Pages

Selasa, 10 Juli 2012

Aplikasi Mengubah Foto Menjadi Kartun

Photo to Cartoon Online

Get Adobe Flash player

Kamis, 14 Juni 2012

Rumor - Butiran Debu


Secarik Kertas Kehidupanku


Secarik Kertas Kehidupanku
Karya Nufaisa Azizah
Walaupun dia pergi dari dunia ini, percayalah bahwa masih ada aku disini.
Ini kisah yang terjadi di bawah langit kota hujan. Tentang harapan yang muncul di tengah kegelapan. Tentang impian yang bertahan di antara keraguan. Tentang tangis yang berdiri di antara penyesalan. Tentang keajaiban yang datang di antara keputusasaan. Tentang takdir yang menggerakkan langkah kaki menuju gerbang kesuksesan. Dan tentang dia yang menjadi alasan untuk bertahan hidup.
Sore itu langit tampak cerah. Awan-awan enggan beranjak dari tempatnya seakan menunggu kegelapan datang mengusirnya. Saat itu pukul 17.00 Waktu Indonesia Barat. Tak biasanya langit masih secerah pagi hari. Mungkinkah Tuhan berkehendak membuat fenomena alam? Keindahan pasti menemani fenomena itu. Meskipun terlihat biasa, tapi hal itu tetap luar biasa. Rasa ingin tahu muncul dalam benakku. Segera kuambil beberapa lembar kertas berwarna hijau yang merupakan warna kesukaanku, untuk kujadikan media menuangkan inspirasi karyaku di bawah naungan langit cerah dengan ditemani secangkir teh hangat buatan ibuku tercinta. Inilah hobiku. Inilah cita-citaku. Ya, menjadi seorang penulis novel. Berawal dari hobiku yang senang mengekspresikan perasaanku melalui kertas dalam buku diary. Dari situlah, aku berniat untuk menggabungkan semua cerita yang pernah kutulis. Menulis semua kejadian yang ku alami, mengeluarkan semua apa yang ku rasa, dan menciptakan karya terindah dari emosi jiwa. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, aku senang melakukan hal ini. Entah mengapa aku lebih senang mengekspresikan semuanya melalui kertas, daripada aku  harus berbicara sampai mulutku berbusa, menceritakan kepada orang-orang tentang kejadian yang ku alami, dan belum tentu orang yang kuceritakan mendengarkan ceritaku dengan baik. Bisa jadi orang yang kuceritakan tak peduli, menganggap semua itu adalah sampah, lalu membuangnya ke tempat yang layak. Aku percaya buah pena lebih berharga dari potongan kue chocopologie, kue termahal buatan Amerika. Sebab, buah pena inilah yang akan mengantarkan jiwa kita untuk mengenang setiap detik terindah dalam hidup kita. Selain hobi menulis novel, aku juga senang membaca novel-novel terjemahan dan mengoleksi novel-novel karya anak bangsa. Salah satu karya penulis novel yang menjadi penghuni dunia koleksi novelku adalah novel karya Ilana Tan. Selain itu ada pula Windhy Puspitadewi, Andrea Hirata, Dewi Lestari, Helvy Tiana Rosa, Habiburrahman El-Shirazy, dan masih banyak lagi. Jika kusebutkan satu per satu bisa-bisa mulutku berbusa dan gendang telinga kalian bergetar. Oya aku melupakan salah satu penulis novel romantis yaitu Evelyn Jingga dalam karyanya Love in Sunkist. Jika kalian membacanya, sentuhan romantis pasti merasuk dalam tubuh kalian. Kisah romantis yang terpapar dalam nuansa hujan membuat pembacanya melayang ke negeri awan.
Kini aku sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas kelas 3. Hobiku masih tak berubah, tak pernah berubah, dan tak akan mencoba untuk berubah. Meskipun banyak aktivitas lain diluar sana yang mengusikku, tapi novel tetap nomor satu. Tak pernah terbesit dalam benakku untuk meninggalkan hobiku sendiri. Sebab itu, aku mempunyai rak novel yang kubeli dari toko furniture tanpa sepengetahuan keluargaku. Entah ini kelainan atau bukan. Aku tak mau keluargaku tahu kalau aku pencinta novel dan berniat menjadi penulis novel. Sebab, ayah dan ibuku bukan anak sastra, apalagi kakakku. Dia termasuk pencinta ilmiah. Dia bisa mengurung diri seharian di kamar hanya untuk memecahkan tugas kuliahnya, bergelut dengan angka-angka yang jumlahnya hanya beberapa. Jika aku yang berada di posisi kakakku, aku lebih memilih pergi keluar membawa media novelku, menghirup udara segar, dan