skip to main |
skip to sidebar
Pages
Sabtu, 31 Desember 2011
Rabu, 21 Desember 2011
Matahari Terakhir
Pagi yang cerah telah mencairkan
suasana dingin semalam. Matahari tersenyum diatas langit sebelah timur seraya
menatap indah warna-warni kehidupan dunia. Daun-daun kering yang berjatuhan
dari tangkainya seraya menambahkan aroma sejuk nan indah dipandang mata
seolah-olah sedang berada di tengah musim gugur. Kegembiraan hati turut
menyelimuti pagi ini.
Hari pertama aku kuliah setelah 2
semester telah aku lahap habis-habisan. Akan kuceritakan bagaimana aku melahap
2 semester yang begitu berarti untukku dan kenangan manisku.
Saat pertama masuk kuliah di UNPAD
aku masih merasa malu. Aku memang orang yang pendiam, tak banyak bicara. Bicara
hanya seperlunya saja. Jika tidak ada hal yang penting, aku lebih memilih untuk
diam. Menurutku diam lebih baik daripada harus berbicara panjang x lebar x
tinggi yang tak ada gunanya.
Saat itu aku sedang duduk di kantin
bersama ketiga sahabatku, sahabat sejati sejak SMA dulu. Ya, mereka adalah Fio,
Eza, dan Adi. Sambil menikmati semangkuk bubur ayam, tiba-tiba sesosok lelaki
datang menghampiriku dan teman-temanku. Fio tercengang. Tapi, aku tidak
memperdulikan hal itu. Biasanya jika Fio tercengang pasti dia sedang melihat
lelaki tampan yang menurut dia itu keren. cool, maco, tinggi, putih, jantan,
dan lain-lain yang merupakan tipe lelaki idamannya. Fio tetap tercengang, aku
jadi penasaran.
Sambil meminum segelas jus mangga
dengan sedotan, aku memutar badanku untuk melihat hal apa yang membuat Fio
tercengang. Tak sengaja, jus mangga yang aku minum mengenai baju seorang lelaki
yang tengah berdiri di sampingku dan ternyata dugaanku benar! Lelaki itu
membuat Fio tercengang.
“Aduh maaf ya, aku ga sengaja”
ujarku dengan penuh hati-hati karena sepertinya lelaki ini orang yang dingin
dan cuek.
“Oh iya gapapa kok. Kamu ada tisu
ga?” jawabnya dengan penuh senyum hangat tersungging di bibirnya membuat
siapapun yang melihat senyum itu menjadi terpesona dan terbuai dalam alam bawah
sadar mereka.
“Ada nih (sambil mengulurkan dua
lembar tisu) perlu aku bantu?” tanyaku.
“Gausah kok, aku bisa sendiri”
jawabnya
“Lo beneran gapapa Ka?” tanya Eza.
“Iya gua gapapa kok. Jadi ga nih
tanding basket entar?” Tanya Eka sambil mengusap-usap bajunya dengan tisu.
“Sory gua gabisa. Gua udah janji mau
pergi sama Dinar buat ngerjain tugas makalah” ujar Eza dengan suara lirih.
“Oh gitu. Oke gapapa kok, masih ada
waktu lain” ujarnya.
“Oh iya gua lupa kan jadinya. Nih
kenalin! Ini Dinar, cewe yang ga sengaja numpahin jus
mangga ke baju lo (sambil tertawa pelan
dan memperkenalkan Dinar)”
“Eka” langsung buru-buru mengulurkan
tangannya untuk berkenalan dengan Dinar.
“Dinar. Sory ya tadi ga sengaja” ujar
Dinar menyambut uluran tangan Eka.
“Iya gapapa kok” ujar Eka sambil menepuk
bahu sebelah kanan Dinar.
“Nah yang ini Fio” ujar Eza
memperkenalkan namun Fio masih tetap tercengang.
“Fi, Fi, Fio. Eh sadar!” ujar Dinar
menyadarkan Fio dari mimpi indahnya.
“Hh (tertawa cengengesan). Eh hai! Gua
Fio!” ujarnya.
“Eka” ujar Eka.
“Dan yang ini lo pasti udah tau kan. Ini
Adi!” ujar Eza.
“Yaiyalah gua tau, orang rumahnya
sebelahan sama rumah gua! Haha. Boleh gabung kan?”
“Boleh kok” jawab Fio dengan semangat
45.
Keheningan tercipta diantara mereka berlima.
Tiba-tiba..
“Oiya kita mau ngerjain kapan nih
makalah?” ujar Eza memecah keheningan.
“Dinar?” ujarnya lagi karena lawan
bicara yang dia tuju tidak merespon.
“Hh iya?” jawab Dinar.
“Kita mau ngerjain kapan makalah?
Makanya jangan sibuk sama hp aja lo!” ujarnya.
“Oh makalah, yaudah sekarang aja yuk?”
ajak Dinar.
“Oke. Lo tunggu sini ya! Gua ambil motor
dulu!” ujar Eza.
Tapi, seketika langkahnya terhenti.
“Yaampun Nar, gua lupa! Hari ini gua mau
nganterin nyokap gua buat check up ke dokter,
gimana dong?” tanyanya panic.
“Yaudah gapapa biar gua yang kerjain
sendiri, lagian tinggal kesimpulannya aja kan yang
belum?”
“Iya sih, ga ngerepotin elo nih?”
“Ngga kok, tenang aja. Udah sana anterin
nyokap lo!”
