Pages

Rabu, 06 Agustus 2014

Kepribadian

Cahaya. Terang. Membuat semua jadi terlihat oleh mata. Pandangan jadi semakin luas.
Tapi, aku lebih suka gelap. Tanpa cahaya. Kenapa?
Karena disaat gelap aku bisa menangis, mencurahkan semua isi hati, mengungkapkan apa yang tak bisa aku ungkapkan pada orang-orang.

Ramai. Banyak orang. Huru-hara dimana-mana. Tawa meledak tanpa henti.
Tapi, aku lebih suka sepi. Menyendiri. Bukan ku tak suka tertawa.
Tapi, aku lebih senang melakukan hobiku saat suasana sedang sepi, yaitu menulis. Menuliskan kisah hidupku, tanpa membagikannya pada orang-orang, kecuali sedikit.

Terbuka. Menjadi pribadi yang terbuka. Menceritakan setiap kisah hidupnya. Tak jarang, menggunakan social media. Semua yang membaca jadi tahu, bahkan orang yang tak dikenal pun jadi tahu.
Tapi, aku adalah pribadi yang tertutup. Pantang bagiku menceritakan rahasia hidupku pada orang lain, bahkan keluargaku sendiri.
Aku tidak kuper. Aku punya banyak teman. Tapi, aku juga punya prinsip. Tidak setiap apa yang aku alami harus ku ceritakan pada orang-orang.

Kamis, 24 April 2014

LIMA, Hanyalah Sebuah Angka

Percaya atau tidak, setelah ku hitung berdasarkan rekaman memori, genap lima tahun aku setia menunggu. Satu angan kecil yang sampai saat ini masih menjadi biji dalam ruang hati. Bahkan tak ada tanda untuk berkecambah.

Aku masih ingat, kala itu, kita begitu lugu. Wajah polosmu begitu segar dalam ingatanku. Meski kita tak begitu saling mengenal, tapi aku yakin bahwa kau tau aku dan aku tau kamu, melebihi kau tau dirimu sendiri.

Aku pun masih ingat, kedekatan kita dulu. Tidak, bukan dekat maksudku. Hanya sebatas teman yang selalu ingin membantu satu sama lain.

Dan aku pun masih ingat, saat terakhir aku melihatmu dari celah dedaunan.

Tak terasa, angka lima kini muncul di benakku, pertanda berapa lama kita tak bertemu. Memang, agak sedikit aneh rupanya. Kebanyakan orang, merayakan setiap tanggal yang berulang dari tahun ke tahun untuk sebuah event yang membahagiakan. Namun, tidak denganku. Kisahku begitu memprihatinkan. Meski ku sadari dengan sepenuh hati, tapi aku tetap saja tak ingin pergi dari kurungan ini. Aku sudah terbiasa dengan angan palsu yang ku ciptakan sendiri. Seolah-olah aku terlihat bahagia dalam khayalanku sendiri. Seolah semua hal baik akan selalu terjadi padaku. Tapi, nyatanya tidak. Dan saat ini aku mulai merasa takut. Aku takut, kau akan menambah jarakmu dariku. Aku takut, kita akan semakin terpisahkan, dan itu membuatku sulit untuk sekedar melihat aktivitasmu di dunia maya. Rasanya, ini hanya aku saja yang ketakutan. Kurasa kau disana tak merasakan apa yang aku rasakan. Bahkan mungkin tak akan pernah merasakannya.

Jujur saja, ini beban dalam hidupku. Tapi, inilah satu-satunya beban yang menjadikanku kuat. Lima tahun hanyalah sekedar angka dalam sebuah hitungan. Bahkan mungkin suatu saat angka lima itu akan berubah.. entah menjadi enam, tujuh, delapan, atau sembilan, atau mungkin akan bertambah besar lagi. Entahlah. Tapi, sekali lagi, aku merasa nyaman seperti ini. Meskipun terkadang perasaan jail sering menghampiri, tapi aku percaya.. bila sudah takdirnya kita pasti dipertemukan. Aku percaya itu.