mencari inspirasi untuk karyaku. Menurutku, itu lebih menarik. Terkadang, aku meluangkan waktuku untuk berdiam diri di kamar dengan alasan untuk belajar. Tetapi, tanganku selalu membawaku pada rak novel yang kusimpan di belakang lemariku. Lalu, kuhabiskan semua waktu luangku di kamar hanya untuk membaca satu per satu judul novel yang telah kubuat sendiri seraya membayangkan betapa indahnya dunia saat itu. Untungnya, aku rajin membersihkan kamar tidurku sehingga tidak berantakan dan bebas dari debu. Ya, selain karena aku tak mau merepotkan ibuku, aku juga punya maksud lain. Aku tak ingin orang tuaku tahu bahwa aku mempunya rak novel yang isinya koleksi novel dan novel buatanku sendiri. Sebab, jika orang tuaku tahu apalagi ayahku bisa-bisa aku menjadi santapan makanan lezat saat itu juga dan aku harus menjelaskan panjang lebar kepada mereka. Belum lagi, aku harus mencari-cari alasan demi menutupi sedikit fakta tentang hal itu. Dan mereka akan berkata dengan nada agak keras pada diriku semau mereka. Benar-benar rumit. Memang, aku  bukan orang yang banyak bicara. Aku termasuk pendiam. Oleh karena itulah, aku bisa menjadi media luapan emosi setiap orang. Meski perasaanku sedikit berbeda dengan mereka. Sensitif. Ya, itu penilaian mereka. Satu-satunya cara yang bisa kulakukan ketika ada seseorang yang melukai hatiku, aku memilih untuk mengunci rapat-rapat mulutku. Berdiam diri di tengah keramaian dunia, mencoba hilangkan rasa yang sesungguhnya tak ada guna, dan menuangkan segala emosi jiwa dalam goresan-goresan tinta. Begitulah aku dan biografiku.
Meskipun saat ini aku sedang berada dalam masa menegangkan, masa dimana ujian nasional tengah dilaksanakan. Bekerja keras demi masa depan tak semudah membalikkan telapak tangan. Tak semudah menolehkan leher ketika ada seseorang yang menyebut nama kita. Dan tak semudah menggelengkan kepala jika kita tidak mau akan suatu hal. Demi satu kata yaitu lulus, aku harus rela mengorbankan hobiku ini. Aku fikir aku hanya membutuhkan waktu beberapa hari saja untuk tak bergelut dengan hobiku. Namun, dugaanku salah. Masih banyak yang harus kupersiapkan untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi negeri demi mengejar impianku. Letih mulai mengetuk kesadaran diri. Namun, ini belum seberapa. Dengan berbekal Bismillah ku pilih salah satu dari sekian banyak perguruan tinggi negeri di negeriku sebagai tempatku menunjang prestasi kelak. Selanjutnya, aku mempersiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan untuk jalan menuju kesana. Akhirnya selesai. Tinggal menunggu masa-masa menegangkan untuk yang ke sekian kalinya dalam hidupku. Sebelum aku membuka amplop yang berisi pernyataan diterima atau tidak, kupejamkan mataku terlebih dahulu. Memohon kepada Ar-Razaq agar aku diberikan kekuatan untuk menerima segala apapun yang terjadi. Ayah dan ibuku beserta kakakku yang sedari tadi turut tegang membuyarkan kegelapan yang kurasakan akibat pejaman mata. Perlahan kubuka amplop itu, dan satu kata itu mampu  meluncurkan satu tetes air mata  haru dari kelopak mataku. Aku lulus. Aku diterima. Dan betapa indahnya nikmat Tuhan yang kurasakan saat itu. Ucapan syukur terus terlantun dari bibir manisku. Ucapan selamat dari ayah dan kakakku membuat suasana menjadi haru, ditambah pelukan ibu yang seolah-olah melengkapi kebahagiaanku. Haru-piru sudah berlalu. Kini saatnya mempersiapkan peralatan sekolah untuk esok hari dan mempersiapkan rumah baru untukku. Ya, berhubung perguruan tinggi negeri yang kupilih sedikit berbeda dalam hal kedisiplinan dan program belajar, mau tidak mau aku harus menanggung semua resikonya. Selain itu, kampusku letaknya agak jauh dari rumah, sehingga aku terpaksa harus menyewa rumah untuk ku tempati selama aku kuliah disana. Berat rasanya meninggalkan rumah, apalagi meninggalkan kamar yang penuh dengan cerita. Rak novel dan koleksi novelku kelak menjadi bahan kerinduanku ditengah malam nanti. Hal yang tak mungkin kulakukan adalah mengangkut rak novelku