku menunjang prestasi kelak. Selanjutnya, aku mempersiapkan semua
berkas-berkas yang dibutuhkan untuk jalan menuju kesana. Akhirnya selesai.
Tinggal menunggu masa-masa menegangkan untuk yang ke sekian kalinya dalam
hidupku. Sebelum aku membuka amplop yang berisi pernyataan diterima atau tidak,
kupejamkan mataku terlebih dahulu. Memohon kepada Ar-Razaq agar aku diberikan
kekuatan untuk menerima segala apapun yang terjadi. Ayah dan ibuku beserta
kakakku yang sedari tadi turut tegang membuyarkan kegelapan yang kurasakan
akibat pejaman mata. Perlahan kubuka amplop itu, dan satu kata itu mampu meluncurkan satu tetes air mata haru dari kelopak mataku. Aku lulus. Aku
diterima. Dan betapa indahnya nikmat Tuhan yang kurasakan saat itu. Ucapan
syukur terus terlantun dari bibir manisku. Ucapan selamat dari ayah dan kakakku
membuat suasana menjadi haru, ditambah pelukan ibu yang seolah-olah melengkapi
kebahagiaanku. Haru-piru sudah berlalu. Kini saatnya mempersiapkan peralatan
sekolah untuk esok hari dan mempersiapkan rumah baru untukku. Ya, berhubung perguruan
tinggi negeri yang kupilih sedikit berbeda dalam hal kedisiplinan dan program
belajar, mau tidak mau aku harus menanggung semua resikonya. Selain itu,
kampusku letaknya agak jauh dari rumah, sehingga aku terpaksa harus menyewa
rumah untuk ku tempati selama aku kuliah disana. Berat rasanya meninggalkan
rumah, apalagi meninggalkan kamar yang penuh dengan cerita. Rak novel dan
koleksi novelku kelak menjadi bahan kerinduanku ditengah malam nanti. Hal yang
tak mungkin kulakukan adalah mengangkut rak novelku sendiri. Meski begitu, kamarku akan tetap kukunci. Jadi
situasi masih aman terkendali. Aku masuk ke kamarku dengan wajah senang. Lalu,
kuambil kertas hijau milikku dan kutulis sebuah novel berjudul Tiga Hal. Meski
lelah menggoda tubuhku. Namun, pendirianku tak goyah sedikitpun. Novel itu
kuberi judul Tiga Hal, sebab disitu hanya ada aku, keluargaku, dan kebahagiaan.
Mungkin ini adalah novel terakhir yang akan kutulis dalam masa pengangguranku,
sebelum nantinya aku dinobatkan menjadi sosok penulis novel terkenal dunia.
Bisa kurasakan betapa bahagianya bila di sampul novel itu tertera namaku, Desya
Wijaya Clark. Oh, Tuhan iringi langkahku untuk menggapai kesuksesanku. Antarkan
aku menuju pintu kesuksesan. Setelah memanjatkan doa pada Sang Ilahi, aku
terlelap diatas bed cover hijau bersama rentetan kertas hijau yang berserakan
dengan sebuah pena yang kugenggam di tangan kanan ditemani dinginnya udara
malam. Cahaya bulan menjadi penerang bagiku. Taburan bintang malam
disekelilingnya menjadi pelengkap mimpi indah malam ini.
Suara alarm
membangunkanku dari mimpi indahku semalam. Kugerakkan tanganku, kulemaskan
badanku, kugerakkan otot-ototku untuk mengusir rasa pegal dari tubuhku, sebab
aku tidur dengan posisi telungkup. Garis-garis merah menghiasi tangan lembutku
yang merupakan efek dari tekanan kasur. Segera kuambil handuk dan masuk ke
kamar mandi. Setelah itu, tak lupa aku melaksanakan aktivitan rutinku lima
waktu sehari, memanjatkan doa kepada Sang Ilahi. Segera, aku bergegas
meninggalkan rumah dengan sedikit perasaan gelisah dihati. Raut wajahku memang
tak bisa dibohongi. Ketika aku hendak pamit, kulihat ayah dan kakakku sedang
sibuk mengutak-atik komputer sementara ibuku sedang pergi berbelanja di pasar.