“Iya iya. Gua pergi dulu ya!”
Keheningan tercipta kembali, entah
karena mereka belum terlalu kenal dekat dengan Eka atau mereka bingung harus
membahas topik apa. Tiba-tiba terdengar suara yang bersemangat dari Fio yang
mampu memecah keheningan diantara mereka.
“Oiya ka, lo udah punya cewe belom?”
ujar Fio.
Tak diduga tak disangka bahwa Fio
akan bertanya hal seperti itu pada Eka.
“Belom kok, gua lagi nyari siapa
yang pantes jadi cewe gua! Emang kenapa? Lo mau daftar?”
Mendengar perkataan Eka tadi, Dinar
dan Adi hanya tertawa geli.
“Hah? Pede banget lo! Gua kan cuma
nanya!” ujar Fio dengan nada agak sedikit kesal namun terselip senyum lega di
bibirnya karena Eka belum mempunyai pasangan.
“Tapi, gua udah punya calon!” ucap
Eka.
“Siapa ka? Cepet amat lo dapetnya?”
ujar Adi.
“Iya ka, siapa? Siapa? Siapa? Siapa?
Ayo dong cerita!” ujar Fio penasaran.
Adi dan Fio terus memaksa Eka dengan
pertanyaan yang sama. Hanya Dinar yang masih diam dan asik dengan handphonenya.
“Kamu kok diem aja? Daritadi aku
perhatiin kamu asik sama hp kamu, lagi smsan sama cowonya ya?” ucap Eka tanpa
memperdulikan pertanyaan Adi dan Fio.
“Kayaknya gua tau nih siapa calon yang
lo maksud” ujar Adi.
“Siapa Di?” jawab Fio.
“Siapa lagi kalo bukan Dinar! Dia kan
diem-diem gitu banyak yang naksir. Cuma dianya aja
yang gamau buka hatinya buat orang lain,
iya kan?” Adi menjelaskan.
“Iya itu karna dia tuh taat banget sama
orang tuanya” tambah Fio.
Sementara Eka dan Dinar asyik bercanda.
Baru kali ini Dinar merasakan sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Begitu
pun dengan Eka.
“Ehem! Kayaknya gua tau calon cewe lo
siapa Ka! Tenang aja Dinar belum punya cowo kok,
jadi lo bebas deketin dia! Apa lo mau
tau rumahnya? Tenang, tenang gua tau kok. Asalkan ada
ongkos pegel aja” celoteh Adi.
“Apa lo mau tau semua tentang Dinar? Itu
gampang ada gua! Gua sahabat baiknya Dinar kok,
gua tau bener siapa Dinar. Jadi gimana?
Lo pilih alternatif gua atau Adi? Kalo gua sih cukup lo
beliin tiket konser SNSD Korea aja hehe”
celoteh Fio.
Dinar dan Eka hanya diam. Dinar tau
sebenarnya Fio menyukai Eka. Tapi, Fio justru ingin Dinar bahagia. Ia ingin
sahabatnya itu merasakan apa arti cinta setelah sekian lama ia mengubur rasa
itu jauh-jauh di lubuk hatinya. Usaha Fio dan Adi tidak sia-sia. Mereka
berhasil membuat Dinar dan Eka berpacaran. Fio merasa bahagia sekali melihat
sahabatnya itu! Namur, Dinar tetap merasa tidak enak hati pada sahabatnya itu.
Ia tau bahwa Fio sangat kagum pada Eka. Namun, Fio mencoba menjaga perasaannya.
Tak diduga tak disangka, lambat laun Fio berpacaran dengan Adi. Ternyata benar
ya sahabat bisa jadi cinta.
Dua taun sudah Eka dan Dinar menjalani
hubungannya. Namun,ada satu hal yang perlu Dinar ketaui.
“Nar, sini deh! Gua mau ngomong sama lo!”
ujar Fio sambil menarik tangan Dinar ke arah taman.
“Ada apa sih Fi?” Tanya Dinar.
“Pokoknya lo harus putusin Eka sekarang!
Sebelum semuanya terlambat!” dengan semangat 45 Fio menjelaskan.
“Apa apaan sih Fi? Maksud lo apa? Kenapa
gua harus mutusin dia? Dia kan ga salah” jawab Dinar dengan lirih.
“Aduh Dinar, lo percaya aja sama gua!
Ini semua demi kebaikan lo! Sini deh hp lo biar gua yang sms Eka dan bilang
kalo lo mau putus!” ujar Fio sambil mengambil hp Dinar dari tangannya.
“Gua tau kenapa gua harus mutusin Eka.
Karna lo kan? Lo
suka kan sama Eka dan karna lo ga terima
gua pacaran sama Eka sekarang lo minta gua putusin
dia kan? Iya kan Fi? Udah deh lo ngaku
aja!” ujar Dinar dengan wajah kesal.
“Bukan
gitu Nar. Ini semua gua lakuin karna barusan anak-anak kampus lagi pada
ngegosipin elo sama Eka dan gua denger kalo semenjak semester 2 Eka pacaran
sama Dina. Dia selingkuh! Makanya gua ga mau lo terlalu lama ditipu sama Eka!
Gua juga ga nyangka kalo Eka itu playboy! Maaf Nar gua bentak-bentak lo, abis
gua gatau gimana cara ngejelasin ke lo tadi. Dan sms putus itu udah gua kirim.
