Pages

Sabtu, 22 Juni 2013

Aku dan Semesta

Puisi ini tercipta, ketika amarah sang tokoh sedang membara-bara. Ini puisi dimana sang tokoh merasa lelah dengan semesta yang seakan tak peduli dengan dirinya. Ia disayang ketika ia berguna. Lalu, ia dibuang ketika tlah habis seluruh tenaganya.

Kala ufuk timur mulai membiru
Kau angkat derajatku
Sayangi aku, kasihi aku
dan lindungi aku dari satelit penghancur bumi

Tawaku bergema di sudut-sudut ruangan
Bermain nada dengan hembusan angin di luar sana
Ciptakan symphony untuk semesta
yang selamatkanku dari bahaya

Terkuras sudah sluruh energi yang kupunya
Tanpa henti ku trus berusaha
Dengan butiran tenaga yang tersisa
berjuang demi semesta

Terkapar aku di atas teriknya sinar mentari
Tenggelam dalam lautan energi
Pancaran kasih yang slalu ku dapati
Kini terbang bersama pecahan symphony

Gagal aku berbalas budi
Kini... hancurlah semesta ini
Aku berjalan kesana kemari
Mencari sebongkah perlindungan yang masih tersisa di negri ini

Apa daya...
ufuk barat kian berubah menjadi gelap
Biru yang sekian lama ku tatap
kini berganti kelabu dan hitam

Aku pasrah, menyerah dengan semesta
Kau tak lagi ada untukku
Dan aku tak lagi berguna untukmu
Selesai sudah cerita kita dalam retakan symphony

posted from Bloggeroid

0 comments:

Posting Komentar