Pages

Rabu, 21 Desember 2011

Matahari Terakhir



            Pagi yang cerah telah mencairkan suasana dingin semalam. Matahari tersenyum diatas langit sebelah timur seraya menatap indah warna-warni kehidupan dunia. Daun-daun kering yang berjatuhan dari tangkainya seraya menambahkan aroma sejuk nan indah dipandang mata seolah-olah sedang berada di tengah musim gugur. Kegembiraan hati turut menyelimuti pagi ini.
            Hari pertama aku kuliah setelah 2 semester telah aku lahap habis-habisan. Akan kuceritakan bagaimana aku melahap 2 semester yang begitu berarti untukku dan kenangan manisku.
            Saat pertama masuk kuliah di UNPAD aku masih merasa malu. Aku memang orang yang pendiam, tak banyak bicara. Bicara hanya seperlunya saja. Jika tidak ada hal yang penting, aku lebih memilih untuk diam. Menurutku diam lebih baik daripada harus berbicara panjang x lebar x tinggi yang tak ada gunanya.
            Saat itu aku sedang duduk di kantin bersama ketiga sahabatku, sahabat sejati sejak SMA dulu. Ya, mereka adalah Fio, Eza, dan Adi. Sambil menikmati semangkuk bubur ayam, tiba-tiba sesosok lelaki datang menghampiriku dan teman-temanku. Fio tercengang. Tapi, aku tidak memperdulikan hal itu. Biasanya jika Fio tercengang pasti dia sedang melihat lelaki tampan yang menurut dia itu keren. cool, maco, tinggi, putih, jantan, dan lain-lain yang merupakan tipe lelaki idamannya. Fio tetap tercengang, aku jadi penasaran.
            Sambil meminum segelas jus mangga dengan sedotan, aku memutar badanku untuk melihat hal apa yang membuat Fio tercengang. Tak sengaja, jus mangga yang aku minum mengenai baju seorang lelaki yang tengah berdiri di sampingku dan ternyata dugaanku benar! Lelaki itu membuat Fio tercengang.
            “Aduh maaf ya, aku ga sengaja” ujarku dengan penuh hati-hati karena sepertinya lelaki ini orang yang dingin dan cuek.
            “Oh iya gapapa kok. Kamu ada tisu ga?” jawabnya dengan penuh senyum hangat tersungging di bibirnya membuat siapapun yang melihat senyum itu menjadi terpesona dan terbuai dalam alam bawah sadar mereka.
            “Ada nih (sambil mengulurkan dua lembar tisu) perlu aku bantu?” tanyaku.
            “Gausah kok, aku bisa sendiri” jawabnya
            “Lo beneran gapapa Ka?” tanya Eza.
            “Iya gua gapapa kok. Jadi ga nih tanding basket entar?” Tanya Eka sambil mengusap-usap bajunya dengan tisu.
            “Sory gua gabisa. Gua udah janji mau pergi sama Dinar buat ngerjain tugas makalah” ujar Eza dengan suara lirih.
            “Oh gitu. Oke gapapa kok, masih ada waktu lain” ujarnya.
            “Oh iya gua lupa kan jadinya. Nih kenalin! Ini Dinar, cewe yang ga sengaja numpahin jus
mangga ke baju lo (sambil tertawa pelan dan memperkenalkan Dinar)”
“Eka” langsung buru-buru mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Dinar.
“Dinar. Sory ya tadi ga sengaja” ujar Dinar menyambut uluran tangan Eka.
“Iya gapapa kok” ujar Eka sambil menepuk bahu sebelah kanan Dinar.
“Nah yang ini Fio” ujar Eza memperkenalkan namun Fio masih tetap tercengang.
“Fi, Fi, Fio. Eh sadar!” ujar Dinar menyadarkan Fio dari mimpi indahnya.
“Hh (tertawa cengengesan). Eh hai! Gua Fio!” ujarnya.
“Eka” ujar Eka.