Maaf Nar, kalo tindakan gua ini bikin lo sakit hati. Tapi sebagai sahabat lo
dari SMA gua ga tega liat sahabat gua disakitin sama cowo playboy kayak Eka.
Maafin gua Nar! Sekarang lo boleh tampar gua, lo boleh marah sama gua, lo boleh
caci maki gua! Ayo Nar! Tapi gua cuma minta satu hal. Lo jangan terlalu larut
dalam kesedihan lo itu Nar! Lo gaboleh nangisin dia!” ujar Fio panjang lebar.
Dinar
hanya meneteskan air mata tak henti-henti. Seketika tubuhnya membeku.
Keheningan
tercipta
diantara mereka. Hanya isak tangis Dinar yang berkumandang dan menyelimuti
keheningan mereka. Tiba-tiba handphone Dinar berbunyi. SMS dari Eka.
“Nar,
dibales sama Eka. [kamu mau putus? Oke. Semoga kamu dapet yang lebih baik ya.
jangan sedih sayang] (Fio sambil membacakan sms dari Eka). Dinar lo gapapa
kan?” tanya Fio.
Tanpa
bersuara lagi, Dinar langsung mengambil handphonenya dan pergi meninggalkan Fio
sendiri.
Sementara Fio hanya memandangi tubuh Dinar yang lama-kelamaan menjauh dari
pandangan matanya.
“Gua
tau lo sedih Nar. Gua tau bukan hal yang mudah buat lo ngelupain setiap detik
kejadian yang pernah terjadi di hidup lo. Gua tau itu Nar. Tapi ini kenyataan.”
ujar Fio dengan wajah sedih.
Dinar
terus berjalan dengan langkah kaki seribu untuk pergi ke taman tempat dia dulu
memulai
hubungannya
dengan Eka. Namun, langkahnya menabrak dua sosok perempuan yang terkenal
sebagai tukang pengobat patah hati.
“Lo punya mata kan?” ujar Angela.
Tanpa menjawab pertanyaan, Dinar
langsung pergi. Namun, Angela buru-buru menarik lengannya.
“Pantesan aja Eka ga betah pacaran
sama lo! Sampe-sampe dia selingkuh sama Dina. Gua tau
sih Dina yatim piatu, dia cuma punya
usaha warung kecil di rumahnya. Tapi seenggaknya dia
ga dingin kayak lo! Dia asyik anaknya!
Friendly! Ga kayak lo!” maki Angeli.
“Udah ngomongnya?” tanya Dinar.
“Eh .. lo tuh y..”
Seketika Angela menutup mulut Angeli.
“Eh Nar, lo jangan nangis dong! Sory deh
ya tadi kembaran gua si Angeli emang gitu orangnya! Udah mana suaranya cempreng bawel lagi, udah gausah di dengerin ya
cantik. Hehe” hibur
Angela.
Angeli yang melihat hal itu merasa
janggal. Tidak biasanya Angela bersikap lembut seperti tadi.
“Lo butuh bantuan kita?” tanya Angela.
“Kita?” ujar Angeli.
“Udah deh lo diem aja!” ketus Angela.
“Sory
gua harus pergi. Makasih atas tawaran lo!” ujar Dinar yang langsung pergi
meninggalkan mereka berdua.
“Lo
ngapain sih tadi? Emangnya lo yakin dia bakal minta bantuan kita? Ogah amat gua
harus bantuin cewe dingin kayak dia! Idih!” celoteh Angeli.
“Udah
deh Li, lo diem aja! Gua yakin pasti besok dia dateng ke kita! Cewe kayak dia
tuh gampang ditebak. Lumayan kan hasilnya bisa buat kita shopping” Angela
menjelaskan.
“Maksud
lo? Lo mau minta imbalan gitu? Emang dia bakal ngasi? Tapi kok ke yang lain lo
ga minta imbalan?” tanya Angela.
“Yaiyalah,
karna yang lain tuh biasa-biasa aja. Sedangkan Dinar! Dia tajir! Gua yakin, dia
bakal ngasi apa yang kita mau, ya ga?” ujar Angela.
“Gua
harap sih gitu” jawab Angeli.
Keesokan
harinya.
“Dinar!”
Langkah
Dinar terhenti. Sebelum dia menoleh siapa yang memanggilnya, dalam hati ia
berharap
suara itu berasal dari Eka. Tapi takdir berkata lain.
“Dinar,
ini gua Eza. Lo kenapa? Mata lo kok bengkak? Lo abis nangis ya? Lo putus sama
Eka? Dinar! Jawab pertanyaan gua!” perintah Eza.
Namun
Dinar tak menghiraukannya, seketika air matanya menetes mengalir lembut di
pipinya.
“Bukan urusan lo, Za!” jawab Dinar
seraya pergi meninggalkan Eza.
“Gua tau lo sedih Nar, tapi sayang
gua bukan orang yang bisa bikin hati lo seneng, cuma Eka
yang bisa.” ujar Eza dengan nada penyesalan.
Dinar pergi mencari-cari Angela dan
Angeli. Akhirnya ia menemukan mereka di ruang pendopo.
“Sory gua ganggu”
Angela dan Angeli yang sedang asyik
berdandan, tiba-tiba kaget mendengar suara itu.
“Kenapa lo Nar? Mata lo kok bengkak?”
tanya Angeli.
“Gua terima bantuan kalian kemaren”
“Serius lo” tanya Angela sambil melotot.