sendiri. Meski  begitu, kamarku akan tetap kukunci. Jadi situasi masih aman terkendali. Aku masuk ke kamarku dengan wajah senang. Lalu, kuambil kertas hijau milikku dan kutulis sebuah novel berjudul Tiga Hal. Meski lelah menggoda tubuhku. Namun, pendirianku tak goyah sedikitpun. Novel itu kuberi judul Tiga Hal, sebab disitu hanya ada aku, keluargaku, dan kebahagiaan. Mungkin ini adalah novel terakhir yang akan kutulis dalam masa pengangguranku, sebelum nantinya aku dinobatkan menjadi sosok penulis novel terkenal dunia. Bisa kurasakan betapa bahagianya bila di sampul novel itu tertera namaku, Desya Wijaya Clark. Oh, Tuhan iringi langkahku untuk menggapai kesuksesanku. Antarkan aku menuju pintu kesuksesan. Setelah memanjatkan doa pada Sang Ilahi, aku terlelap diatas bed cover hijau bersama rentetan kertas hijau yang berserakan dengan sebuah pena yang kugenggam di tangan kanan ditemani dinginnya udara malam. Cahaya bulan menjadi penerang bagiku. Taburan bintang malam disekelilingnya menjadi pelengkap mimpi indah malam ini.
Suara alarm membangunkanku dari mimpi indahku semalam. Kugerakkan tanganku, kulemaskan badanku, kugerakkan otot-ototku untuk mengusir rasa pegal dari tubuhku, sebab aku tidur dengan posisi telungkup. Garis-garis merah menghiasi tangan lembutku yang merupakan efek dari tekanan kasur. Segera kuambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Setelah itu, tak lupa aku melaksanakan aktivitan rutinku lima waktu sehari, memanjatkan doa kepada Sang Ilahi. Segera, aku bergegas meninggalkan rumah dengan sedikit perasaan gelisah dihati. Raut wajahku memang tak bisa dibohongi. Ketika aku hendak pamit, kulihat ayah dan kakakku sedang sibuk mengutak-atik komputer sementara ibuku sedang pergi berbelanja di pasar. Tanpa ada perasaan takut mengganggu, kuhampiri ayah dan kakakku untuk berpamitan. Lalu, bergegas pergi meninggalkan rumah dengan sedikit perasaan sedih dihati. Ditengah jalan yang tak jauh dari rumahku, aku mendengar suara ledakan. Seketika langkah kakiku terhenti. Kegelisahan muncul difikiranku. Niat hati ingin kembali ke rumah. Batinku serasa menjerit mendengar bunyi ledakan tadi. Kulirik jam yang melekat ditangan kiriku menunjukkan pukul 06.45 Waktu Indonesia Barat. Waktuku untuk sampai ke kampus akan semakin berkurang jika aku kembali ke rumah. Kebingungan melanda diriku. Sekitar lima belas menit aku terdiam bagai patung ditengah keramaian kota. Akhirnya kuputuskan untuk melangkah ke kampusku. Ketika aku tiba disana, handphoneku berdering, tanda telfon masuk. Nama yang muncul di layar handphoneku seakan membuat jantungku berhenti berdentak, ibu. Ya, telfon itu dari ibuku. Segera kuangkat dan apa yang terjadi? Air mata mulai menetes dari mataku, membasahi kedua pipiku, mengalir lembut hingga sampai di ujung dagu dan meluruh ke tanah sama seperti batinku yang meluruh saat itu. Segera, aku beranjak meninggalkan kampus menuju rumah. Setibanya disana, kulihat rumahku, tempat aku membangun cerita indah bersama keluargaku, canda tawa, tangis, suka, duka, semua ada disana, kini lenyap, semua rata dengan tanah. Yang ada hanyalah puing-puing bangunan yang sebentar lagi akan rubuh. Sang jago merah telah melalap habis milikku, milik orang tuaku, milik kami. Kulihat ibuku menangis tersedu-sedu. Kuhapus air mata di wajahku. Kuhampiri ibu dan kutanyakan apa yang terjadi. Mendengar cerita ibu, seakan meluluhlantahkan ketegaranku. Hatiku terserang penyakit lumpuh. Rupanya suara ledakan tadi adalah suara komputer yang sedang diperbaiki oleh ayah dan kakakku. Seketika terjadi hubungan arus pendek disana. Dan, ya beginilah yang terjadi. Sesal terus menghampiri diriku. Harusnya tadi aku mengikuti kata hati kecilku, kembali ke rumah, menyelamatkan mereka. Tapi, takdir berkata lain. Kini, yang bisa kulakukan adalah menenangkan ibu, memastikan keadaan baik-baik saja meski hati berkata tidak. Tiba-tiba teringat dalam benakku, novel. Ya, karya-karyaku. Kutelusuri puing-puing hitam dihadapanku. Berharap ada satu saja novel yang tersisa demi mengobati kepedihanku. Nihil. Itulah yang kudapat. Tapi, ketika kugerakkan mataku ke bawah, ada potongan kertas berisi salah satu dari judul novel yang telah kubuat, Tiga Hal. Ya, hanya itulah yang bisa kutemui. Segera aku masukkan potongan kertas tadi ke dalam tas ku, berharap tak ada orang yang tahu akan hal ini. Kejadian pagi ini seakan menjadi bahan pembicaraan mulut-mulut usil di sekitarku.