“Dan yang ini lo pasti udah tau kan. Ini Adi!” ujar Eza.
“Yaiyalah gua tau, orang rumahnya sebelahan sama rumah gua! Haha. Boleh gabung kan?”
“Boleh kok” jawab Fio dengan semangat 45.
Keheningan tercipta diantara mereka berlima. Tiba-tiba..
“Oiya kita mau ngerjain kapan nih makalah?” ujar Eza memecah keheningan.
“Dinar?” ujarnya lagi karena lawan bicara yang dia tuju tidak merespon.
“Hh iya?” jawab Dinar.
“Kita mau ngerjain kapan makalah? Makanya jangan sibuk sama hp aja lo!” ujarnya.
“Oh makalah, yaudah sekarang aja yuk?” ajak Dinar.
“Oke. Lo tunggu sini ya! Gua ambil motor dulu!” ujar Eza.
Tapi, seketika langkahnya terhenti.
“Yaampun Nar, gua lupa! Hari ini gua mau nganterin nyokap gua buat check up ke dokter,
gimana dong?” tanyanya panic.
“Yaudah gapapa biar gua yang kerjain sendiri, lagian tinggal kesimpulannya aja kan yang
belum?”
“Iya sih, ga ngerepotin elo nih?”
“Ngga kok, tenang aja. Udah sana anterin nyokap lo!”
“Iya iya. Gua pergi dulu ya!”
Keheningan tercipta kembali, entah karena mereka belum terlalu kenal dekat dengan Eka atau mereka bingung harus membahas topik apa. Tiba-tiba terdengar suara yang bersemangat dari Fio yang mampu memecah keheningan diantara mereka.
“Oiya ka, lo udah punya cewe belom?” ujar Fio.
            Tak diduga tak disangka bahwa Fio akan bertanya hal seperti itu pada Eka.
            “Belom kok, gua lagi nyari siapa yang pantes jadi cewe gua! Emang kenapa? Lo mau daftar?”
            Mendengar perkataan Eka tadi, Dinar dan Adi hanya tertawa geli.
            “Hah? Pede banget lo! Gua kan cuma nanya!” ujar Fio dengan nada agak sedikit kesal namun terselip senyum lega di bibirnya karena Eka belum mempunyai pasangan.
            “Tapi, gua udah punya calon!” ucap Eka.
            “Siapa ka? Cepet amat lo dapetnya?” ujar Adi.
            “Iya ka, siapa? Siapa? Siapa? Siapa? Ayo dong cerita!” ujar Fio penasaran.
            Adi dan Fio terus memaksa Eka dengan pertanyaan yang sama. Hanya Dinar yang masih diam dan asik dengan handphonenya.
            “Kamu kok diem aja? Daritadi aku perhatiin kamu asik sama hp kamu, lagi smsan sama cowonya ya?” ucap Eka tanpa memperdulikan pertanyaan Adi dan Fio.
“Kayaknya gua tau nih siapa calon yang lo maksud” ujar Adi.
“Siapa Di?” jawab Fio.
“Siapa lagi kalo bukan Dinar! Dia kan diem-diem gitu banyak yang naksir. Cuma dianya aja
yang gamau buka hatinya buat orang lain, iya kan?” Adi menjelaskan.
“Iya itu karna dia tuh taat banget sama orang tuanya” tambah Fio.
Sementara Eka dan Dinar asyik bercanda. Baru kali ini Dinar merasakan sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Begitu pun dengan Eka.
“Ehem! Kayaknya gua tau calon cewe lo siapa Ka! Tenang aja Dinar belum punya cowo kok,
jadi lo bebas deketin dia! Apa lo mau tau rumahnya? Tenang, tenang gua tau kok. Asalkan ada
ongkos pegel aja” celoteh Adi.
