Melengok Keunikan
di Pulau nan Gersang
(Nufaisa Azizah)
Juli
2010.
Pagi yang cerah. Alunan
suara burung terdengar merdu menghiasi telingaku membangunkanku dari tidurku
yang lelap. Kulihat langit meneteskan air matanya di atas bumi nan indah ini.
Desahan angin bersama hembusan udara dingin menerpa alam membuat dunia malas
melakukan aktivitsnya. Namun, tidak untukku. Aku tak mau melewatkan kegiatan
paling menarik hari ini, yaitu berkunjung ke Pulau Garam atau lebih dikenal
dengan sebutan Pulau Madura. Pulau dengan tanah pesisir yang gersang belaka. Aku
akan melewati Jembatan Suramadu untuk sampai kesana. Tak dapat aku bayangkan
bagaimana perasaanku ketika akan melewati jembatan itu. Jembatan yang dibangun
di atas laut. Aku tak ingin banyak berkhayal, lebih baik aku bersiap-siap untuk
pergi kesana.
Berbicara
mengenai Pulau Madura, mungkin tidak banyak orang mengenal tentang Pulau
tersebut. Pulau Madura merupakan sebuah pulau di timur Pulau Jawa yang masih
termasuk ke dalam wilayah Provinsi Jawa Timur. Masyarakatnya disebut juga orang
Madura atau suku Madura. Pulau Madura terkenal dengan wisata pantai, sejarah,
dan makanannya. Siapa yang tidak tahu sate khas Madura, batik Madura, karapan
sapi Madura dan banyak lagi hal menarik yang berbau Madura. Itulah sebabnya,
mengapa aku dan keluaragaku memutuskan untuk pergi kesana.
Tepat
pukul 7.00 WIB, kami berangkat meninggalkan Kota Bogor yang penuh dengan
tetesan air mata dari langit untuk beberapa hari. Meskipun cuaca tak mendukung
tidak jadi masalah. Kami tetap pergi kesana. Kami memutuskan untuk pergi kesana
dengan melalui tol cikunir ke arah Bandung. Sengaja, karena kami ingin melihat
panorama indah Bandung.
Sekitar pukul 11.00 WIB perutku
sudah mulai berkicau, memainkan untaian melodi tak bernada. Akhirnya, kami
berhenti di sebuah restoran Katineung Rasa. Jl.Raya Padalarang No.496 di daerah
Padalarang. Tak ku sangka makanan tradisional daerah tersebut sangat kental
dengan aroma pedas dan khas daun kemangi, namun tetap lezat. Penyajiannya
menggunakan sajian khas Sunda dengan diiringi alunan musik gamelan tatar Sunda.
Setelah selesai
menikmati makanan khas Sunda dengan aroma pedasnya, tak lupa kami memanjatkan
doa, bersyukur kepada Sang Maha Pencipta atas nikmatnya yang telah Dia berikan
pada kami hari ini. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Satu hal yang
menjadi kebiasaanku ketika bepergian jarak jauh adalah aku senang mencatat
hal-hal menarik yang aku temui di sepanjang jalan, tak lupa juga aku senang
memotret gambar-gambar yang menurutku aneh dan unik untuk aku jadikan album di
galeri perjalananku mengelilingi Negara tercinta yaitu Negara Indonesia.
Hari sudah mulai panas.
Alam mulai mengeluarkan sinar-sinar kehangatannya menghangatkan dunia yang
penuh dengan kesedihan dan mencairkan tetesan-tetesan air di atas dedaunan. Kini,
aku memasuki jalanan yang penuh dengan deretan mobil panjang yang antre
layaknya antre membeli tiket Sea Games 2011. Ini merupakan hal yang kurang aku
sukai. Polusi terjadi dimana-mana. Bunyi klakson saling bersahut-sahutan
menyelinap di telingaku. Akhirnya, aku putuskan untuk berlelah sejenak di atas
sandaran mobil sambil menikamati alunan melodi indah.
Keesokan harinya
Suara bising itu
membangunkanku dari tidurku yang lelap. Tak bisa kuhitung berapa jam aku tidur.
Meskipun badanku terasa pegal namun aku tetap semangat. Kulihat jam tangan yang
menempel di tangan kiriku menunjukan pukul 5.00 WIB. Aku terkejut. Ini
pengalaman sekaligus pengetahuan baru bagiku. Ternyata masyarakat di daerah ini
pada pukul 5 pagi sudah terbangun dari mimpi indah mereka dan memulai aktivitas
rutin mereka. Hal ini jelas berbeda dari pemikiranku. Dan aku pun baru
menyadari perjalananku baru sampai di Kota Surabaya. Wow, rajin sekali
masyarakat Surabaya ini!.
Ku buang jauh-jauh
pertanyaan tadi dalam benakku. Ku fikirkan satu pertanyaan lain yang terbesit
dalam benakku yaitu butuh waktu berapa jam lagi untuk sampai ke Pulau Madura.