Lima belas menit merupakan waktu yang cukup bagiku dan ibuku untuk meluapkan emosi kami. Muncul dalam benakku, untuk mengajak ibu tinggal di rumah kontrakan dekat kampusku yang kemarin telah disewa selama aku kuliah di kampus itu. Setelah tiba disana, ku bereskan rumah dan kutata dengan rapi. Meskipun, hanya ada satu kamar tidur, satu lemari, beberapa peralatan dapur untuk memasak, dan dua buah kursi di luar rumah, aku tetap ingin menciptakan suasana rumah baru untuk ibuku. Sementara ibuku membersihkan diri, aku termenung di luar. Memegang potongan judul kertas tadi. Menatap langit dan potongan kertas secara bergantian. Langkah kaki itu membuyarkan tatapanku. Kulihat dibelakangku, ibu sedang berdiri mengamati diriku. Segera ibu menghampiriku dan duduk di sebelahku. Memaksaku untuk menceritakan kesedihanku. Kebohongan tak bisa kulakukan saat bertatapan dengan sepasang bola mata berwarna hitam kecoklat-coklatan milik perempuan setengah baya di hadapanku. Dengan berat hati kuceritakan semua pada ibu. Tentang hobiku, tentang novel, dan tentang impianku. Kutatap mata ibuku. Kesedihan muncul disana.
“Selama ini ibu sudah tahu tentang novel-novelmu itu. Waktu itu ibu tak sengaja masuk ke dalam kamarmu. Maafkan ibu, jika ibu lancang. Tapi, ibu tak berani memberi tahu ayahmu. Selama ini, ibu ingin sekali membelikanmu sebuah novel. Namun, ibu tak berani tanpa sepengetahuan ayahmu. Sekarang ibu tahu apa yang kamu rasakan. Pasti kamu kecewa, sedih. Tapi, ibu berpesan satu hal padamu. Jangan pernah putus asa. Anggap ini ujian dari Tuhan sebelum kau merasakan kebahagiaan nanti. Ibu selalu mendukung cita-citamu menjadi penulis novel dan suatu saat nanti ibu akan menjadi orang pertama yang membeli novelmu. Dan di novel itu akan tertera namamu, Desya Wijaya Clark.”
Mendengar ucapan itu, aku langsung memeluk ibuku. Air mata turut melengkapi suasana haru malam itu. Entah mengapa aku merasa menjadi lebih baik setelah menceritakan semuanya pada ibu. Harusnya kuceritakan hal ini dari awal.
Keesokan harinya, aku pergi ke kampusku dengan semangat berkobar-kobar di dadaku. Tak lupa berpamitan pada ibu. Melihat senyuman ibu di pagi hari adalah hal terindah dalam hidupku. Kulangkahkan kakiku dengan Bismillah. Kuucapkan Alhamdulillah ketika aku sudah sampai disana. Kegiatan belajar pun dimulai. Kubabat habis semua pelajaran di kampusku. Kutekuni pelajaranku hari demi hari. Kulalui detik demi detik bersama ibuku dengan membantunya berjualan kue. Kulangkahkan kakiku menuju gerbang kesuksesan. Kuhadapi segala rintangan yang menghadang langkahku. Hingga akhirnya satu tahun kemudian, aku mendapat beasiswa ke Amerika untuk melanjutkan sekolah sastraku. Di satu sisi aku bahagia. Namun, di sisi lain aku bergelinang air mata. Tak kuasa hatiku meninggalkan ibu sendiri. Lagi-lagi kebingungan datang padaku. Dua hari sebelum hari keberangkatanku ke Amerika yang telah ditentukan oleh Departemen Nasional adalah hari ulang tahunku. Senang bercampur sedih turut merayakan ulang tahunku. Tak kusangka ibuku memberikan kado terindah padaku. Sebuah novel karya Ahmad Fuadi yang berjudul negeri 5 menara. Meski usia novel itu sudah cukup usia, kuakui aku belum pernah membaca novel ini. Kini aku tahu, inilah alasan mengapa ibu giat bekerja. Segala jenis pekerjaan yang ditawarkan oleh orang-orang, ibu terima. Mungkin, ini alasannya. Ibuku ingin memberikanku kado spesial sebelum aku pergi dari rumah ini. Sungguh indah dunia saat itu bersama orang yang kusayang.