“Apa lo mau tau semua tentang Dinar? Itu gampang ada gua! Gua sahabat baiknya Dinar kok,
gua tau bener siapa Dinar. Jadi gimana? Lo pilih alternatif gua atau Adi? Kalo gua sih cukup lo
beliin tiket konser SNSD Korea aja hehe” celoteh Fio.
Dinar dan Eka hanya diam. Dinar tau sebenarnya Fio menyukai Eka. Tapi, Fio justru ingin Dinar bahagia. Ia ingin sahabatnya itu merasakan apa arti cinta setelah sekian lama ia mengubur rasa itu jauh-jauh di lubuk hatinya. Usaha Fio dan Adi tidak sia-sia. Mereka berhasil membuat Dinar dan Eka berpacaran. Fio merasa bahagia sekali melihat sahabatnya itu! Namur, Dinar tetap merasa tidak enak hati pada sahabatnya itu. Ia tau bahwa Fio sangat kagum pada Eka. Namun, Fio mencoba menjaga perasaannya. Tak diduga tak disangka, lambat laun Fio berpacaran dengan Adi. Ternyata benar ya sahabat bisa jadi cinta.
Dua taun sudah Eka dan Dinar menjalani hubungannya. Namun,ada satu hal yang perlu Dinar ketaui.
“Nar, sini deh! Gua mau ngomong sama lo!” ujar Fio sambil menarik tangan Dinar ke arah taman.
“Ada apa sih Fi?” Tanya Dinar.
“Pokoknya lo harus putusin Eka sekarang! Sebelum semuanya terlambat!” dengan semangat 45 Fio menjelaskan.
“Apa apaan sih Fi? Maksud lo apa? Kenapa gua harus mutusin dia? Dia kan ga salah” jawab Dinar dengan lirih.
“Aduh Dinar, lo percaya aja sama gua! Ini semua demi kebaikan lo! Sini deh hp lo biar gua yang sms Eka dan bilang kalo lo mau putus!” ujar Fio sambil mengambil hp Dinar dari tangannya.
“Gua tau kenapa gua harus mutusin Eka. Karna lo kan? Lo
suka kan sama Eka dan karna lo ga terima gua pacaran sama Eka sekarang lo minta gua putusin
dia kan? Iya kan Fi? Udah deh lo ngaku aja!” ujar Dinar dengan wajah kesal.
“Bukan gitu Nar. Ini semua gua lakuin karna barusan anak-anak kampus lagi pada ngegosipin elo sama Eka dan gua denger kalo semenjak semester 2 Eka pacaran sama Dina. Dia selingkuh! Makanya gua ga mau lo terlalu lama ditipu sama Eka! Gua juga ga nyangka kalo Eka itu playboy! Maaf Nar gua bentak-bentak lo, abis gua gatau gimana cara ngejelasin ke lo tadi. Dan sms putus itu udah gua kirim. Maaf Nar, kalo tindakan gua ini bikin lo sakit hati. Tapi sebagai sahabat lo dari SMA gua ga tega liat sahabat gua disakitin sama cowo playboy kayak Eka. Maafin gua Nar! Sekarang lo boleh tampar gua, lo boleh marah sama gua, lo boleh caci maki gua! Ayo Nar! Tapi gua cuma minta satu hal. Lo jangan terlalu larut dalam kesedihan lo itu Nar! Lo gaboleh nangisin dia!” ujar Fio panjang lebar.
Dinar hanya meneteskan air mata tak henti-henti. Seketika tubuhnya membeku. Keheningan
tercipta diantara mereka. Hanya isak tangis Dinar yang berkumandang dan menyelimuti keheningan mereka. Tiba-tiba handphone Dinar berbunyi. SMS dari Eka.
“Nar, dibales sama Eka. [kamu mau putus? Oke. Semoga kamu dapet yang lebih baik ya. jangan sedih sayang] (Fio sambil membacakan sms dari Eka). Dinar lo gapapa kan?” tanya Fio.
