Pages

Selasa, 24 Desember 2013

Aku Bukan Bunga

Aku, hanyalah wanita biasa. Bukan wonder woman. Bukan pemilik hati baja. Dan bukan juga robot.

Aku, punya hati. Aku, punya perasaan. Aku, seperti wanita lainnya.

Aku ingin diperlakukan biasa. Meski banyak orang menyalah artikan kata biasa. Bukan maksud ku ingin dilihat, dipuji, atau dielu-elukan oleh semua orang. Aku hanya ingin dihargai. Aku tak menuntut lebih. Tak juga berharap kasih.

Aku ingin dianggap ada. Sosokku nyata, menginjak tanah. Aku bukan makhluk halus yang perlu kalian takuti. Sekali lagi, aku sama seperti kalian.

Dan, aku juga tak ingin dibuang. Aku senang membantu kalian. Aku senang bercanda tawa dengan kalian. Dan, aku senang jika aku bermanfaat bagi kalian.

Tapi, aku mohon... jangan perlakukan aku seperti bunga. Saat berkembang, kalian petik. Kalian puji semua keindahan yang ku miliki. Tapi, saat layu... kalian hempaskan ke tanah, terinjak-injak oleh lalu lalang kaki-kaki kesibukan. Atau kalian buang ke tempat sampah, tercampur dengan sejuta aroma yang membuat bunga itu kotor. Atau kalian urai mahkota bunga itu ke lantai.. agar jika tersapu, akan berbaur dengan debu.

Hanya itu yang kupinta dari sebuah pertemanan. Tak banyak bukan? Tapi mengapa rasanya sulit untuk didapatkan? Atau memang kalian yang sengaja tak ingin melakukan?

Published with Blogger-droid v2.0.10

Aku Berkata... MAAF

untukmu wahai temanku

Ada sesuatu yang mengetuk pintu hatiku. Aku teringat akan pertemanan kita dulu. Teringat bagaimana lugunya kita bertemu, teringat akan kebohongan dan kepalsuan yang kita jadikan benteng pertemanan. Ada bayangmu yang kuingat di waktu-waktu tertentu. Wajahmu senantiasa berdiam diri memenuhi setiap ruang otakku. Mungkin sudah saatnya aku mencarimu, menjabat tanganmu, dan mengucap maaf padamu. Aku tak peduli seberapa besar orang akan mencaciku, seberapa jauh orang akan mencibirku.. Aku tak peduli. Aku hanya ingin hidup tenang, damai, dalam balutan kasih dan pertemanan. Kesalahan awal adalah tak adanya rasa jujur dalam diriku. Ego yang kupunya mengalahkan setiap detik maaf yang akan terucap. Rasa angkuh yang tertanam membuat setiap jujur kembali ke dalam benak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Ungkapan yang sudah mendarah daging di kalangan masyarakat. Terlebih untuk diriku sendiri. Sesalku tak pernah mengatakan ini semua dari awal, dari pertama kali kita berjabat tangan saling kenal. Aku membiarkan kronologi cinta segitiga itu memecah belah ikatan pertemanan yang sebenarnya rapuh. Aku membiarkan semua berjalan seolah dunia adalah milikku. Aku lupa, bahwa ada dzat yang telah mengatur semua lika-liku kehidupan ini. Aku melupakan setiap nafas yang kuhembuskan, setiap detik yang kuhabiskan, dan setiap kebohongan serta kepalsuan yang terucapkan.. tercatat dalam buku amal yang akan ku pertanggungjawabkan.

Aku berikrar seorang diri, meneguhkan hati yang lemah ini. 'Maaf' ingin segera meluncur bebas di hadapanmu, 'maaf' telah lelah karena terkurung jarum waktu. Sangkarnya pun telah berkarat dan berdebu. Tak ada alasan lagi untuk menunda. Belum tentu esok aku masih ada.

Tapi, bagaimana? Bagaimana caranya aku menemuimu? Kita terpisahkan oleh jarak. Dan, bagaimana? Bagaimana jika niat tulusku tak mendapat respon darimu? Bagaimana jika saat aku berhadapan denganmu, aku malah membisu? Atau aku akan mengajakmu berbincang seputar obrolan yang sama sekali bukan merupakan tujuan awalku? Bagaimana ini Tuhan? Beri aku jawabanMu. Aku mohon petunjuk dariMu.