Hari yang telah ditentukan pun tiba. Dengan berat hati, aku beranjak meninggalkan rumah. Kakiku terasa berat untuk melangkah, meski ibuku telah ridha padaku. Hatiku gelisah kembali. Namun, aku tak ingin berlama-lama disini. Bukanku bermaksud egois, tapi aku tak kuasa melihat raut wajah ibu yang memendam begitu banyak tangis. Akhirnya kumantapkan hatiku. Dengan mengucap Assalamualaikum pada ibu dan Bismillah, aku pergi menuju Bandara  Soekarno-Hatta. Sesampainya disana, hatiku menjadi lebih gelisah. Aku ingin pulang ke rumah. Aku ingin bertemu ibu. Entah mengapa perasaan ini tiba-tiba saja muncul dalam benakku. Takdir tlah berbicara. Jadwal keberangkatanku diundur lima jam. Betapa bahagianya aku. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Namun, tanganku tidak menunjukan sebuah  gerakan untuk mengambil handphone dari dalam tasku. Kupaksa semua keadaan dengan berbagai cara. Tertulis di layar kaca handphoneku, Mba Rani. Dia adalah tetanggaku. Segera kuangkat dan penyesalanku kembali terulang. Air mata mulai turun dari kelopak mataku. Kuambil langkah sigap untuk kembali ke rumah. Untung jalanan tak dipenuhi oleh hiruk-pikuk kendaraan. Suara itu mulai terdengar dari rumahku. Dan apa yang kudapati ketika aku sampai disana? Sosok yang kusayangi tlah tiada, meninggalkanku sendiri. Serangan jantung mengusiknya ketika aku tlah pergi menuju bandara. Lantunan ayat-ayat Quran menghiasi suasana rumah hari itu. Ibu. Ya, itu ibuku. Teman baikku. Teman tempatku meluapkan segala emosiku. Temang tempatku mengadu akan hal bising yang menggangguku. Teman yang selalu ada setiap saat untukku. Teman yang.. isak tangis tak bisa kuhindari. Segera aku memeluk jasad ibu. Kuteteskan air mata disana. Pertanda apa ini Tuhan? Mengapa kau  berikan tragedi  yang sama padaku? Kenapa harus ibu? Kenapa bukan aku saja yang Kau ambil nyawanya? Kenapa harus dia Tuhan? Padahal, belum sempat aku bersimpuh memohon ampun dihadapannya. Belum sempat aku membuatnya tersenyuman manis karena kebahagiaan. Belum sempat aku membalas jasa ibu yang tak terhitung jumlahnya. Hatiku hancur saat itu juga. Kejadian ini melumpuhkan tubuhku. Cita-citaku bagai tak penting lagi untukku. Keajaiban datang dari Sang Ilahi. Cuaca buruk menyebabkan jadwal keberangkatanku diundur sampai esok hari. “Pertanda apalagi ini Tuhan?” pekikku dalam hati. Kulewati malam ini sendiri tanpa ada yang menemani. Hingga esok hari tiba, mataku masih bengkak efek menangis semalam. Keadaan memaksaku untuk tetap berangkat ke Amerika. Kukemasi semua barang-barangku dan barang-barang ibuku. Mungkin aku akan tinggal disana untuk selamanya. Percuma saja aku disini, keluargaku sudah tak ada. Saudara-saudaraku entah kemana.
Pukul 09.00 Waktu Indonesia Barat aku melangkahkan kaki menaiki pesawat dengan Bismillah. Dalam kedua tanganku, tergenggam sebuah novel dari Ibu. Kulihat sampul novel itu. Judul novel itu basah. Ya, tentunya karena air mataku. Segera kuhapus, dan kukumandangkan ayat-ayat Allah dalam batinku. Sesampainya aku disana, ketua redaksi novel ternama Amerika tlah menungguku disana. Dia bernama alex hirano. Sepasang bola mata berwarna colat kehitam-hitaman bertatapan dengan sepasang bola mata berwarna biru. Cukup lama adegan itu berlangsung. Hingga akhirnya suara mesin mobil lexus membuyarkan tatapan kami. Rupanya, suara mobil itu berasal dari supirnya alex yang mungkin telah menunggu cukup lama. Dia langsung mengantarku menuju salah satu rumah miliknya untuk kutinggali selama beberapa waktu. Kulalui hari-hariku di Amerika bersama alex. Tetes air mata turut mengiringi langkahku. Momen-momen indah di Indonesia selalu terekam dalam memori otakku. Keluargaku menjadi alasan kerinduanku kepada bumi pertiwi. Namun, keadaan tak mengizinkanku untuk kembali kesana. Teringat pesan ibu yang menjadi satu-satunya alasan untukku bertahan hidup. Walau badai menghadang langkahku, tak mampu getarkan batinku.