Tanpa bersuara lagi, Dinar langsung mengambil handphonenya dan pergi meninggalkan Fio
sendiri. Sementara Fio hanya memandangi tubuh Dinar yang lama-kelamaan menjauh dari pandangan matanya.
“Gua tau lo sedih Nar. Gua tau bukan hal yang mudah buat lo ngelupain setiap detik kejadian yang pernah terjadi di hidup lo. Gua tau itu Nar. Tapi ini kenyataan.” ujar Fio dengan wajah sedih.
Dinar terus berjalan dengan langkah kaki seribu untuk pergi ke taman tempat dia dulu memulai
hubungannya dengan Eka. Namun, langkahnya menabrak dua sosok perempuan yang terkenal sebagai tukang pengobat patah hati.
            “Lo punya mata kan?” ujar Angela.
            Tanpa menjawab pertanyaan, Dinar langsung pergi. Namun, Angela buru-buru menarik lengannya.
            “Pantesan aja Eka ga betah pacaran sama lo! Sampe-sampe dia selingkuh sama Dina. Gua tau
sih Dina yatim piatu, dia cuma punya usaha warung kecil di rumahnya. Tapi seenggaknya dia
ga dingin kayak lo! Dia asyik anaknya! Friendly! Ga kayak lo!” maki Angeli.
“Udah ngomongnya?” tanya Dinar.
“Eh .. lo tuh y..”
Seketika Angela menutup mulut Angeli.
“Eh Nar, lo jangan nangis dong! Sory deh ya tadi kembaran gua si Angeli emang gitu orangnya!   Udah mana suaranya cempreng bawel lagi, udah gausah di dengerin ya cantik. Hehe” hibur
Angela.
Angeli yang melihat hal itu merasa janggal. Tidak biasanya Angela bersikap lembut seperti tadi.
“Lo butuh bantuan kita?” tanya Angela.
“Kita?” ujar Angeli.
“Udah deh lo diem aja!” ketus Angela.
“Sory gua harus pergi. Makasih atas tawaran lo!” ujar Dinar yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Lo ngapain sih tadi? Emangnya lo yakin dia bakal minta bantuan kita? Ogah amat gua harus bantuin cewe dingin kayak dia! Idih!” celoteh Angeli.
“Udah deh Li, lo diem aja! Gua yakin pasti besok dia dateng ke kita! Cewe kayak dia tuh gampang ditebak. Lumayan kan hasilnya bisa buat kita shopping” Angela menjelaskan.
“Maksud lo? Lo mau minta imbalan gitu? Emang dia bakal ngasi? Tapi kok ke yang lain lo ga minta imbalan?” tanya Angela.
“Yaiyalah, karna yang lain tuh biasa-biasa aja. Sedangkan Dinar! Dia tajir! Gua yakin, dia bakal ngasi apa yang kita mau, ya ga?” ujar Angela.
“Gua harap sih gitu” jawab Angeli.
Keesokan harinya.
“Dinar!”
Langkah Dinar terhenti. Sebelum dia menoleh siapa yang memanggilnya, dalam hati ia
berharap suara itu berasal dari Eka. Tapi takdir berkata lain.
“Dinar, ini gua Eza. Lo kenapa? Mata lo kok bengkak? Lo abis nangis ya? Lo putus sama Eka? Dinar! Jawab pertanyaan gua!” perintah Eza.
            Namun Dinar tak menghiraukannya, seketika air matanya menetes mengalir lembut di pipinya.
            “Bukan urusan lo, Za!” jawab Dinar seraya pergi meninggalkan Eza.
            “Gua tau lo sedih Nar, tapi sayang gua bukan orang yang bisa bikin hati lo seneng, cuma Eka
yang bisa.” ujar Eza dengan nada penyesalan.
Dinar pergi mencari-cari Angela dan Angeli. Akhirnya ia menemukan mereka di ruang pendopo.
“Sory gua ganggu”
Angela dan Angeli yang sedang asyik berdandan, tiba-tiba kaget mendengar suara itu.