Tanpa ada perasaan takut mengganggu, kuhampiri ayah dan kakakku untuk
berpamitan. Lalu, bergegas pergi meninggalkan rumah dengan sedikit perasaan
sedih dihati. Ditengah jalan yang tak jauh dari rumahku, aku mendengar suara
ledakan. Seketika langkah kakiku terhenti. Kegelisahan muncul difikiranku. Niat
hati ingin kembali ke rumah. Batinku serasa menjerit mendengar bunyi ledakan
tadi. Kulirik jam yang melekat ditangan kiriku menunjukkan pukul 06.45 Waktu
Indonesia Barat. Waktuku untuk sampai ke kampus akan semakin berkurang jika aku
kembali ke rumah. Kebingungan melanda diriku. Sekitar lima belas menit aku
terdiam bagai patung ditengah keramaian kota. Akhirnya kuputuskan untuk melangkah
ke kampusku. Ketika aku tiba disana, handphoneku berdering, tanda telfon masuk.
Nama yang muncul di layar handphoneku seakan membuat jantungku berhenti
berdentak, ibu. Ya, telfon itu dari ibuku. Segera kuangkat dan apa yang
terjadi? Air mata mulai menetes dari mataku, membasahi kedua pipiku, mengalir
lembut hingga sampai di ujung dagu dan meluruh ke tanah sama seperti batinku
yang meluruh saat itu. Segera, aku beranjak meninggalkan kampus menuju rumah.
Setibanya disana, kulihat rumahku, tempat aku membangun cerita indah bersama
keluargaku, canda tawa, tangis, suka, duka, semua ada disana, kini lenyap,
semua rata dengan tanah. Yang ada hanyalah puing-puing bangunan yang sebentar
lagi akan rubuh. Sang jago merah telah melalap habis milikku, milik orang tuaku,
milik kami. Kulihat ibuku menangis tersedu-sedu. Kuhapus air mata di wajahku.
Kuhampiri ibu dan kutanyakan apa yang terjadi. Mendengar cerita ibu, seakan
meluluhlantahkan ketegaranku. Hatiku terserang penyakit lumpuh. Rupanya suara
ledakan tadi adalah suara komputer yang sedang diperbaiki oleh ayah dan
kakakku. Seketika terjadi hubungan arus pendek disana. Dan, ya beginilah yang
terjadi. Sesal terus menghampiri diriku. Harusnya tadi aku mengikuti kata hati
kecilku, kembali ke rumah, menyelamatkan mereka. Tapi, takdir berkata lain.
Kini, yang bisa kulakukan adalah menenangkan ibu, memastikan keadaan baik-baik
saja meski hati berkata tidak. Tiba-tiba teringat dalam benakku, novel. Ya,
karya-karyaku. Kutelusuri puing-puing hitam dihadapanku. Berharap ada satu saja
novel yang tersisa demi mengobati kepedihanku. Nihil. Itulah yang kudapat.
Tapi, ketika kugerakkan mataku ke bawah, ada potongan kertas berisi salah satu
dari judul novel yang telah kubuat, Tiga Hal. Ya, hanya itulah yang bisa
kutemui. Segera aku masukkan potongan kertas tadi ke dalam tas ku, berharap tak
ada orang yang tahu akan hal ini. Kejadian pagi ini seakan menjadi bahan
pembicaraan mulut-mulut usil di sekitarku.