Dan untuk kamu, temanku... aku berjanji pada diriku, 'maaf' itu akan segera terlaksana, sebelum jarak memisahkan kita lebih jauh.

Aku senantiasa berdoa, meminta pada Rabb-ku agar kau turut merasakan apa yang aku rasakan. Agar nantinya, kita sama-sama sadar bahwa hidup akan jauh lebih indah jika kita saling memafkan.

Published with Blogger-droid v2.0.10

Senin, 16 Desember 2013

Bintangku.. Kau Kembali

Sudah lama aku merajut helai demi helai menjadi asa. Sudah lama aku mengais besi satu demi satu menjadi benteng Takeshi. Telah lama ku nantikan saat-saat ini. Saat dimana aku tak memerlukan benteng untuk bersembunyi dari kejaran asa yang tak kunjung usai. Saat dimana aku bisa berdiri dengan sempurna menatap dunia. Dan saat dimana aku menjemputmu sebagai jawaban sebuah impian. Seulas senyum tersungging di bibirku. Ingin rasanya aku peluk dunia saat ini juga. Ingin rasanya aku berteriak pada semesta, berterima kasih pada Sang Pencipta. Tuhan, itu bintangku. Bintang yang selama ini ku tunggu, bintang yang selama ini memenuhi langit-langit kamarku, bintang yang selama ini selalu hadir kala ku pejamkan mata ini. Terima kasih Tuhan.. Kini, aku tak perlu lagi menopang dagu, tak perlu lagi menekuk lutut, apalagi menutup muka.. Aku berani berpijak di bumi-Mu, walau di atas puing sekalipun.. bersama bintangku.

Published with Blogger-droid v2.0.10

Minggu, 15 Desember 2013

Secangkir Doa Dalam Tepian Rindu

Tak ada yang bisa mengira kapan hujan akan datang. Hanya Tuhan yang tau. Tak ada yang bisa menerka kapan angin akan menyerbu. Hanya Tuhan yang tau. Begitu pun rindu. Datang tak menentu, dan pergi seketika ia mau. Angin dan hujan memang datang beriringan, membawa aroma sendu bagi siapa saja yang mau. Namun, tidak untuk saat ini. Hujan tak lagi bergeming. Hanya angin yang setia berhembus kesana kemari, mencari jiwa-jiwa yang tengah terpuruk di sudut bumi ini. Membawa terbang angan-angan kecil yang hanya sebatas impian sang pemilik. Aku disini tengah menantikannya. Menantikan angan-angan kecil yang kugantungkan pada setiap rasi bintang yang ada. Berharap Tuhan kan berikan semua yang ku pinta. Aku masih menunggu, menunggu bintang itu jatuh, dan berubah sosok menjadi kamu. Iya, kamu. Kamu yang telah berhasil menyita setiap waktu dalam hidupku, menghabiskan setiap pena yang kupunya hanya untuk goresan kelabu, mencacah-cacah setiap asa yang ku rajut dengan peluh keringatku. Kau tinggalkan seberkas jejak di hati ini, entah bijih magnet apa yang telah kau tanam.. hingga sulit rasanya untuk dicabut, meski dengan bantuan ibu peri sekalipun. Rindu. Itulah yang berhasil kau tancapkan di ladang emasku. Itulah yang menjadi alasanku bertahan di atas puing-puing kehidupan yang mungkin sebentar lagi akan rubuh. Itulah satu kata yang bisa membangkitkan emosi yang terselubung dari sekian ruang di relung hati. Itulah hal yang bisa wanita sejati lakukan, untuk sosok yang berharga dalam hidupnya. Begitu tega kau beri aku lautan rindu. Bagaimana caraku menghabiskannya? Haruskah ku hapus lautan itu menjadi hamparan pasir? Tapi aku tak mau. Haruskah ku siram dengan panasnya bara api? Tapi aku tak sanggup. Tuhan, apa yang harus ku perbuat? Aku tak mungkin hanya menunggu dalam diam. Aku tak mungkin terus duduk di sudut ruangan sambil mengaduk-aduk secangkir teh seorang diri? Aku butuh dia.. aku butuh dia.. aku butuh... Tuhan, apa yang harus ku perbuat dengan satu cangkir ini? Haruskah aku membuangnya? Membelikan pasangannya yang baru? Atau haruskah ku tunggu sampai pemilik pasangan cangkir itu kembali? Ku titipkan rinduku dalam secangkir doa.. untukmu.

Published with Blogger-droid v2.0.10