Angela langsung mengambil secarik kertas
dari dalam tas nya dan menuliskan sesuatu di kertas itu.
“Ini nomer rekening gua! Gua cumu butuh
lima juta buat DP.”
“Maksud lo?” tanya Dinar heran.
“Di dunia ini gaada yang gratis!” ujar
Angeli.
“Tapi, tapi ini lima juta! Buat apa uang
sebanyak itu!” tanya Dinar.
“Ya buat apa kek, terserah kita dong!”
ujar Angela dan Angeli.
“Nih, gua ga mau cape-cape transfer pake
rekening. Gua kasi cashnya aja deh!”
“Nah itu lebih baik!” ujar Angela.
“Oke lo ikut kami sekarang!” ujar
Angeli.
Lalu mereka bertiga pergi ke suatu
tempat dimana Dinar bisa menyaksikan hal yang selama ini belum pernah ia
saksikan. Ya, kembar itu mengajak Dinar ke rumah Dina. Dimana disana terdapat
Dina sedang asik pacaran dengan Eka sambil menikmati segelas teh. Dinar yang
melihat hal itu langsung buru-buru ingin pergi.
“Lo ga boleh kemana-mana!”
“Jadi lo ngajak gua kesini buat”
“Buat ngebakar rumah Dina!”
“Apa?”
“Iya! Kenapa? Lo takut?”
“Tapi gua”
“Udah deh lo diem aja! Biar gua sama
Angeli yang bakar! Lo cukup berdiri disini, nontonin
peristiwa paling tragis, ngerti? Dan gua
yakin habis ini pasti Eka mutusin Dina. Mana mungkin
dia mau pacaran sama cewe miskin kayak
gitu! Haha!”
Kurang dari 10 menit, mereka kembali
menemui Dinar dalam keadaan selamat.
“Cabut yuk! Tugas kita udah beres! Oiya
Nar thanks ya duitnya! Lo mau ikut kita ga?”
“Kemana?”
“Ke tempat yang bisa bikin lo lupa sama
Eka!”
---
“Ini tempat apa?”
“Ini rumah gua! Udah deh pokoknya lo
bakal aman tenang damai tentram sejahtera bahagia”
Mereka pun masuk ke dalam rumah Angela.
Dinar kaget. Rumah itu sangat rapi dan tertata dengan baik oleh deretan minuman
keras yang ada di setiap sudut rumah itu. Semerbak bau alkohol menyelimuti
setiap hembusan nafas di dalam rumah itu.
“Ini maksudnya apa?” tanya Dinar, tapi
tak ada satu pun yang menjawab.
Sambil menyalakan televisi, Angela dan
Angeli meneguk minuman keras itu dalam hitungan gelas.
“Cobain deh Nar!”
“Ngga ah!”
“Ayo lah! Setengah gelas aja”
Karena dipaksa akhirnya Dinar mau
mengikuti instruksi tersebut. Dengan kondisi yang lemah, beban hati yang sakit,
luka yang dalam, wajah yang pucat akhirnya Dinar meminum minuman itu. Awalnya
hanya setengah gelas tapi lambat laun jadi satu gelas, dua gelas, tiga gelas,
empat gelas, sepuluh gelas, hingga tak terhitung lagi.
Malam telah tiba. Dinar tersadar dari
mimpi indahnya. Ia sadar kalau ia masih berada di rumah Angela.
“Lo mau gua anterin pulang?”
“Gausah gua naik taksi aja”
“Oke. See you tomorrow sweety. Kalau lo
kurang lo dateng kesini aja, kita siapa ada buat lo ga
kayak tiga sahabat lo itu yang
menghilang tanpa jejak”
Dinar langsung pergi dari rumah Angela.
Meskipun ia tadi tidak menghiraukan
perkataan terakhir Angela, tapi ia mencerna dengan baik setiap kata yang
terucap dari bibir Angela.
Sesampainya di rumah.
“Sayang,
kamu baru pulang? Oiya mamah lupa, mulai sekarang kamu ga akan sendirian lagi.
Nih, kenalin Dina! Kakak kamu! Dia anak Kakak Ayah kamu! Barusan dia baru
mendapat musibah, rumahnya kebakaran!”
“Iya Nar, maaf ya Ayah baru cerita sama
kamu!”
“Dan ini pacarnya Dina, Eka”
Seketika tubuh Dinar membeku di ambang
pintu. Ia ingin sekali berteriak, namun tak berdaya! Ia hanya menatap wajah di
sekitarnya bergantian lalu pergi menuju kamar. Di kamarnya ia menangis dan Eka
yang tak sengaja lewat depan kamar Dinar mendengar suara tangisan itu. Namun,
ia hanya mendesah.
Keesokan harinya.
Dinar yang menuruni anak tangga dengan
wajah yang masih pucat dikagetkan oleh satu momen di meja makan dimana Dina
menduduki kursi tempat ia makan. Dan di meja makan itu hanya terdapat tiga
kursi. Lalu dimana kursi untuknya? Dimana dia akan mengisi tenaganya bersama
orang yang mempunyai tali darah dengannya? Dimana? Apakah tempat itu telah
tergantikan?
Dinar hanya diam di tangga. Terlihat
jelas di depannya bahwa kedua orang tuanya sedang memanjakan Dina layaknya anak
kecil. Perhatian yang mereka berikan, kasih sayang, tulus cinta kini bukanlah untuk
Dinar melainkan untuk Dina.