Satu tahun tlah berlalu. Hari ini tepat hari ulang tahunku yang entah keberapa. Kado terindah yang kudapat adalah aku sudah diizinkan untuk menulis sebuah novel. Betapa bahagianya aku. Haru-piru menemaniku. Dengan dibantu oleh Sang Ketua Redaksi, Alex Hirano aku curahkan segala isi hatiku diatas kertas buram. Kata demi kata kurangkai dengan indah. Kertas demi kertas tlah terisi oleh isi hatiku. Inilah novel fiksi pertamaku. Tentang aku, keluargaku, dan impianku. Tentang takdir yang mengantarkanku kepada jalanku. Dengan ditemani alunan melodi indah dari Alex, kubabat habis kertas demi kertas yang ada dihadapanku. Rupanya, selain ahli dibidang sastra, ia juga ahli dibidang musik. Saat itu, ia memainkan melodi lagu Adele – Someone Like You dan melodi Endah and Resha – When You Love Someone. Ternyata, dia tahu banyak tentang negaraku. Syukurlah, setidaknya negaraku tak begitu asing dimatanya.
Keesokan harinya ruang luas di atas bumi berubah menjadi indah. Cuaca hangat menyelimuti kota ini dengan penuh kebahagiaan. Perlahan-lahan temperatur udara pun semakin menurun disertai gugurnya dedaunan. Inilah musim terindah. Keeksotisan warna dedaunan yang menguning ditingkah coklatnya ranting pohon menjadi pelengkap musim ini. Benar-benar panorama luar biasa yang bisa kulihat dengan izin Ilahi. Inilah kebahagiaanku untuk ke sekian kalinya. Novel buatanku sudah siap untuk diterbitkan dan diedarkan ke seluruh penjuru dunia. Satu minggu bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu novel karyaku. Dan, ini saatnya. Ketika Alex menunjukan hasil karyaku, aku benar-benar bahagia. Aku terharu akan semua itu. Tak kusangka semua impianku terwujud. Tuhan mendengar doaku. Tuhan mengabulkan keinginanku. Ucapan syukur tak henti-hentinya kulantunkan. Kupandangi novel itu. Disitu tertera namaku, Desya Wijaya Clark. Air mataku membasahi tulisan namaku disampul novel itu. Tiba-tiba sentuhan lembut mengarah ke pipiku, menghapus semua tangis di wajahku. Siapa lagi kalau bukan Alex yang melakukannya.
“Novelmu bagus. Aku suka ceritamu. Benar-benar cerita fiksi.” ucapnya dalam Bahasa Inggris yang pekat.
“Terima kasih, tapi menurutku itu lebih mirip curahan hati. ujarku dengan logat Bahasa Inggris khas Indonesia.
“Tapi kehidupanmu membuat karyamu lebih hidup. Terkadang, apa yang kita fikir biasa saja bisa menjadi hal luar biasa untuk orang lain. Jujur, baru kali ini kurasakan ada hal berbeda dalam dirimu.” ujarnya masih menggunakan bahasa inggris.
“Berbeda? Maksudmu, aku aneh?” tanyaku tak mengerti.
“Entahlah.”
Satu jawaban singkat itu mengusik hatiku. Lagi-lagi gelisah yang kurasakan. Apakah pertanda bahwa akan terjadi hal buruk padanya? Sudahlah, tak ada gunanya aku memikirkan hal tadi. Segera aku beranjak untuk membersikan lemari baju ibu yang sudah lama tak tersentuh oleh tanganku. Dan apa yang kutemui? Baju berwarna hijau, dan disitu tertera namaku. “Untuk putri ibu yang tersayang. Kau pasti akan terlihat cantik jika memakai baju ini.”
Lagi-lagi aku teringat akan ibuku. Air mata lagi-lagi kuteteskan. Namun, seketika sentuhan lembut menghapusnya. Ternyata dia. Alex, yang sedari tadi berdiri di belakangku.
“Aku ingin melihat kau memakai baju itu esok saat peresmian novel barumu.”
“Tapi, ..?”
“Kutunggu besok.”
Belum sempat aku menyelesaikan pembicaraanku, dia sudah menyanggahnya terlebih dahulu. Ya sudahlah.
Keesokan harinya, aku benar-benar menuruti semua perkataan ibu dan alex. Semua mata memandang bak terpesona akan penampilanku. Entah apa yang mereka fikirkan tentang diriku. Seusai peresmian novel itu, aku bahagia. Sebab, novelku sudah layak diterbitkan ke seluruh penjuru dunia. Tiba-tiba terbesit dalam benakku untuk kembali ke tanah air untuk berziarah ke makam keluargaku. Setelah mendapatkan izin dari redaksi, akhirnya aku diperbolehkan hanya dalam waktu satu minggu. Lalu, aku meminta izin pada alex. Namun, apa yang dia katakan?
“Aku merasa berat hati untuk mengizinkanmu pulang ke Indonesia.”
“Aku hanya diberi waktu satu minggu. Aku janji aku akan kembali lagi kesini.”
“Entah apa katamu.”
“Lalu?”
“Aku tak ingin jauh darimu.”