Awalnya, aku ingin menanyakan hal itu pada Ayahku. Namun, kuurungkan niatku,
sebab aku ingin perjalananku ini benar-benar menjadi hal baru bagiku.
Tiga jam telah berlalu.
Hal yang paling kunantikan sudah nampak di depan mata. Ya, apalagi kalau bukan
Jembatan Suramadu. Segera aku keluarkan kamera dari dalam tas untuk memotret
panorama indah alam sekitar. Aku seperti berjalan di atas laut. Aku melihat
hewan-hewan laut dan kebetulan yang nampak pada saat itu adalah ubur-ubur
berwarna coklat yang tampak seperti jel. Tak terasa Jembatan Suramadu yang
panjangnya 5438 meter bisa dilalui hanya dengan waktu 10 menit. Wow!.
Kini tibalah di
penghujung jembatan. Rasanya belum puas. Aku seperti ingin mondar-mandir di
Jembatan Suramadu. Waktu menunjukan pukul 8.10 WIB, saatnya berkeliling Pulau
Madura dan mencari tempat penginapan. Kami memutuskan untuk mencari tempat
penginapan di Kota Pamekasan, salah satu kota yang terletak di paling ujung
Pulau Madura dengan ciri makanan sate yang khas.
Pertama, kami melewati
Kota Bangkalan yang khas dengan bau pasar tradisional. Satu hal yang unik,
yaitu para penjual pasar yang memakai baju yang dipadukan dengan selendang
layaknya baju adat India. Setelah itu, kami berjumpa dengan Daerah Tanah Merah.
Ada satu hal yang paling tidak bisa dilewatkan ketika berjumpa dengan daerah
ini, yaitu Api tak Kunjung Padam biasa disebut dengan jangka, terletak di Desa
Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan yang berjarak 4 kilometer dari pusat kota.
Setelah merasa puas, kami melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan Kota
Sampang. Tak ada hal yang menarik di Kota ini, hanya saja kota ini terlihat
bersih dan tertata dengan rapi. Terakhir, kami menuju ke Kota Pamekasan. Kami
berhenti di sebuah tempat penginapan bernama Madura Indah Hotel yang beralamat
di Jalan Jokotole 4-C Pamekasan. Satu hari cukup untuk kami melepaskan semua
penat kami.
Hari ke-4, kami
berjalan menusuri seluk-beluk Pulau Madura. Pertama, kami pergi ke Monumen Are’
Lancor yang terletak di jantung Kota Pamekasan di depan Masjid Agung Asyuhada’
dan dikelilingi jalan yang berbentuk melingkar lafadz Allah. Monumen ini
merupakan monumen kepahlawanan Rakyat Madura dalam mempertahankan kemerdekaan
dan kedaulatan Negara Indonesia.
Lalu, kami pergi
melihat tradisi budaya Suku Madura yaitu Kerapan Sapi dan Sapi Sonok yang
terletak di Kabupaten Pamekasan, tepatnya di Desa Waru Barat, Kecamatan Waru ^34
kilometer arah utara dari Kota Pamekasan. Kerapan Sapi merupakan tradisi khas
budaya Madura yang digelar setelah panen raya sebagai wujud rasa gembira atas
keberhasilan yang telah diraih. Sedangkan Sapi Sonok merupakan kontes pasangan
sapi betina yang terdiri dari jenis ras Madura dengan criteria penilaian:
kecantikan, penampilan, dan kekompakan dalam berlaga di arena kontes. Sambil
melihat pertunjukan tersebut, kami mencicipi sate khas Madura yang kental
dengan aroma rempah-rempah dan proses pembuatan sate ini dilakukan secara
manual serta alat untuk membakar sate ini menggunakan arang.
Selanjutnya, kami pergi
Gerai Batik Tresna Art untuk membeli kain khas Madura dan Letupan Madura atau
batik tradisional khas Madura. Yang khas dari batik Madura adalah batik ini tak
mengenal cap, semuanya melalui proses manual. Warna batik Madura sangat
mencolok dan meletup-letup. Terakhir, kami pergi ke pasar cendet untuk membeli
burung trotolan cendet. Burung khas Madura yang berukuran kecil dan terancam
punah. Banyak orang tidak mengetahui keberadaan burung ini. Burung ini bagian
dadanya berwarna putih dan bagian sayapnya berwarna coklat muda dengan
garis-garis hitam.
Itulah catatan
perjalananku berkunjung ke Pulau Madura. Tanpa kita sadari banyak sekali daerah
di Indonesia yang mempunyai corak budaya yang sangat beragam serta hal-hal unik
yang terselip di dalamnya. Meskipun rasa lelah menghampiri tubuhku namun hal
itu tak akan cukup untuk menyaingi kegembiraanku.



0 comments:
Posting Komentar