“Kenapa lo Nar? Mata lo kok bengkak?” tanya Angeli.
“Gua terima bantuan kalian kemaren”
“Serius lo” tanya Angela sambil melotot.
Angela langsung mengambil secarik kertas dari dalam tas nya dan menuliskan sesuatu di kertas itu.
“Ini nomer rekening gua! Gua cumu butuh lima juta buat DP.”
“Maksud lo?” tanya Dinar heran.
“Di dunia ini gaada yang gratis!” ujar Angeli.
“Tapi, tapi ini lima juta! Buat apa uang sebanyak itu!” tanya Dinar.
“Ya buat apa kek, terserah kita dong!” ujar Angela dan Angeli.
“Nih, gua ga mau cape-cape transfer pake rekening. Gua kasi cashnya aja deh!”
“Nah itu lebih baik!” ujar Angela.
“Oke lo ikut kami sekarang!” ujar Angeli.
Lalu mereka bertiga pergi ke suatu tempat dimana Dinar bisa menyaksikan hal yang selama ini belum pernah ia saksikan. Ya, kembar itu mengajak Dinar ke rumah Dina. Dimana disana terdapat Dina sedang asik pacaran dengan Eka sambil menikmati segelas teh. Dinar yang melihat hal itu langsung buru-buru ingin pergi.
“Lo ga boleh kemana-mana!”
“Jadi lo ngajak gua kesini buat”
“Buat ngebakar rumah Dina!”
“Apa?”
“Iya! Kenapa? Lo takut?”
“Tapi gua”
“Udah deh lo diem aja! Biar gua sama Angeli yang bakar! Lo cukup berdiri disini, nontonin
peristiwa paling tragis, ngerti? Dan gua yakin habis ini pasti Eka mutusin Dina. Mana mungkin
dia mau pacaran sama cewe miskin kayak gitu! Haha!”
Kurang dari 10 menit, mereka kembali menemui Dinar dalam keadaan selamat.
“Cabut yuk! Tugas kita udah beres! Oiya Nar thanks ya duitnya! Lo mau ikut kita ga?”
“Kemana?”
“Ke tempat yang bisa bikin lo lupa sama Eka!”
---
“Ini tempat apa?”
“Ini rumah gua! Udah deh pokoknya lo bakal aman tenang damai tentram sejahtera bahagia”
Mereka pun masuk ke dalam rumah Angela. Dinar kaget. Rumah itu sangat rapi dan tertata dengan baik oleh deretan minuman keras yang ada di setiap sudut rumah itu. Semerbak bau alkohol menyelimuti setiap hembusan nafas di dalam rumah itu.
“Ini maksudnya apa?” tanya Dinar, tapi tak ada satu pun yang menjawab.
Sambil menyalakan televisi, Angela dan Angeli meneguk minuman keras itu dalam hitungan gelas.
“Cobain deh Nar!”
“Ngga ah!”
“Ayo lah! Setengah gelas aja”
Karena dipaksa akhirnya Dinar mau mengikuti instruksi tersebut. Dengan kondisi yang lemah, beban hati yang sakit, luka yang dalam, wajah yang pucat akhirnya Dinar meminum minuman itu. Awalnya hanya setengah gelas tapi lambat laun jadi satu gelas, dua gelas, tiga gelas, empat gelas, sepuluh gelas, hingga tak terhitung lagi.
Malam telah tiba. Dinar tersadar dari mimpi indahnya. Ia sadar kalau ia masih berada di rumah Angela.
“Lo mau gua anterin pulang?”
“Gausah gua naik taksi aja”
“Oke. See you tomorrow sweety. Kalau lo kurang lo dateng kesini aja, kita siapa ada buat lo ga
kayak tiga sahabat lo itu yang menghilang tanpa jejak”
Dinar langsung pergi dari rumah Angela. Meskipun ia tadi  tidak menghiraukan perkataan terakhir Angela, tapi ia mencerna dengan baik setiap kata yang terucap dari bibir Angela.
