Pages

Selasa, 09 Juli 2013

DAMAI? May Be



Aku dan Kau. Wanita yang sulit mengucap kata damai. Selalu ada kabar angin yang mampu memecah belah ikatan pertemanan kita. Ya, meski hanya ikatan pertemanan. Aku dengan segala keangkuhan hati, sementara kau dengan wajah kepura-puraanmu. Aku menjalani hidupku dengan penuh pengorbanan. Kau juga. Aku dan Kau saling merasakan pahitnya kehidupan. Kita memang pernah bertemu, sekali seumur hidup. Dan berharap pertemuan itu tak kan pernah terulang kembali. Kita pernah tertawa, namun itu hanya biasan semata. Kita pernah berbincang, namun itu hanya masa lalu yang silam. Dan kita pernah saling menatap, berharap salah satu pasang mata akan mengucap kata maaf.. namun, yang terucap hanyalah omongan belaka. Aku terlahir dengan keangkuhan hati yang kuat. Aku bertahan hidup dengan membunuh hati sendiri. Segala caci maki serta hinaan seolah tak mempan rubuhkan hatiku. Sementara kau, kau hidup dengan kepolosan belaka. Kepura-puraan yang dapat menghipnotis kaum adam. Entahlah, masih lebih baik aku atau dirimu. Yang jelas, hati ini belum ikhlas mengucap kata maaf. Kurasa kau juga begitu. Meski sempat beberapa kali kata itu ada, namun hanya dalam sebuah tulisan bukan ucapan. Maafkan aku, 'teman'. Mungkin suatu hari nanti, hati beku ini bisa berubah menjadi cair.. sama halnya seperti 'pertemanan' kita dulu yang berawal dari sebuah kronologi cinta segitiga.

posted from Bloggeroid