Pages

Sabtu, 26 November 2011

Antologi Narasi Faktual



Melengok Keunikan di Pulau nan Gersang
(Nufaisa Azizah)
            Juli 2010.
Pagi yang cerah. Alunan suara burung terdengar merdu menghiasi telingaku membangunkanku dari tidurku yang lelap. Kulihat langit meneteskan air matanya di atas bumi nan indah ini. Desahan angin bersama hembusan udara dingin menerpa alam membuat dunia malas melakukan aktivitsnya. Namun, tidak untukku. Aku tak mau melewatkan kegiatan paling menarik hari ini, yaitu berkunjung ke Pulau Garam atau lebih dikenal dengan sebutan Pulau Madura. Pulau dengan tanah pesisir yang gersang belaka. Aku akan melewati Jembatan Suramadu untuk sampai kesana. Tak dapat aku bayangkan bagaimana perasaanku ketika akan melewati jembatan itu. Jembatan yang dibangun di atas laut. Aku tak ingin banyak berkhayal, lebih baik aku bersiap-siap untuk pergi kesana.
            Berbicara mengenai Pulau Madura, mungkin tidak banyak orang mengenal tentang Pulau tersebut. Pulau Madura merupakan sebuah pulau di timur Pulau Jawa yang masih termasuk ke dalam wilayah Provinsi Jawa Timur. Masyarakatnya disebut juga orang Madura atau suku Madura. Pulau Madura terkenal dengan wisata pantai, sejarah, dan makanannya. Siapa yang tidak tahu sate khas Madura, batik Madura, karapan sapi Madura dan banyak lagi hal menarik yang berbau Madura. Itulah sebabnya, mengapa aku dan keluaragaku memutuskan untuk pergi kesana.
            Tepat pukul 7.00 WIB, kami berangkat meninggalkan Kota Bogor yang penuh dengan tetesan air mata dari langit untuk beberapa hari. Meskipun cuaca tak mendukung tidak jadi masalah. Kami tetap pergi kesana. Kami memutuskan untuk pergi kesana dengan melalui tol cikunir ke arah Bandung. Sengaja, karena kami ingin melihat panorama indah Bandung.

            Sekitar pukul 11.00 WIB perutku sudah mulai berkicau, memainkan untaian melodi tak bernada. Akhirnya, kami berhenti di sebuah restoran Katineung Rasa. Jl.Raya Padalarang No.496 di daerah Padalarang. Tak ku sangka makanan tradisional daerah tersebut sangat kental dengan aroma pedas dan khas daun kemangi, namun tetap lezat. Penyajiannya menggunakan sajian khas Sunda dengan diiringi alunan musik gamelan tatar Sunda.