Lima belas menit
merupakan waktu yang cukup bagiku dan ibuku untuk meluapkan emosi kami. Muncul
dalam benakku, untuk mengajak ibu tinggal di rumah kontrakan dekat kampusku
yang kemarin telah disewa selama aku kuliah di kampus itu. Setelah tiba disana,
ku bereskan rumah dan kutata dengan rapi. Meskipun, hanya ada satu kamar tidur,
satu lemari, beberapa peralatan dapur untuk memasak, dan dua buah kursi di luar
rumah, aku tetap ingin menciptakan suasana rumah baru untuk ibuku. Sementara
ibuku membersihkan diri, aku termenung di luar. Memegang potongan judul kertas
tadi. Menatap langit dan potongan kertas secara bergantian. Langkah kaki itu
membuyarkan tatapanku. Kulihat dibelakangku, ibu sedang berdiri mengamati
diriku. Segera ibu menghampiriku dan duduk di sebelahku. Memaksaku untuk
menceritakan kesedihanku. Kebohongan tak bisa kulakukan saat bertatapan dengan
sepasang bola mata berwarna hitam kecoklat-coklatan milik perempuan setengah
baya di hadapanku. Dengan berat hati kuceritakan semua pada ibu. Tentang
hobiku, tentang novel, dan tentang impianku. Kutatap mata ibuku. Kesedihan
muncul disana.
“Selama ini ibu sudah tahu tentang
novel-novelmu itu. Waktu itu ibu tak sengaja masuk ke dalam kamarmu. Maafkan
ibu, jika ibu lancang. Tapi, ibu tak berani memberi tahu ayahmu. Selama ini,
ibu ingin sekali membelikanmu sebuah novel. Namun, ibu tak berani tanpa
sepengetahuan ayahmu. Sekarang ibu tahu apa yang kamu rasakan. Pasti kamu
kecewa, sedih. Tapi, ibu berpesan satu hal padamu. Jangan pernah putus asa.
Anggap ini ujian dari Tuhan sebelum kau merasakan kebahagiaan nanti. Ibu selalu
mendukung cita-citamu menjadi penulis novel dan suatu saat nanti ibu akan
menjadi orang pertama yang membeli novelmu. Dan di novel itu akan tertera
namamu, Desya Wijaya Clark.”
Mendengar ucapan itu,
aku langsung memeluk ibuku. Air mata turut melengkapi suasana haru malam itu.
Entah mengapa aku merasa menjadi lebih baik setelah menceritakan semuanya pada
ibu. Harusnya kuceritakan hal ini dari awal.
Keesokan harinya, aku
pergi ke kampusku dengan semangat berkobar-kobar di dadaku. Tak lupa berpamitan
pada ibu. Melihat senyuman ibu di pagi hari adalah hal terindah dalam hidupku.
Kulangkahkan kakiku dengan Bismillah. Kuucapkan Alhamdulillah ketika aku sudah
sampai disana. Kegiatan belajar pun dimulai. Kubabat habis semua pelajaran di
kampusku. Kutekuni pelajaranku hari demi hari. Kulalui detik demi detik bersama
ibuku dengan membantunya berjualan kue. Kulangkahkan kakiku menuju gerbang
kesuksesan. Kuhadapi segala rintangan yang menghadang langkahku. Hingga
akhirnya satu tahun kemudian, aku mendapat beasiswa ke Amerika untuk
melanjutkan sekolah sastraku. Di satu sisi aku bahagia. Namun, di sisi lain aku
bergelinang air mata. Tak kuasa hatiku meninggalkan ibu sendiri. Lagi-lagi
kebingungan datang padaku. Dua hari sebelum hari keberangkatanku ke Amerika
yang telah ditentukan oleh Departemen Nasional adalah hari ulang tahunku.
Senang bercampur sedih turut merayakan ulang tahunku. Tak kusangka ibuku
memberikan kado terindah padaku. Sebuah novel karya Ahmad Fuadi yang berjudul
negeri 5 menara. Meski usia novel itu sudah cukup usia, kuakui aku belum pernah
membaca novel ini. Kini aku tahu, inilah alasan mengapa ibu giat bekerja.
