Empat hari lagi menuju pertempuran. Aku masih mencari-cari perbekalan, di sana, di sini, di mana pun aku mencari. Ribuan kertas berisikan angka-angka ingin sekali rasanya aku lahap tanpa sisa. Beragam jenis gambar ingin sekali rasanya aku tempelkan di dalam memori kepala. Waktu memang kian mendekat, hampir tak pernah terasa sekalipun aku berusaha merasakannya.. selalu luput dan terlambat untuk disadari. Perbekalan yang ku pikul di kedua pundakku rasanya belum cukup. Masih banyak goresan pena yang harus kumasukkan dalam ransel kecil yang akan ku gendong dalam tiga hari ke depan. Namun, rasanya itu masih belum cukup. Memang, sifat manusia yang tak pernah merasa puas. Selalu ada hasrat yang tersembunyi di balik setiap ni'mat yang Allah berikan kepada umat-Nya. Tapi sebagai insan biasa, wajib berusaha bukan? Bekerja keras demi pencapaian sebuah mimpi yang tak lain adalah angan-angan yang selama ini selalu mengisi ruang dalam memori, yang selalu direfleksikan di langit-langit kamar, dan berharap Sang Maha Pencipta mengkabulkannya. Namun, rasanya ironis sekali mendengar kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Tadinya kupikir semua tengah berlari, berlomba mencapai puncak tertinggi.. namun, semua terkalahkan oleh ego diri. Disaat kita berjuang mati-matian, seolah rela mati dalam genggaman kesuksesan.. seseorang bahkan beberapa orang nun jauh disana tengah menanti datangnya pertempuran, mempersiapkan 'senjata' licik yang selalu digunakan secara turun-temurun, seolah-olah 'itu' adalah jawaban dari sebuah impian dan titik akhir dari sebuah perjuangan. Hanya secarik kertas kecil yang mereka gunakan, dan mimpi mereka akan menjadi nyata. Begitu anggapan mereka. Bukannya aku merasa suci. Tidak, aku jauh dari kata suci. Tumpukan dosa melekat di tubuhku. Bukannya aku menggurui. Tidak, aku sama-sama pejuang seperti kalian, aku bukan senior. Bukannya aku tak pernah menjadi ular. Jujur saja aku pernah. Tapi bedanya sekarang aku berusaha menjadi kura-kura. Lambat laun berusaha melakukan perubahan. Dan sekarang aku menjadi keledai, yang berlari dengan cepat demi mencapai goal di ujung sana. Sakit kah hati kau melihatnya? Pengorbanan tulus dilawan dengan bisa ular? Tapi, aku hanya bisa berdoa. Itu senjataku. Bukan maksud ku mengharapkan sesuatu buruk menimpamu. Tidak. Tidak seperti itu yang aku mau. Kau temanku. Kalian semua temanku. Kita sama-sama pejuang. Tapi bukankah lebih indah jika semua dilakukan dengan sebuah kejujuran?
Posted via Blogaway



0 comments:
Posting Komentar