Sesampainya di rumah.
“Sayang, kamu baru pulang? Oiya mamah lupa, mulai sekarang kamu ga akan sendirian lagi. Nih, kenalin Dina! Kakak kamu! Dia anak Kakak Ayah kamu! Barusan dia baru mendapat musibah, rumahnya kebakaran!”
“Iya Nar, maaf ya Ayah baru cerita sama kamu!”
“Dan ini pacarnya Dina, Eka”
Seketika tubuh Dinar membeku di ambang pintu. Ia ingin sekali berteriak, namun tak berdaya! Ia hanya menatap wajah di sekitarnya bergantian lalu pergi menuju kamar. Di kamarnya ia menangis dan Eka yang tak sengaja lewat depan kamar Dinar mendengar suara tangisan itu. Namun, ia hanya mendesah.
Keesokan harinya.
Dinar yang menuruni anak tangga dengan wajah yang masih pucat dikagetkan oleh satu momen di meja makan dimana Dina menduduki kursi tempat ia makan. Dan di meja makan itu hanya terdapat tiga kursi. Lalu dimana kursi untuknya? Dimana dia akan mengisi tenaganya bersama orang yang mempunyai tali darah dengannya? Dimana? Apakah tempat itu telah tergantikan?
Dinar hanya diam di tangga. Terlihat jelas di depannya bahwa kedua orang tuanya sedang memanjakan Dina layaknya anak kecil. Perhatian yang mereka berikan, kasih sayang, tulus cinta kini bukanlah untuk Dinar melainkan untuk Dina.
Seketika Dinar langsung pergi tanpa memperdulikan hal tadi meskipun batinnya kini terasa sakit. Ia pergi ke rumah Angela bukan ke kampus untuk kuliah. Di rumah Angela ia menceritakan semua hal yang telah ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri semalam dan pagi tadi.
Namun jawaban dari semua keluhan Dinar itu adalah minuman keras bergelas-gelas. Hampir tiap hari Dinar dan si kembar melakukan hal yang sama. Prestasi Dinar yang telah susah payah ia ukir sejak SMP kini terbang bebas melayang di udara. Hobi yang dulu ia tekuni kini terkubur dalam lautang sumur. Angan-angan, mimpi, cita-cita yang cerah sehangat mentari di pagi hari kini berubah menjadi lautan hitam tanpa ada cahaya sedikit pun.
Puncak kemarahan Dinar tiba saat ia mengetahui bahwa orang tuanya menyetujui hubungan Dina dengan Eka. Didatanginya Dina yang telah selesai menelfon orang tua Dinar yang kini menonton TV di ruang tamu. Ditamparnya Dina, dan..
“Hei, maksud lo apa nampar gue?”
“Selamet ya lo udah berhasil ngancurin kehidupan gua?”
“Eka maksud lo? Itu sih salah lo nya aja yang terlalu cuek sama Eka, makanya dia berpaling ke gue!”
Dinar diam.
“Kenapa lo diem? Lo cuma berani di fisik? Ga berani lo adu mulut sama gue? Apa perlu gue cakar-cakar dulu mulut lo baru lo bisa ngelawan gue? Apa perlu gue kasih tau orang tua lo?”
“Cukup! Lo ga tau penderitaan gua apa! Lo masuk ke dalam kehidupan gua, terus lo rebut semua yang gua punya mulai dari Eka, Fio, Adi, Eza, dan sekarang lo rebut kasih sayang orang tua gua! Lo rebut semua yang gua miliki tanpa lo sisain sedikit pun buat gua hidup! Lo ambil kehidupan yang gua miliki! Sekarang gua mau tanya sama lo, apa hati lo ga sakit jika ngeliat orang yang lo sayang tiba-tiba direbut semuanya sama seseorang yang selama ini ga pernah lo kenal sama sekali dan ga pernah deket sama lo. Apa hati lo ga sakit?”