Segala jenis pekerjaan yang ditawarkan oleh orang-orang, ibu terima. Mungkin,
ini alasannya. Ibuku ingin memberikanku kado spesial sebelum aku pergi dari rumah
ini. Sungguh indah dunia saat itu bersama orang yang kusayang.
Hari yang telah
ditentukan pun tiba. Dengan berat hati, aku beranjak meninggalkan rumah. Kakiku
terasa berat untuk melangkah, meski ibuku telah ridha padaku. Hatiku gelisah
kembali. Namun, aku tak ingin berlama-lama disini. Bukanku bermaksud egois,
tapi aku tak kuasa melihat raut wajah ibu yang memendam begitu banyak tangis.
Akhirnya kumantapkan hatiku. Dengan mengucap Assalamualaikum pada ibu dan
Bismillah, aku pergi menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Sesampainya disana, hatiku menjadi lebih gelisah. Aku ingin pulang ke rumah.
Aku ingin bertemu ibu. Entah mengapa perasaan ini tiba-tiba saja muncul dalam
benakku. Takdir tlah berbicara. Jadwal keberangkatanku diundur lima jam. Betapa
bahagianya aku. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Namun, tanganku tidak
menunjukan sebuah gerakan untuk
mengambil handphone dari dalam tasku.
Kupaksa semua keadaan dengan berbagai cara. Tertulis di layar kaca handphoneku,
Mba Rani. Dia adalah tetanggaku. Segera kuangkat dan penyesalanku kembali
terulang. Air mata mulai turun dari kelopak mataku. Kuambil langkah sigap untuk
kembali ke rumah. Untung jalanan tak dipenuhi oleh hiruk-pikuk kendaraan. Suara
itu mulai terdengar dari rumahku. Dan apa yang kudapati ketika aku sampai
disana? Sosok yang kusayangi tlah tiada, meninggalkanku sendiri. Serangan
jantung mengusiknya ketika aku tlah pergi menuju bandara. Lantunan ayat-ayat
Quran menghiasi suasana rumah hari itu. Ibu. Ya, itu ibuku. Teman baikku. Teman
tempatku meluapkan segala emosiku. Temang tempatku mengadu akan hal bising yang
menggangguku. Teman yang selalu ada setiap saat untukku. Teman yang.. isak
tangis tak bisa kuhindari. Segera aku memeluk jasad ibu. Kuteteskan air mata
disana. Pertanda apa ini Tuhan? Mengapa kau
berikan tragedi yang sama padaku?
Kenapa harus ibu? Kenapa bukan aku saja yang Kau ambil nyawanya? Kenapa harus
dia Tuhan? Padahal, belum sempat aku bersimpuh memohon ampun dihadapannya.
Belum sempat aku membuatnya tersenyuman manis karena kebahagiaan. Belum sempat
aku membalas jasa ibu yang tak terhitung jumlahnya. Hatiku hancur saat itu
juga. Kejadian ini melumpuhkan tubuhku. Cita-citaku bagai tak penting lagi
untukku. Keajaiban datang dari Sang Ilahi. Cuaca buruk menyebabkan jadwal
keberangkatanku diundur sampai esok hari. “Pertanda apalagi ini Tuhan?” pekikku
dalam hati. Kulewati malam ini sendiri tanpa ada yang menemani. Hingga esok
hari tiba, mataku masih bengkak efek menangis semalam. Keadaan memaksaku untuk
tetap berangkat ke Amerika. Kukemasi semua barang-barangku dan barang-barang
ibuku. Mungkin aku akan tinggal disana untuk selamanya. Percuma saja aku
disini, keluargaku sudah tak ada. Saudara-saudaraku entah kemana.
Pukul 09.00 Waktu
Indonesia Barat aku melangkahkan kaki menaiki pesawat dengan Bismillah. Dalam
kedua tanganku, tergenggam sebuah novel dari Ibu. Kulihat sampul novel itu.