Setelah berkata begitu, alex langsung pergi meninggalkanku sendiri bersama detakan jantung dan rasa tegang dihatiku.
Meski begitu, aku tetap kembali ke tanah airku. Setelah berziarah ke makam keluargaku, kulanjutkan hari-hariku dengan berjalan-jalan mengelilingi kota hujan. Tiba-tiba sepasang sepatu puma menghadang langkahku. Refleks kugerakkan bola mataku dan sosok pria bertubuh tinggi, putih, berbadan tegap, berambut hitam bercampur langit semi berdiri dihadapanku. Itu, dia alex.
“Sudah kubilang, aku tak ingin jauh darimu. Maka jangan tanyakan seputar kedatanganku.”
Sekejap aku terdiam. Seolah dia bisa membaca fikiranku.
“Antarkan aku ke tempat indah di negerimu.”
Aku hanya bisa pasrah menuruti kemauannya. Genggaman erat tangannya yang menarikku untuk segera mengantarkannya ke tempat yang ia minta membuat tubuhku serasa bergetar. Hentakan-hentakan rasa seakan tumbuh disana. Sekitar beberapa jam, kesunyian melanda kami berdua. Aku mengantarkannya ke sebuah tempat dimana tersimpan memori cerita indah antara aku dan keluargaku. Bukit pelangi. Disana, aku menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya. Bercanda ria bersamanya. Ditengah kebahagiaan, tiba-tiba kepalaku pusing. Keringat dingin melanda tubuhku. Dan seketika pandangan dihadapanku buyar akan kegelapan. Segera alex membawaku ke rumah sakit yang ia ketahui letaknya di kotaku. Rupanya penyakit maag ku kambuh kembali. Kali ini bukan maag biasa, tapi maag akut. Asam klorida dilambungku membuatku menginap di rumah sakit ini. Dengan ditemani alex, kulewati hari-hariku dengan masker dan selang di tubuhku.
Hari ini adalah hari terakhirku di bumi pertiwi yang ditentukan oleh redaksi novelku. Keajaiban datang dari Sang Ilahi. Aku membuka mataku dengan perasaan lega. Seolah-olah oprasi kemarin seperti tertidur lelap diatas lembutnya bed cover hijau milikku dulu. Raut wajah alex terlihat senang melihatku sudah terbangun dari mimpi burukku. Namun, kesedihan masih tergores disana. Segera kuubah raut wajahku untuk meyakinkan alex bahwa aku baik-baik saja. Pukul 15.00 Waktu Indonesia Barat aku meminta alex untuk menemaniku menatap langit sore.
“Kau tahu sesuatu tentang novelmu?” alex membuka pembicaraan.
“Kurasa tidak.”
“Ada seorang anak kecil di belahan bumi lain yang sangat terinspirasi dengan novelmu. Kebetulan, ia adlaah anak yatim piatu. Ia sangat kagum padamu. Sampai-sampai, ia mengirimkan surat kepada redaksi novel Amerika yang ditujukan padamu. Intinya, isi surat itu ia kagum terhadapmu dan bercita-cita ingin menjadi penulis novel.”
“Aku tak pernah menyangka bahwa orang lain diluar sana tersenyum karena novelku.”
“Bukan hanya mereka, tapi aku juga.”
Sebuah senyuman manis tersungging di bibirku untuknya. Namun, seketika hujan datang. Inilah yang kutunggu. Memandangi hujan disore hari. Ditengah air hujan dan dinginnya udara sore saat itu, membuat mereka bertatapan tanpa berkedip. Suara ribut air hujan yang jatuh di kain payung seakan berubah menjadi musik lembut yang indah. Butir-butir air seolah menjelma menjadi butiran salju lembut yang turun dari langit. Dan seketika takdir berbicara. Tubuhku terasa ringan ditengah ributnya suara air hujan. Perlahan nafasku terhenti, tubuhku terasa ringan dan mataku terpejam dengan sendirinya. Sempat terlantun ayat Quran dari bibirku. Tubuhku semakin tak berdaya. Remang-remang kulihat alex meneteskan air matanya untukku, mengantarkanku kembali kepada Sang Maha Pencipta.
Itulah secarik kertas kehidupanku. Roda kehidupan terus berputar tanpa henti. Berbahagialah kalian yang mendapat ujian dari Tuhan. Sebab dibalik kesusahan pasti ada kebahagiaan. Putus asa bukanlah pemecah setiap masalah yang ada. Kerja keras, impian, dan cita-cita adalah modal kita menggalang kesuksesan di masa depan. Jangan jadikan mereka sebagai hambatanmu untuk berkarya. Tak akan ada akhir bahagia tanpa tetesan air mata. Dan selalu ada sosok pengiring langkah disamping kita, keluarga terutama ibu kita. Dan akan selalu ada pelengkap langkah kita, yaitu cinta.