Posted via Blogaway

Kamis, 10 April 2014

Tanpa Judul

Empat hari lagi menuju pertempuran. Aku masih mencari-cari perbekalan, di sana, di sini, di mana pun aku mencari. Ribuan kertas berisikan angka-angka ingin sekali rasanya aku lahap tanpa sisa. Beragam jenis gambar ingin sekali rasanya aku tempelkan di dalam memori kepala. Waktu memang kian mendekat, hampir tak pernah terasa sekalipun aku berusaha merasakannya.. selalu luput dan terlambat untuk disadari. Perbekalan yang ku pikul di kedua pundakku rasanya belum cukup. Masih banyak goresan pena yang harus kumasukkan dalam ransel kecil yang akan ku gendong dalam tiga hari ke depan. Namun, rasanya itu masih belum cukup. Memang, sifat manusia yang tak pernah merasa puas. Selalu ada hasrat yang tersembunyi di balik setiap ni'mat yang Allah berikan kepada umat-Nya. Tapi sebagai insan biasa, wajib berusaha bukan? Bekerja keras demi pencapaian sebuah mimpi yang tak lain adalah angan-angan yang selama ini selalu mengisi ruang dalam memori, yang selalu direfleksikan di langit-langit kamar, dan berharap Sang Maha Pencipta mengkabulkannya. Namun, rasanya ironis sekali mendengar kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Tadinya kupikir semua tengah berlari, berlomba mencapai puncak tertinggi.. namun, semua terkalahkan oleh ego diri. Disaat kita berjuang mati-matian, seolah rela mati dalam genggaman kesuksesan.. seseorang bahkan beberapa orang nun jauh disana tengah menanti datangnya pertempuran, mempersiapkan 'senjata' licik yang selalu digunakan secara turun-temurun, seolah-olah 'itu' adalah jawaban dari sebuah impian dan titik akhir dari sebuah perjuangan. Hanya secarik kertas kecil yang mereka gunakan, dan mimpi mereka akan menjadi nyata. Begitu anggapan mereka. Bukannya aku merasa suci. Tidak, aku jauh dari kata suci. Tumpukan dosa melekat di tubuhku. Bukannya aku menggurui. Tidak, aku sama-sama pejuang seperti kalian, aku bukan senior. Bukannya aku tak pernah menjadi ular. Jujur saja aku pernah. Tapi bedanya sekarang aku berusaha menjadi kura-kura. Lambat laun berusaha melakukan perubahan. Dan sekarang aku menjadi keledai, yang berlari dengan cepat demi mencapai goal di ujung sana. Sakit kah hati kau melihatnya? Pengorbanan tulus dilawan dengan bisa ular? Tapi, aku hanya bisa berdoa. Itu senjataku. Bukan maksud ku mengharapkan sesuatu buruk menimpamu. Tidak. Tidak seperti itu yang aku mau. Kau temanku. Kalian semua temanku. Kita sama-sama pejuang. Tapi bukankah lebih indah jika semua dilakukan dengan sebuah kejujuran?


Posted via Blogaway

Rabu, 26 Februari 2014

Maafku.. maafmu.. adakah itu?

Aku dan kamu bagai pinang yang tak sengaja terbelah menjadi dua. Tanpa kita sadari, banyak hal-hal yang sebenarnya aku dan kamu pun menyukainya. Seharusnya kita bisa menjadi teman baik, lebih baik dari seekor lebah yang bekerja sama membangun sebuah sarang hexagonal jauh di tengah-tengah rimbunnya dedaunan. Namun, sayang.. takdir lebih dulu turun ke bumi. Aku dan kamu tak bisa saling memadukan genggaman erat jari kelingking, malah sebaliknya.. genggaman itu dengan mudah terlepas dari masing-masing sang pemilik. Tak jelas dari mana asal mulanya, tak tahu dari mana sebabnya, kau dan aku bagai gelas yang retak berulang kali. Setiap kali pecahan gelas itu berusaha menyatu, setiap kali pula gelas itu kembali retak. Memang pada dasarnya, kau dan aku bukanlah seperti kawanan burung. Awalnya aku memilih terbang ke barat, kau ke timur.. aku pergi ke selatan, kau berpetualang ke utara. Tapi, takdirlah yang menakdirkan kita bertemu untuk saling memendam perasaan tak suka dalam hati. Kata maaf pun rasanya seperti angin, hanya singgah untuk sementara, lalu berhamburan kemana-mana. Entah tertancap dimana maaf itu.


Posted via Blogaway