Judul novel itu basah. Ya, tentunya karena air mataku. Segera kuhapus, dan
kukumandangkan ayat-ayat Allah dalam batinku. Sesampainya aku disana, ketua
redaksi novel ternama Amerika tlah menungguku disana. Dia bernama alex hirano. Sepasang
bola mata berwarna colat kehitam-hitaman bertatapan dengan sepasang bola mata
berwarna biru. Cukup lama adegan itu berlangsung. Hingga akhirnya suara mesin
mobil lexus membuyarkan tatapan kami. Rupanya, suara mobil itu berasal dari
supirnya alex yang mungkin telah menunggu cukup lama. Dia langsung mengantarku
menuju salah satu rumah miliknya untuk kutinggali selama beberapa waktu.
Kulalui hari-hariku di Amerika bersama alex. Tetes air mata turut mengiringi
langkahku. Momen-momen indah di Indonesia selalu terekam dalam memori otakku. Keluargaku
menjadi alasan kerinduanku kepada bumi pertiwi. Namun, keadaan tak
mengizinkanku untuk kembali kesana. Teringat pesan ibu yang menjadi satu-satunya
alasan untukku bertahan hidup. Walau badai menghadang langkahku, tak mampu
getarkan batinku.
Satu tahun tlah
berlalu. Hari ini tepat hari ulang tahunku yang entah keberapa. Kado terindah
yang kudapat adalah aku sudah diizinkan untuk menulis sebuah novel. Betapa
bahagianya aku. Haru-piru menemaniku. Dengan dibantu oleh Sang Ketua Redaksi,
Alex Hirano aku curahkan segala isi hatiku diatas kertas buram. Kata demi kata
kurangkai dengan indah. Kertas demi kertas tlah terisi oleh isi hatiku. Inilah
novel fiksi pertamaku. Tentang aku, keluargaku, dan impianku. Tentang takdir
yang mengantarkanku kepada jalanku. Dengan ditemani alunan melodi indah dari
Alex, kubabat habis kertas demi kertas yang ada dihadapanku. Rupanya, selain
ahli dibidang sastra, ia juga ahli dibidang musik. Saat itu, ia memainkan
melodi lagu Adele – Someone Like You dan melodi Endah and Resha – When You Love
Someone. Ternyata, dia tahu banyak tentang negaraku. Syukurlah, setidaknya
negaraku tak begitu asing dimatanya.
Keesokan harinya ruang
luas di atas bumi berubah menjadi indah. Cuaca hangat menyelimuti kota ini
dengan penuh kebahagiaan. Perlahan-lahan temperatur udara pun semakin menurun
disertai gugurnya dedaunan. Inilah musim terindah. Keeksotisan warna dedaunan
yang menguning ditingkah coklatnya ranting pohon menjadi pelengkap musim ini. Benar-benar
panorama luar biasa yang bisa kulihat dengan izin Ilahi. Inilah kebahagiaanku
untuk ke sekian kalinya. Novel buatanku sudah siap untuk diterbitkan dan
diedarkan ke seluruh penjuru dunia. Satu minggu bukanlah waktu yang singkat
untuk menunggu novel karyaku. Dan, ini saatnya. Ketika Alex menunjukan hasil
karyaku, aku benar-benar bahagia. Aku terharu akan semua itu. Tak kusangka
semua impianku terwujud. Tuhan mendengar doaku. Tuhan mengabulkan keinginanku.
Ucapan syukur tak henti-hentinya kulantunkan. Kupandangi novel itu. Disitu
tertera namaku, Desya Wijaya Clark. Air mataku membasahi tulisan namaku
disampul novel itu. Tiba-tiba sentuhan lembut mengarah ke pipiku, menghapus
semua tangis di wajahku. Siapa lagi kalau bukan Alex yang melakukannya.
“Novelmu bagus. Aku suka ceritamu.
Benar-benar cerita fiksi.” ucapnya dalam Bahasa Inggris yang pekat.