Kali ini Dina diam.
Tanpa pikir panjang, Dinar langsung pergi meninggalkan Dina dan menuju rumah Angela.
Sebelum itu, ia bertemu dengan ketiga sahabatnya yang hendak menuju rumahnya. Namun, ia tau. Sahabatnya bukan ingin bertemu dengannya melainkan ingin bertemu dengan Dina. Melihat Dinar pergi sambil meneteskan air mata, ketiga sahabatnya itu mengikutinya dari belakang.
Di rumah Angela, ia mencurahkan amarahnya lewat minuman keras.
            “Nar, lo udah terlalu banyak minum” ujar Angeli lirih.
            Tapi Dinar hanya diam dan terus meneguk gelas yang penuh dengan alkohol itu.
            “Eh Dinar! Lo denger ga sih tadi Eli ngomong apa? Budek ya lo?”
            Dinar terdiam lagi. Karena tak takan melihat tingkah Dinar, akhirnya Angela menepis gelas yang berisi minuman keras itu yang hendak diminum oleh Dinar dan akhirnya gelas itu pecah. Kepingan pecahan itu mengenai jari lentik Dinar dan meneteskan darah.
            Eza yang tak tahan melihat hal itu yang sedari tadi mengintip dari jendela depan rumah Angela masuk ke dalam rumahnya, diikuti oleh Fio dan Adi.
            “Apa-apaan lo La?”
            Angela kaget, begitu pun Angeli.
            “Ngapain Lo disini?”
            “Kita ngikutin Dinar tadi, dna akhirnya kita nemuin jawaban kenapa Dinar sering bolos. Dan ini
semua karna kalian!”
“Eh apa-apaan lo nyalahin kita?”
“Asal lo tau ya! Dia sendiri yang dateng ke kita buat minta bantuan, ya gua sih”
Kalimat itu terhenti setelah ia melihat Dina masuk ke dalam rumahnya.
“Ada apa ini?”
“Nah, ini nih! Dinar kayak gini karna lo!”
“Oiya gua juga punya satu informasi yang bisa bikin kalian tercengang netesin air liur kalian!
Haha. Asal lo tau ya Na, orang yang ngebakar rumah sama warung lo itu adalah DINAR!
(sambil menunjuk ke arah Dinar).
Namun, orang yang ditunjuk itu malah tak sadarkan diri karena saking banyaknya darah yang menetes dari jari jemarinya. Semua kaget. Seketika Eza langsung menelfon ambulance dan  mengabari hal itu kepada orang tua Dinar.
Di rumah sakit.
“Anak saya kenapa Dok?”
“Saya perlu bicara dengan ibu dan bapak di ruangan saya. Mari!”
“Anak ibu dan bapak terlalu sering meminum alkohol, sehingga menyebabkan alkohol yang ia minum bercampur dengan darah dan menguasai metabolism sistem peredaran darah anak anda, sehingga menyebabkan sel darah merah kekurangan haemoglobin dan membuat tubuh anak anda kekurangan sel darah merah. Hal inilah yang membuat anak anda menderita kanker darah”
“Tapi Dok, itu ga mungkin!”
“Ini kenyataan bu! Untuk lebih jelasnya besok saya akan perlihatkan hasil diagnosa tubuh anak ibu. Untuk sementara anak ibu dirawat di rumah sakit sampai”
“Baik Dok”
Di ruang rawat Dinar. Isak tangis terus berkumandang saling bersahut-sahutan. Fio, Adi, Eza, Dina, Eka, serta kedua orang tuanya tiada henti menangis. Tiba-tiba jari Dinar bergerak. Ibunya langsung menghampirinya.
“Dinar, kamu gapapa kan Nak? Ini mamah sayang, mamah disini buat nemenin Dinar. Dinar harus sembuh ya sayang. Dinar gausah takut. Disini ada mamah, ayah, Fio, Eka, Eza, Adi, disini juga ada Dina”
“Dinar” suara Eka membuat air mata Dinar mengalir lembut.