Seketika Dinar langsung pergi tanpa
memperdulikan hal tadi meskipun batinnya kini terasa sakit. Ia pergi ke rumah
Angela bukan ke kampus untuk kuliah. Di rumah Angela ia menceritakan semua hal
yang telah ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri semalam dan pagi tadi.
Namun jawaban dari semua keluhan Dinar
itu adalah minuman keras bergelas-gelas. Hampir tiap hari Dinar dan si kembar
melakukan hal yang sama. Prestasi Dinar yang telah susah payah ia ukir sejak
SMP kini terbang bebas melayang di udara. Hobi yang dulu ia tekuni kini
terkubur dalam lautang sumur. Angan-angan, mimpi, cita-cita yang cerah sehangat
mentari di pagi hari kini berubah menjadi lautan hitam tanpa ada cahaya sedikit
pun.
Puncak kemarahan Dinar tiba saat ia
mengetahui bahwa orang tuanya menyetujui hubungan Dina dengan Eka. Didatanginya
Dina yang telah selesai menelfon orang tua Dinar yang kini menonton TV di ruang
tamu. Ditamparnya Dina, dan..
“Hei, maksud lo apa nampar gue?”
“Selamet ya lo udah berhasil ngancurin
kehidupan gua?”
“Eka
maksud lo? Itu sih salah lo nya aja yang terlalu cuek sama Eka, makanya dia
berpaling ke gue!”
Dinar
diam.
“Kenapa
lo diem? Lo cuma berani di fisik? Ga berani lo adu mulut sama gue? Apa perlu
gue cakar-cakar dulu mulut lo baru lo bisa ngelawan gue? Apa perlu gue kasih
tau orang tua lo?”
“Cukup!
Lo ga tau penderitaan gua apa! Lo masuk ke dalam kehidupan gua, terus lo rebut
semua yang gua punya mulai dari Eka, Fio, Adi, Eza, dan sekarang lo rebut kasih
sayang orang tua gua! Lo rebut semua yang gua miliki tanpa lo sisain sedikit
pun buat gua hidup! Lo ambil kehidupan yang gua miliki! Sekarang gua mau tanya
sama lo, apa hati lo ga sakit jika ngeliat orang yang lo sayang tiba-tiba
direbut semuanya sama seseorang yang selama ini ga pernah lo kenal sama sekali
dan ga pernah deket sama lo. Apa hati lo ga sakit?”
Kali
ini Dina diam.
Tanpa
pikir panjang, Dinar langsung pergi meninggalkan Dina dan menuju rumah Angela.
Sebelum
itu, ia bertemu dengan ketiga sahabatnya yang hendak menuju rumahnya. Namun, ia
tau. Sahabatnya bukan ingin bertemu dengannya melainkan ingin bertemu dengan
Dina. Melihat Dinar pergi sambil meneteskan air mata, ketiga sahabatnya itu
mengikutinya dari belakang.
Di rumah Angela, ia mencurahkan
amarahnya lewat minuman keras.
“Nar, lo udah terlalu banyak minum”
ujar Angeli lirih.
Tapi Dinar hanya diam dan terus
meneguk gelas yang penuh dengan alkohol itu.
“Eh Dinar! Lo denger ga sih tadi Eli
ngomong apa? Budek ya lo?”
Dinar terdiam lagi. Karena tak takan
melihat tingkah Dinar, akhirnya Angela menepis gelas yang berisi minuman keras
itu yang hendak diminum oleh Dinar dan akhirnya gelas itu pecah. Kepingan
pecahan itu mengenai jari lentik Dinar dan meneteskan darah.
Eza yang tak tahan melihat hal itu
yang sedari tadi mengintip dari jendela depan rumah Angela masuk ke dalam
rumahnya, diikuti oleh Fio dan Adi.
“Apa-apaan lo La?”
Angela kaget, begitu pun Angeli.
“Ngapain Lo disini?”
“Kita ngikutin Dinar tadi, dna
akhirnya kita nemuin jawaban kenapa Dinar sering bolos. Dan ini
semua karna kalian!”
“Eh apa-apaan lo nyalahin kita?”
“Asal lo tau ya! Dia sendiri yang dateng
ke kita buat minta bantuan, ya gua sih”
Kalimat itu terhenti setelah ia melihat
Dina masuk ke dalam rumahnya.
“Ada apa ini?”
“Nah, ini nih! Dinar kayak gini karna
lo!”
“Oiya gua juga punya satu informasi yang
bisa bikin kalian tercengang netesin air liur kalian!
Haha. Asal lo tau ya Na, orang yang
ngebakar rumah sama warung lo itu adalah DINAR!
(sambil menunjuk ke arah Dinar).
Namun, orang yang ditunjuk itu malah tak
sadarkan diri karena saking banyaknya darah yang menetes dari jari jemarinya.
Semua kaget. Seketika Eza langsung menelfon ambulance dan mengabari hal itu kepada orang tua Dinar.
Di rumah sakit.
“Anak saya kenapa Dok?”
“Saya perlu bicara dengan ibu dan bapak
di ruangan saya. Mari!”
“Anak ibu dan bapak terlalu sering
meminum alkohol, sehingga menyebabkan alkohol yang ia minum bercampur dengan
darah dan menguasai metabolism sistem peredaran darah anak anda, sehingga
menyebabkan sel darah merah kekurangan haemoglobin dan membuat tubuh anak anda
kekurangan sel darah merah. Hal inilah yang membuat anak anda menderita kanker
darah”
“Tapi Dok, itu ga mungkin!”
