Pages

Kamis, 14 November 2013

Pertemuan Singkat (1)

Langit biru mulai menghitam, awan putih mulai menghilang, angin kencang terus menerjang, namun kau semakin menyerang. Tak ada yang istimewa darimu, hanya sepasang bola mata cokelat khas Indonesia yang kian memburu, berusaha mempercepat waktu sebelum hujan datang menyerbu. Di sudut tiang bambu aku terpaku. Seulas senyum terlukis akan tingkahmu yang lucu. Gemuruh langit mulai mengudara di ruang dengarku, meninggalkan setitik rasa takut di dalam lubuk hatiku. Namun segera semua sirna saat kau tepat satu langkah disampingku. Aku membelokkan arah pandangku tepat dimana kau tengah asyik bergumam dalam senandung lagu. Memang, tak ada yang istimewa darimu. Sekali lagi, kau hanyalah seperti lelaki biasa pada umumnya. Jeans levis dipadukan dengan kemeja putih membaluti tubuhmu yang mulai membaur dalam aroma dingin butiran hujan sore hari. Aku menerawang jauh ke masa depan, bertanya-tanya dalam hati 'akankah dia' 'akankah dia' dan 'akankah dia'. Tanya itu seolah membangkitkan rasa yang selama ini tersembunyi dalam hamparan pasir di pinggir lautan, sebuah rasa yang mampu membuat ombak kembali berderu, terumbu karang kembali bekerja, dan ikan kecil menari-nari dalam tenangnya samudera. Niatku ingin berlama-lama disini, dalam ruang bambu yang mampu membaluti rasa yang mulai bersemi kembali. Sayangnya, alam enggan membantuku. Perlahan ia berhenti menumpahkan amarahnya pada bumi pertiwi. Genangan air mulai menyusut, meninggalkan remang-remang spektrum merah biru di atas tanah tiang bambu. Deru kendaraan mulai berseteru. Setelah hujan membuat sepi alam indahku. Sementara aku masih diam terpaku, seraya melantunkan doa dalam lubuk hatiku. Berharap kau masih bersenandung di sampingku. Tapi, Tuhan berencana lain. Kau tergesa-gesa melangkah meninggalkan sejuta harapan yang ku tumpukan padamu. Aku hanya diam, mengamati punggungmu yang kian menjauh di tikungan sore itu. 'Semoga kita bertemu lagi' pintaku dalam hati.

posted from Bloggeroid

0 comments:

Posting Komentar