“Terima kasih, tapi menurutku itu lebih
mirip curahan hati. ujarku dengan logat Bahasa Inggris khas Indonesia.
“Tapi kehidupanmu membuat karyamu lebih
hidup. Terkadang, apa yang kita fikir biasa saja bisa menjadi hal luar biasa
untuk orang lain. Jujur, baru kali ini kurasakan ada hal berbeda dalam dirimu.”
ujarnya masih menggunakan bahasa inggris.
“Berbeda? Maksudmu, aku aneh?” tanyaku
tak mengerti.
“Entahlah.”
Satu jawaban singkat itu mengusik
hatiku. Lagi-lagi gelisah yang kurasakan. Apakah pertanda bahwa akan terjadi
hal buruk padanya? Sudahlah, tak ada gunanya aku memikirkan hal tadi. Segera aku
beranjak untuk membersikan lemari baju ibu yang sudah lama tak tersentuh oleh
tanganku. Dan apa yang kutemui? Baju berwarna hijau, dan disitu tertera namaku.
“Untuk putri ibu yang tersayang. Kau pasti akan terlihat cantik jika memakai
baju ini.”
Lagi-lagi aku teringat akan ibuku. Air
mata lagi-lagi kuteteskan. Namun, seketika sentuhan lembut menghapusnya.
Ternyata dia. Alex, yang sedari tadi berdiri di belakangku.
“Aku ingin melihat kau memakai baju itu
esok saat peresmian novel barumu.”
“Tapi, ..?”
“Kutunggu besok.”
Belum sempat aku menyelesaikan
pembicaraanku, dia sudah menyanggahnya terlebih dahulu. Ya sudahlah.
Keesokan harinya, aku
benar-benar menuruti semua perkataan ibu dan alex. Semua mata memandang bak
terpesona akan penampilanku. Entah apa yang mereka fikirkan tentang diriku.
Seusai peresmian novel itu, aku bahagia. Sebab, novelku sudah layak diterbitkan
ke seluruh penjuru dunia. Tiba-tiba terbesit dalam benakku untuk kembali ke
tanah air untuk berziarah ke makam keluargaku. Setelah mendapatkan izin dari
redaksi, akhirnya aku diperbolehkan hanya dalam waktu satu minggu. Lalu, aku
meminta izin pada alex. Namun, apa yang dia katakan?
“Aku merasa berat hati untuk
mengizinkanmu pulang ke Indonesia.”
“Aku hanya diberi waktu satu minggu. Aku
janji aku akan kembali lagi kesini.”
“Entah apa katamu.”
“Lalu?”
“Aku tak ingin jauh darimu.”
Setelah berkata begitu, alex langsung
pergi meninggalkanku sendiri bersama detakan jantung dan rasa tegang dihatiku.
Meski begitu, aku tetap
kembali ke tanah airku. Setelah berziarah ke makam keluargaku, kulanjutkan
hari-hariku dengan berjalan-jalan mengelilingi kota hujan. Tiba-tiba sepasang
sepatu puma menghadang langkahku. Refleks kugerakkan bola mataku dan sosok pria
bertubuh tinggi, putih, berbadan tegap, berambut hitam bercampur langit semi
berdiri dihadapanku. Itu, dia alex.
“Sudah kubilang, aku tak ingin jauh
darimu. Maka jangan tanyakan seputar kedatanganku.”
Sekejap aku terdiam. Seolah dia bisa
membaca fikiranku.
“Antarkan aku ke tempat indah di
negerimu.”
Aku hanya bisa pasrah menuruti
kemauannya. Genggaman erat tangannya yang menarikku untuk segera
mengantarkannya ke tempat yang ia minta membuat tubuhku serasa bergetar.