“Ini
kenyataan bu! Untuk lebih jelasnya besok saya akan perlihatkan hasil diagnosa
tubuh anak ibu. Untuk sementara anak ibu dirawat di rumah sakit sampai”
“Baik
Dok”
Di
ruang rawat Dinar. Isak tangis terus berkumandang saling bersahut-sahutan. Fio,
Adi, Eza, Dina, Eka, serta kedua orang tuanya tiada henti menangis. Tiba-tiba
jari Dinar bergerak. Ibunya langsung menghampirinya.
“Dinar,
kamu gapapa kan Nak? Ini mamah sayang, mamah disini buat nemenin Dinar. Dinar
harus sembuh ya sayang. Dinar gausah takut. Disini ada mamah, ayah, Fio, Eka,
Eza, Adi, disini juga ada Dina”
“Dinar”
suara Eka membuat air mata Dinar mengalir lembut.
Namun,
tubuhnya tak kuasa untuk berkata. Akhirnya matanya kembali terpejam.
Keesokan
harinya.
Eza
yang dari semalam menemani Dinar hanya bisa berdiam diri. Namun, seketika Dinar
bangun.
“Za”
“Iya
Nar”
“Minum”
“Iya
Nar gua ambilin”
Setelah
selesai minum.
“Lo
gapapa Nar? Apanya yang sakit? Lo baik-baik aja kan? Apa lo mau minum lagi? Lo
mau makan? Atau lo mau apa? Lo tinggal bilang, insyaAllah gua siap buat nurutin
semua keinginan lo Nar. Lo tinggal bilang”
“Kenapa
lo baik sih Za sama gua? Padahal gua kan orangnya dingin, cuek, ga peduli.
Kenapa lo?” belum sempat Dinar menyelesaikan kalimatnya.
“Meskipun
lo dingin, cuek, itu udah karakter lo Nar. Gua cukup mengerti aja dan berusaha
supaya bikin lo tersenyum. Lo bersikap dingin, cuek kayak gitu karna dari
dasarnya lo orang yang pendiem, ga terlalu banyak omong. Gua suka hal itu Nar.
Lo itu menarik,unik, beda dari yang lain. Gua mau buat satu pengakuan Nar.
Tolong dengerin ya! Sebenarnya sejak kita SMA dulu dan kita mulai bersahabat,
gua … gua … gua ada rasa Nar sama lo! Gua sayang sama lo! Tadinya gua pengen lo
tau semua perasaan gua pas perpisahan SMA, tapi sayang gua ga punya nyali buat
ngomong semua itu ke lo! Gua takut cinta gua ditolak sama lo Nar! Dan ternyata
pas kuliah, lo jadian sama Eka. Hati gua hancur Nar, sakit. Tapi gua punya
prinsip, meskipun gua ga bisa milikin diri lo seutuhnya tapi kegembiraan
persahabatan kita udah cukup buat gua mengerti kalo sahabat itu saling
menyayangi”
“Tapi
Za, gua ini bukan Dinar yang dulu. Bukan Dinar yang lo kenal. Gua udah berubah
180°.
Gua ini pernah”
“Pernah
ngebakar rumah Dina?”
“Hah?
Lo tau dari..”
“Dari
Angela dan Angeli”
“Gua..”
“Gua
tetep yakin kalo yang ngelakuin itu bukan diri lo! Karna yang gua tau Dinar
bukan orang kayak gitu. Meskipun semua orang udah tau dan percaya kalo lo yang
ngelakuin hal itu, tapi gua tetep ga percaya! Gua yakin sama hati kecil gua! Lo
bukan pelakunya!”
“Bukan
Cuma lo aja Za yang yakin, tapi hati kecil gua juga yakin!”
Suara
itu membuat Dinar dan Eza kaget dan melihat ke arah datangnya suara. Eka! Ya,
itu suara Eka!
“Za,
bisa tinggalin gua sebentar sama Dinar?”
Eza
mengangguk dengan paksa, lalu dia keluar seraya menatap mata indah Dinar.
“Aku
mau minta maaf sama kamu, Nar”
Dinar
memalingkan wajahnya.
“Aku
tau kamu marah sama aku, aku tau kamu kesel, sakit hati, benci. Tapi aku mohon
maafin aku”
“Tinggalin
gua sendiri!”
“Tapi
Nar”
“Please”
Akhirnya
Eka pergi. Tapi, sebelum itu.
“Satu
hal yang perlu kamu tau Nar, aku udah putus sama Dina. Kalau boleh aku jujur,
cuma kamu yang bisa ngertiin aku! Selama aku sama Dina, aku belum pernah
ngerasain hal yang dulu pernah aku rasain sama kamu, sesuatu yang bergetar”
Seketika
kalimat itu terhenti. Ruangan itu sepi, hanya ada Dinar seorang diri. Ia lalu
bangkit
dari
tempat tidurnya dan pergi dengan langkah tergopoh-gopoh serta menyelinap
layaknya seorang teroris yang hendak kabur dari selnya. Ia pergi ke taman
tempat dulu dia pernah bahagia bersama Eka. Dipandanginya taman itu dengan
sorot mata mengenang.
