Pages

Minggu, 15 Desember 2013

Secangkir Doa Dalam Tepian Rindu

Tak ada yang bisa mengira kapan hujan akan datang. Hanya Tuhan yang tau. Tak ada yang bisa menerka kapan angin akan menyerbu. Hanya Tuhan yang tau. Begitu pun rindu. Datang tak menentu, dan pergi seketika ia mau. Angin dan hujan memang datang beriringan, membawa aroma sendu bagi siapa saja yang mau. Namun, tidak untuk saat ini. Hujan tak lagi bergeming. Hanya angin yang setia berhembus kesana kemari, mencari jiwa-jiwa yang tengah terpuruk di sudut bumi ini. Membawa terbang angan-angan kecil yang hanya sebatas impian sang pemilik. Aku disini tengah menantikannya. Menantikan angan-angan kecil yang kugantungkan pada setiap rasi bintang yang ada. Berharap Tuhan kan berikan semua yang ku pinta. Aku masih menunggu, menunggu bintang itu jatuh, dan berubah sosok menjadi kamu. Iya, kamu. Kamu yang telah berhasil menyita setiap waktu dalam hidupku, menghabiskan setiap pena yang kupunya hanya untuk goresan kelabu, mencacah-cacah setiap asa yang ku rajut dengan peluh keringatku. Kau tinggalkan seberkas jejak di hati ini, entah bijih magnet apa yang telah kau tanam.. hingga sulit rasanya untuk dicabut, meski dengan bantuan ibu peri sekalipun. Rindu. Itulah yang berhasil kau tancapkan di ladang emasku. Itulah yang menjadi alasanku bertahan di atas puing-puing kehidupan yang mungkin sebentar lagi akan rubuh. Itulah satu kata yang bisa membangkitkan emosi yang terselubung dari sekian ruang di relung hati. Itulah hal yang bisa wanita sejati lakukan, untuk sosok yang berharga dalam hidupnya. Begitu tega kau beri aku lautan rindu. Bagaimana caraku menghabiskannya? Haruskah ku hapus lautan itu menjadi hamparan pasir? Tapi aku tak mau. Haruskah ku siram dengan panasnya bara api? Tapi aku tak sanggup. Tuhan, apa yang harus ku perbuat? Aku tak mungkin hanya menunggu dalam diam. Aku tak mungkin terus duduk di sudut ruangan sambil mengaduk-aduk secangkir teh seorang diri? Aku butuh dia.. aku butuh dia.. aku butuh... Tuhan, apa yang harus ku perbuat dengan satu cangkir ini? Haruskah aku membuangnya? Membelikan pasangannya yang baru? Atau haruskah ku tunggu sampai pemilik pasangan cangkir itu kembali? Ku titipkan rinduku dalam secangkir doa.. untukmu.

Published with Blogger-droid v2.0.10

0 comments:

Posting Komentar