NB : makasih buat Ibu Helfy yang udah ngasi tugas ini, seengganya ini bisa membantu buat koleksi cerpen saya bu :D love you Bu Helfy, you are my everything :*

Rabu, 29 Februari 2012

Hasil Penelitian "Mengapa wanita sulit melupakan masa lalu"

VIVAnews - Pernahkah Anda merasa menyesal atas kegagalan hubungan di masa lalu? Penelitian Universitas Northwestern, Chicago, menunjukkan, wanita cenderung sibuk berpikir tentangpenyebab hancurnya hubungan usai patah hati.

Dalam penelitian yang dilakukan melalui survei terhadap 370 orang usia 19 hingga 103 tahun itubanyak wanita menyalahkan diri sendiri karena bersikap egois selama menjalin hubungan asmara.

Penelitian yang akan dipublikasikan di Jurnal Psychological & Personality Science itu menunjukkan, sebanyak 44 persen wanita mengaku pernah berbuat salah yang memicu hancurnya hubungan dengan mantan pasangan. Sedangkan pria hanya 20 persen yang merasa bersalah atas kegagalan hubungan.

Jean Hannah Edelstein, psikolog hubungan asmara, mengatakan, hasil penelitian itu menunjukkan bahwa wanita merasa lebih bertanggung jawab terhadap hubungan secara emosional"Wanita cenderung melibatkan perasaan untuk mengidentifikasi alasan di balik rusaknya suatu hubungan," ujarnya.

Wanita lebih cenderung rela menyalahkan diri sendiri atas masalah yang terjadi. Sedangkan pria cenderung memakai logika dalam menghadapi masalah. Hanya sedikit pria yang mengaku menyesal. Bahkan, banyak pria yang menganggap penyesalan justru sebagai sikap tidak 'jantan'.

"Menyesal terasa sangat buruk, tetapi perasaan menyesal adalah emosi yang dapat membantu. Rasakan dalam-dalam, lupakan dengan cepat dan maju dan gunakan untuk mendorong Anda mendapatkan perilaku baru yang akan membantu," kata Ketua Peneliti, Profesor Neal Roese.

Penyesalan cenderung terfokus pada keinginan untuk mengulang kembali hal yang telah terjadi, demi memperbaikinyaJangan biarkan rasa ini menguasai pikiran. Sebab, semakin lama fokus pada penyesalan, Anda akan kehilangan banyak kesempatan baik dalam hidup.

Penelitian tersebut memperkuat anggapan bahwa wanita senang meratapi dan merefleksikan kegagalan. Kondisi ini pula yang seringkali membuat wanita sulit lepas dari jeratan kisah di masa lalu.


Naah kalau sekarang kalian sudah tau jadi jangan pernah marah sama cewek kalian, karena itu merupakan subuah sifat bawaan secara biologis yang melekat pada diri seorang wanita, jadi sabar dan bantu cewek kalian untuk lepas dari masa lalu dia secara pelan-pelan. "Karena Cinta Itu Begitu Indah"

Mengapa wanita sulit melupakan masa lalu? Terutama untuk orang yang dia sayang (mantan pacar)

wanita cenderung sulit melupakan masa lalu karena mengedepankan perasaan, di banding pria yang lebih mengedepankan logika (visioner).

Karena ketika logika berjalan tanpa membawa perasaan, semuanya akan terasa biasa aja, tak ada yang berat di pikiran, tak ada beban dalam hati, dan tak pernah ada kebimbangan sedikitpun yang menumpang dan mengalir indah dalam keterbukaan (baca ikhlas)

Tapi memang begitulah kodrat wanita karena...
ini perasaan, bukan sekedar logika yang hanya melintas tanpa beban.
Ini perasaan, bukan sekedar logika yang berfikir tanpa alasan.
ini perasaan, bukan sekedar logika yang mudah diartikan.
ini perasaan, sulit di pahami dan tak dapat di bohongi.
ini perasaan, tak dapat di tanyakan ataupun di salahkan.


Posted by: Arza Wildan - Yahoo! Answer

Jumat, 10 Februari 2012

Flipbook


Minggu, 29 Januari 2012

Totally Free Cursors | Free Care Bear Star ani Cursors 

Totally Free Cursors | Free Care Bear Star ani Cursors

Minggu, 01 Januari 2012

Raisa - Serba Salah


Vidi Aldiano - Kisah Kita


Happy Annivarsary


Aulionism