Hentakan-hentakan rasa seakan tumbuh disana. Sekitar beberapa jam, kesunyian
melanda kami berdua. Aku mengantarkannya ke sebuah tempat dimana tersimpan
memori cerita indah antara aku dan keluargaku. Bukit pelangi. Disana, aku
menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya. Bercanda ria bersamanya. Ditengah
kebahagiaan, tiba-tiba kepalaku pusing. Keringat dingin melanda tubuhku. Dan
seketika pandangan dihadapanku buyar akan kegelapan. Segera alex membawaku ke
rumah sakit yang ia ketahui letaknya di kotaku. Rupanya penyakit maag ku kambuh
kembali. Kali ini bukan maag biasa, tapi maag akut. Asam klorida dilambungku
membuatku menginap di rumah sakit ini. Dengan ditemani alex, kulewati
hari-hariku dengan masker dan selang di tubuhku.
Hari ini adalah hari terakhirku di bumi
pertiwi yang ditentukan oleh redaksi novelku. Keajaiban datang dari Sang Ilahi.
Aku membuka mataku dengan perasaan lega. Seolah-olah oprasi kemarin seperti
tertidur lelap diatas lembutnya bed cover hijau milikku dulu. Raut wajah alex
terlihat senang melihatku sudah terbangun dari mimpi burukku. Namun, kesedihan
masih tergores disana. Segera kuubah raut wajahku untuk meyakinkan alex bahwa
aku baik-baik saja. Pukul 15.00 Waktu Indonesia Barat aku meminta alex untuk
menemaniku menatap langit sore.
“Kau tahu sesuatu tentang novelmu?” alex
membuka pembicaraan.
“Kurasa tidak.”
“Ada seorang anak kecil di belahan bumi
lain yang sangat terinspirasi dengan novelmu. Kebetulan, ia adlaah anak yatim
piatu. Ia sangat kagum padamu. Sampai-sampai, ia mengirimkan surat kepada
redaksi novel Amerika yang ditujukan padamu. Intinya, isi surat itu ia kagum terhadapmu
dan bercita-cita ingin menjadi penulis novel.”
“Aku tak pernah menyangka bahwa orang
lain diluar sana tersenyum karena novelku.”
“Bukan hanya mereka, tapi aku juga.”
Sebuah senyuman manis tersungging di
bibirku untuknya. Namun, seketika hujan datang. Inilah yang kutunggu.
Memandangi hujan disore hari. Ditengah air hujan dan dinginnya udara sore saat
itu, membuat mereka bertatapan tanpa berkedip. Suara ribut air hujan yang jatuh
di kain payung seakan berubah menjadi musik lembut yang indah. Butir-butir air
seolah menjelma menjadi butiran salju lembut yang turun dari langit. Dan
seketika takdir berbicara. Tubuhku terasa ringan ditengah ributnya suara air
hujan. Perlahan nafasku terhenti, tubuhku terasa ringan dan mataku terpejam
dengan sendirinya. Sempat terlantun ayat Quran dari bibirku. Tubuhku semakin
tak berdaya. Remang-remang kulihat alex meneteskan air matanya untukku,
mengantarkanku kembali kepada Sang Maha Pencipta.
Itulah secarik kertas
kehidupanku. Roda kehidupan terus berputar tanpa henti. Berbahagialah kalian
yang mendapat ujian dari Tuhan. Sebab dibalik kesusahan pasti ada kebahagiaan.
Putus asa bukanlah pemecah setiap masalah yang ada. Kerja keras, impian, dan
cita-cita adalah modal kita menggalang kesuksesan di masa depan. Jangan jadikan
mereka sebagai hambatanmu untuk berkarya. Tak akan ada akhir bahagia tanpa tetesan
air mata. Dan selalu ada sosok pengiring langkah disamping kita, keluarga terutama
ibu kita. Dan akan selalu ada pelengkap langkah kita, yaitu cinta.
NB : makasih buat Ibu Helfy yang udah ngasi tugas ini, seengganya ini bisa membantu buat koleksi cerpen saya bu :D love you Bu Helfy, you are my everything :*



0 comments:
Posting Komentar