untukmu wahai temanku
Ada sesuatu yang mengetuk pintu hatiku. Aku teringat akan pertemanan kita dulu. Teringat bagaimana lugunya kita bertemu, teringat akan kebohongan dan kepalsuan yang kita jadikan benteng pertemanan. Ada bayangmu yang kuingat di waktu-waktu tertentu. Wajahmu senantiasa berdiam diri memenuhi setiap ruang otakku. Mungkin sudah saatnya aku mencarimu, menjabat tanganmu, dan mengucap maaf padamu. Aku tak peduli seberapa besar orang akan mencaciku, seberapa jauh orang akan mencibirku.. Aku tak peduli. Aku hanya ingin hidup tenang, damai, dalam balutan kasih dan pertemanan. Kesalahan awal adalah tak adanya rasa jujur dalam diriku. Ego yang kupunya mengalahkan setiap detik maaf yang akan terucap. Rasa angkuh yang tertanam membuat setiap jujur kembali ke dalam benak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Ungkapan yang sudah mendarah daging di kalangan masyarakat. Terlebih untuk diriku sendiri. Sesalku tak pernah mengatakan ini semua dari awal, dari pertama kali kita berjabat tangan saling kenal. Aku membiarkan kronologi cinta segitiga itu memecah belah ikatan pertemanan yang sebenarnya rapuh. Aku membiarkan semua berjalan seolah dunia adalah milikku. Aku lupa, bahwa ada dzat yang telah mengatur semua lika-liku kehidupan ini. Aku melupakan setiap nafas yang kuhembuskan, setiap detik yang kuhabiskan, dan setiap kebohongan serta kepalsuan yang terucapkan.. tercatat dalam buku amal yang akan ku pertanggungjawabkan.
Aku berikrar seorang diri, meneguhkan hati yang lemah ini. 'Maaf' ingin segera meluncur bebas di hadapanmu, 'maaf' telah lelah karena terkurung jarum waktu. Sangkarnya pun telah berkarat dan berdebu. Tak ada alasan lagi untuk menunda. Belum tentu esok aku masih ada.
Tapi, bagaimana? Bagaimana caranya aku menemuimu? Kita terpisahkan oleh jarak. Dan, bagaimana? Bagaimana jika niat tulusku tak mendapat respon darimu? Bagaimana jika saat aku berhadapan denganmu, aku malah membisu? Atau aku akan mengajakmu berbincang seputar obrolan yang sama sekali bukan merupakan tujuan awalku? Bagaimana ini Tuhan? Beri aku jawabanMu. Aku mohon petunjuk dariMu.
Dan untuk kamu, temanku... aku berjanji pada diriku, 'maaf' itu akan segera terlaksana, sebelum jarak memisahkan kita lebih jauh.
Aku senantiasa berdoa, meminta pada Rabb-ku agar kau turut merasakan apa yang aku rasakan. Agar nantinya, kita sama-sama sadar bahwa hidup akan jauh lebih indah jika kita saling memafkan.




0 comments:
Posting Komentar