Setelah selesai menikmati makanan khas Sunda dengan aroma pedasnya, tak lupa kami memanjatkan doa, bersyukur kepada Sang Maha Pencipta atas nikmatnya yang telah Dia berikan pada kami hari ini. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Satu hal yang menjadi kebiasaanku ketika bepergian jarak jauh adalah aku senang mencatat hal-hal menarik yang aku temui di sepanjang jalan, tak lupa juga aku senang memotret gambar-gambar yang menurutku aneh dan unik untuk aku jadikan album di galeri perjalananku mengelilingi Negara tercinta yaitu Negara Indonesia.
Hari sudah mulai panas. Alam mulai mengeluarkan sinar-sinar kehangatannya menghangatkan dunia yang penuh dengan kesedihan dan mencairkan tetesan-tetesan air di atas dedaunan. Kini, aku memasuki jalanan yang penuh dengan deretan mobil panjang yang antre layaknya antre membeli tiket Sea Games 2011. Ini merupakan hal yang kurang aku sukai. Polusi terjadi dimana-mana. Bunyi klakson saling bersahut-sahutan menyelinap di telingaku. Akhirnya, aku putuskan untuk berlelah sejenak di atas sandaran mobil sambil menikamati alunan melodi indah.
Keesokan harinya
Suara bising itu membangunkanku dari tidurku yang lelap. Tak bisa kuhitung berapa jam aku tidur. Meskipun badanku terasa pegal namun aku tetap semangat. Kulihat jam tangan yang menempel di tangan kiriku menunjukan pukul 5.00 WIB. Aku terkejut. Ini pengalaman sekaligus pengetahuan baru bagiku. Ternyata masyarakat di daerah ini pada pukul 5 pagi sudah terbangun dari mimpi indah mereka dan memulai aktivitas rutin mereka. Hal ini jelas berbeda dari pemikiranku. Dan aku pun baru menyadari perjalananku baru sampai di Kota Surabaya. Wow, rajin sekali masyarakat Surabaya ini!.
Ku buang jauh-jauh pertanyaan tadi dalam benakku. Ku fikirkan satu pertanyaan lain yang terbesit dalam benakku yaitu butuh waktu berapa jam lagi untuk sampai ke Pulau Madura. Awalnya, aku ingin menanyakan hal itu pada Ayahku. Namun, kuurungkan niatku, sebab aku ingin perjalananku ini benar-benar menjadi hal baru bagiku.
Tiga jam telah berlalu. Hal yang paling kunantikan sudah nampak di depan mata. Ya, apalagi kalau bukan Jembatan Suramadu. Segera aku keluarkan kamera dari dalam tas untuk memotret panorama indah alam sekitar. Aku seperti berjalan di atas laut. Aku melihat hewan-hewan laut dan kebetulan yang nampak pada saat itu adalah ubur-ubur berwarna coklat yang tampak seperti jel. Tak terasa Jembatan Suramadu yang panjangnya 5438 meter bisa dilalui hanya dengan waktu 10 menit. Wow!.
Kini tibalah di penghujung jembatan. Rasanya belum puas. Aku seperti ingin mondar-mandir di Jembatan Suramadu. Waktu menunjukan pukul 8.10 WIB, saatnya berkeliling Pulau Madura dan mencari tempat penginapan. Kami memutuskan untuk mencari tempat penginapan di Kota Pamekasan, salah satu kota yang terletak di paling ujung Pulau Madura dengan ciri makanan sate yang khas.
Pertama, kami melewati Kota Bangkalan yang khas dengan bau pasar tradisional. Satu hal yang unik, yaitu para penjual pasar yang memakai baju yang dipadukan dengan selendang layaknya baju adat India. Setelah itu, kami berjumpa dengan Daerah Tanah Merah. Ada satu hal yang paling tidak bisa dilewatkan ketika berjumpa dengan daerah ini, yaitu Api tak Kunjung Padam biasa disebut dengan jangka, terletak di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan yang berjarak 4 kilometer dari pusat kota. Setelah merasa puas, kami melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan Kota Sampang. Tak ada hal yang menarik di Kota ini, hanya saja kota ini terlihat bersih dan tertata dengan rapi. Terakhir, kami menuju ke Kota Pamekasan. Kami berhenti di sebuah tempat penginapan bernama Madura Indah Hotel yang beralamat di Jalan Jokotole 4-C Pamekasan. Satu hari cukup untuk kami melepaskan semua penat kami.
Hari ke-4, kami berjalan menusuri seluk-beluk Pulau Madura. Pertama, kami pergi ke Monumen Are’ Lancor yang terletak di jantung Kota Pamekasan di depan Masjid Agung Asyuhada’ dan dikelilingi jalan yang berbentuk melingkar lafadz Allah. Monumen ini merupakan monumen kepahlawanan Rakyat Madura dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Indonesia.
Lalu, kami pergi melihat tradisi budaya Suku Madura yaitu Kerapan Sapi dan Sapi Sonok yang terletak di Kabupaten Pamekasan, tepatnya di Desa Waru Barat, Kecamatan Waru ^34 kilometer arah utara dari Kota Pamekasan. Kerapan Sapi merupakan tradisi khas budaya Madura yang digelar setelah panen raya sebagai wujud rasa gembira atas keberhasilan yang telah diraih. Sedangkan Sapi Sonok merupakan kontes pasangan sapi betina yang terdiri dari jenis ras Madura dengan criteria penilaian: kecantikan, penampilan, dan kekompakan dalam berlaga di arena kontes. Sambil melihat pertunjukan tersebut, kami mencicipi sate khas Madura yang kental dengan aroma rempah-rempah dan proses pembuatan sate ini dilakukan secara manual serta alat untuk membakar sate ini menggunakan arang.
Selanjutnya, kami pergi Gerai Batik Tresna Art untuk membeli kain khas Madura dan Letupan Madura atau batik tradisional khas Madura. Yang khas dari batik Madura adalah batik ini tak mengenal cap, semuanya melalui proses manual. Warna batik Madura sangat mencolok dan meletup-letup. Terakhir, kami pergi ke pasar cendet untuk membeli burung trotolan cendet. Burung khas Madura yang berukuran kecil dan terancam punah. Banyak orang tidak mengetahui keberadaan burung ini. Burung ini bagian dadanya berwarna putih dan bagian sayapnya berwarna coklat muda dengan garis-garis hitam.
Itulah catatan perjalananku berkunjung ke Pulau Madura. Tanpa kita sadari banyak sekali daerah di Indonesia yang mempunyai corak budaya yang sangat beragam serta hal-hal unik yang terselip di dalamnya. Meskipun rasa lelah menghampiri tubuhku namun hal itu tak akan cukup untuk menyaingi kegembiraanku.

Sabtu, 19 November 2011

I am What I am Slideshow Slideshow

I am What I am Slideshow Slideshow: TripAdvisor™ TripWow ★ I am What I am Slideshow Slideshow ★ to Indonesia. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor

Sabtu, 12 November 2011

Editing