“Ini terakhir kalinya aku bisa
mengenang semuanya sebelum aku pergi”
Lalu dia pergi ke sebuah pohon dan
membongkar tanah yang ada di dekat pohon itu. Didapatinya selembar kertas surat
bersama amplop bergambar hello kitty dan sebuah pulpen berwarna pink, warna
kesukaannya.
Ditulisnya sebuah surat yang tak
cukup panjang namun dari sorot matanya terlihat bahwa surat itu sangat berarti.
Setelah itu, digenggamnya surat itu dan dia duduk di sebuah kursi dekat taman.
Tiba-tiba sosok lelaki menghampirinya. Ia
duduk di sebelahnya.
“Aku ingin mengenang tempat ini
bersamamu”
Seketika Dinar menoleh.
“Eka?”
“Langitnya indah ya”
Mendengar Eka tak memperdulikan
pertanyaannya, ia diam.
Hari telah berlalu. Hampir 15 jam mereka
hanya duduk dan tanpa ada sepatah kata pun yang menghiasi indahnya taman itu.
Mereka duduk menghadap ke arah barat tempat perginya sang surya.
“Tiba waktunya. Berdiri yuk?” ujar Eka
sambil mengulurkan tangannya ke arah Dinar.
Dinar menyambut uluran tangan itu.
Digenggamnya jari Dinar dengan erat hingga terasa kehangatan di antara
jari-jemari mereka.
Lalu mereka pergi seakan mendekati sang
surya dan duduk di atas rerumputan hijau menikmati suasana indah itu. Tiba-tiba
air mata Dinar menetes satu per satu membasahi genggaman erat tangan mereka
berdua.
“Jangan nangis ya”
“Kamu liat deh itu”
Seketika Dinar menoleh, dan Eka langsung
menyentuh kepala Dinar secara perlahan, kemudian merebahkannya di pundaknya.
Lalu berbisik.
“Kamu adalah matahari terakhir dalam
hidupku”
Seketika nafas Dinar terhenti. Eka
menyadari bahwa ia telah pergi.
“Kamu pergi bersamaan dengan
tenggelamnya matahari”
Lalu ia melihat surat yang dipegang oleh
Dinar, kemudia membacanya.
“UNTUK
ORANG-ORANG YANG AKU SAYANG. UNTUK SAHABATKU MAAF AKU GABISA MENJAGA
PERSAHABATAN KITA. UNTUK EZA, MAAF AKU GABISA MENUHIN KEINGINAN KAMU UNTUK JADI
PACAR KAMU KARNA CINTA AKU CUMA SATU, YAITU EKA. UNTUK EKA, MAKASIH BUAT SEMUA
KENANGAN MANIS YANG UDAH KAMU KASIH KE AKU. SAAT KAMU BACA SURAT INI AKU UDAH
PERGI JAUH, KAMU BOLEH NGAMBIL GELANG YANG DULU PERNAH KAMU KASIH KE AKU BUAT
KAMU KASIH KE ORANG YANG KAMU SAYANGI SEKARANG. DAN SEKARANG KAMU BEBAS UNTUK
CINTA SAMA SIAPA PUN TERMASUK DINA. UNTUK DINA, MAAF AKU UDAH BENTAK-BENTAK KAMU.
GA SEHARUSNYA AKU LAKUIN HAL ITU. AKU SADAR SEMUA TINDAKANKU SALAH. UNTUK
ANGELA DAN ANGELI, MAKASIH KARNA KALIAN UDAH NGAJARIN AKU APA ARTINYA HIDUP
BEBAS HINGGA AKU MERASAKAN KEPAHITAN HIDUP. DAN YANG TERAKHIR UNTUK MAMA DAN
AYAH. MAMA, MAKASIH KARENA UDAH NGERAWAT AKU DARI KECIL, UDAH NGASI KASIH
SAYANG MAMA BUAT AKU. AYAH, MAKASIH KARNA UDAH NGAJARIN AKU TENTANG BANYAK HAL.
MAAF AKU UDAH PERNAH NGEBANTAH KALIAN, AKU PERNAH NGELANGGAR PERATURAN DARI
KALIAN, YAITU MINUM MINUMAN KERAS. SAAT AKU UDAH GAADA NANTI, KALIAN
JANGAN SEDIH YA. SAMPAI KAPAN PUN KALIAN
ADALAH ORANG TUA DINAR. DOAIN DINAR SUPAYA TENANG DI ALAM SANA.
TERTANDA:
DINAR.”
Setelah
Eka membaca surat itu, dia kaget karna dirinya dan Dinar telah dipenuhi oleh
kerumunan orang-orang yang Dinar sayang.
“Gelang
itu akan aku simpan dan ga akan aku kasi ke siapapun Nar, karna cuma kamu yang
pantas pake gelang itu”
Setelah
mengucapkan kalimat tadi, Eka lagsung mencium kening Dinar.
“Selamat
Jalan Sayang”
~ENDING~
Audy - Satu
ku di sini masih mengingatmu
rasa rindu tak hilang menjauh
karna ku tak mampu dustai hatiku
karna ku tak bisa tinggalkan cintaku
beri aku satu janjimu padaku
tetaplah engkau di sini tuk memelukku
beri aku satu cinta tuk selamanya
biarkan kita bahagia hanya berdua
rasa rindu tak hilang menjauh
karna ku tak mampu dustai hatiku
karna ku tak bisa tinggalkan cintaku
beri aku satu janjimu padaku
tetaplah engkau di sini tuk memelukku
beri aku satu cinta tuk selamanya
biarkan kita bahagia hanya berdua
setiap mimpi tersirat wajahmu
hati ini semakin menggebu ooh
karna ku tak mampu dustai hatiku (dustai hatiku)
karna ku tak bisa tinggalkan cintaku
hati ini semakin menggebu ooh
karna ku tak mampu dustai hatiku (dustai hatiku)
karna ku tak bisa tinggalkan cintaku
beri aku satu janjimu padaku
tetaplah engkau di sini tuk memelukku
beri aku satu cinta tuk selamanya
biarkan kita bahagia hanya berdua
tetaplah engkau di sini tuk memelukku
beri aku satu cinta tuk selamanya
biarkan kita bahagia hanya berdua
terpaku dalam radang hati [?]
hanya dirimu yang ku mau
kau tambatan hatiku satu
hanya dirimu yang ku mau
kau tambatan hatiku satu
beri aku satu (aku satu) janjimu padaku (janjimu padaku)
tetaplah engkau di sini tuk memelukku
beri aku satu (beri aku satu) cinta tuk selamanya (selamanya)
biarkan kita bahagia hanya berdua
tetaplah engkau di sini tuk memelukku
beri aku satu (beri aku satu) cinta tuk selamanya (selamanya)
biarkan kita bahagia hanya berdua
beri aku satu (kau beriku) janjimu padaku
tetaplah engkau di sini tuk memelukku
beri aku satu (kau beriku) cinta tuk selamanya
biarkan kita bahagia hanya berdua (satu)
tetaplah engkau di sini tuk memelukku
beri aku satu (kau beriku) cinta tuk selamanya
biarkan kita bahagia hanya berdua (satu)
Labels
- air mata (2)
- aku (1)
- aplikasi (1)
- bintang (1)
- bunda (1)
- bunga (2)
- butiran debu (1)
- cerpen (2)
- cinta (8)
- damai (2)
- doa (1)
- embun (1)
- flashback (1)
- foto (2)
- harapan (2)
- hidup (1)
- ikhlas (1)
- Ilana Tan (6)
- kartun (1)
- kasih (1)
- kasih sayang (1)
- kehilangan (1)
- kisah (3)
- lirik lagu (1)
- maaf (3)
- masa lalu (2)
- menangis (1)
- menunggu (1)
- novel (6)
- pagi (1)
- paris (1)
- pertemuan (1)
- PHP (1)
- puisi (3)
- raisa (1)
- rindu (2)
- rumor (1)
- semesta (1)
- sendiri (2)
- sinopsis (6)
- tangis (1)
- teman (4)
- tenang (1)
- video (1)
- wanita (4)
Total Tayangan Halaman
An extraordinary girl who try to be a good muslimah to reach Jannah
Nufaisa Azizah
Labels
- air mata (2)
- aku (1)
- aplikasi (1)
- bintang (1)
- bunda (1)
- bunga (2)
- butiran debu (1)
- cerpen (2)
- cinta (8)
- damai (2)
- doa (1)
- embun (1)
- flashback (1)
- foto (2)
- harapan (2)
- hidup (1)
- ikhlas (1)
- Ilana Tan (6)
- kartun (1)
- kasih (1)
- kasih sayang (1)
- kehilangan (1)
- kisah (3)
- lirik lagu (1)
- maaf (3)
- masa lalu (2)
- menangis (1)
- menunggu (1)
- novel (6)
- pagi (1)
- paris (1)
- pertemuan (1)
- PHP (1)
- puisi (3)
- raisa (1)
- rindu (2)
- rumor (1)
- semesta (1)
- sendiri (2)
- sinopsis (6)
- tangis (1)
- teman (4)
- tenang (1)
- video (1)
- wanita (4)
Diberdayakan oleh Blogger.
Ads 468x60px
Popular Posts
-
Mengapa wanita lebih mudah menangis? Apakah tetesan air matanya merupakan untaian kata yang tak mampu tersampaikan? Readers, andai kalian ...
-
[Chorus] Meet me in Paris, under the stars And I’ll be there, wherever you are Love in the air is filling my heart So meet me in Paris...
-
I miss the times when we'll be together, I miss our beautiful moments I miss when you hug me if i'm feel cold and my body temperatu...
-
Bonjour a tous! *yang ga tau artinya cari GTranslate*:p Senangnya bisa kembali menulis di atas kertas. Kertas digital yang ku jadikan...
-
wanita cenderung sulit melupakan masa lalu karena mengedepankan perasaan, di banding pria yang lebih mengedepankan logika (visioner). Karena...
-
Melengok Keunikan di Pulau nan Gersang (Nufaisa Azizah) Juli 2010. Pagi yang cerah. Alunan suara burung terdengar merd...
-
Tak ada yang bisa mengira kapan hujan akan datang. Hanya Tuhan yang tau. Tak ada yang bisa menerka kapan angin akan menyerbu. Hanya Tuhan ya...
-
Aku, hanyalah wanita biasa. Bukan wonder woman. Bukan pemilik hati baja. Dan bukan juga robot. Aku, punya hati. Aku, punya perasaan. Aku, s...
-
Puisi ini tercipta, ketika amarah sang tokoh sedang membara-bara. Ini puisi dimana sang tokoh merasa lelah dengan semesta yang seakan tak pe...
-
Secarik Kertas Kehidupanku Karya Nufaisa Azizah Walaupun dia pergi dari dunia ini, percayalah bahwa masih ada aku disini. Ini kisah ...