Namun, tubuhnya tak kuasa untuk berkata. Akhirnya matanya kembali terpejam.
Keesokan harinya.
Eza yang dari semalam menemani Dinar hanya bisa berdiam diri. Namun, seketika Dinar bangun.
“Za”
“Iya Nar”
“Minum”
“Iya Nar gua ambilin”
Setelah selesai minum.
“Lo gapapa Nar? Apanya yang sakit? Lo baik-baik aja kan? Apa lo mau minum lagi? Lo mau makan? Atau lo mau apa? Lo tinggal bilang, insyaAllah gua siap buat nurutin semua keinginan lo Nar. Lo tinggal bilang”
“Kenapa lo baik sih Za sama gua? Padahal gua kan orangnya dingin, cuek, ga peduli. Kenapa lo?” belum sempat Dinar menyelesaikan kalimatnya.
“Meskipun lo dingin, cuek, itu udah karakter lo Nar. Gua cukup mengerti aja dan berusaha supaya bikin lo tersenyum. Lo bersikap dingin, cuek kayak gitu karna dari dasarnya lo orang yang pendiem, ga terlalu banyak omong. Gua suka hal itu Nar. Lo itu menarik,unik, beda dari yang lain. Gua mau buat satu pengakuan Nar. Tolong dengerin ya! Sebenarnya sejak kita SMA dulu dan kita mulai bersahabat, gua … gua … gua ada rasa Nar sama lo! Gua sayang sama lo! Tadinya gua pengen lo tau semua perasaan gua pas perpisahan SMA, tapi sayang gua ga punya nyali buat ngomong semua itu ke lo! Gua takut cinta gua ditolak sama lo Nar! Dan ternyata pas kuliah, lo jadian sama Eka. Hati gua hancur Nar, sakit. Tapi gua punya prinsip, meskipun gua ga bisa milikin diri lo seutuhnya tapi kegembiraan persahabatan kita udah cukup buat gua mengerti kalo sahabat itu saling menyayangi”
“Tapi Za, gua ini bukan Dinar yang dulu. Bukan Dinar yang lo kenal. Gua udah berubah 180°. Gua ini pernah”
“Pernah ngebakar rumah Dina?”
“Hah? Lo tau dari..”
“Dari Angela dan Angeli”
“Gua..”
“Gua tetep yakin kalo yang ngelakuin itu bukan diri lo! Karna yang gua tau Dinar bukan orang kayak gitu. Meskipun semua orang udah tau dan percaya kalo lo yang ngelakuin hal itu, tapi gua tetep ga percaya! Gua yakin sama hati kecil gua! Lo bukan pelakunya!”
“Bukan Cuma lo aja Za yang yakin, tapi hati kecil gua juga yakin!”
Suara itu membuat Dinar dan Eza kaget dan melihat ke arah datangnya suara. Eka! Ya, itu suara Eka!
“Za, bisa tinggalin gua sebentar sama Dinar?”
Eza mengangguk dengan paksa, lalu dia keluar seraya menatap mata indah Dinar.
“Aku mau minta maaf sama kamu, Nar”
Dinar memalingkan wajahnya.
“Aku tau kamu marah sama aku, aku tau kamu kesel, sakit hati, benci. Tapi aku mohon maafin aku”
“Tinggalin gua sendiri!”
“Tapi Nar”
“Please”
Akhirnya Eka pergi. Tapi, sebelum itu.
“Satu hal yang perlu kamu tau Nar, aku udah putus sama Dina. Kalau boleh aku jujur, cuma kamu yang bisa ngertiin aku! Selama aku sama Dina, aku belum pernah ngerasain hal yang dulu pernah aku rasain sama kamu, sesuatu yang bergetar”
Seketika kalimat itu terhenti. Ruangan itu sepi, hanya ada Dinar seorang diri. Ia lalu bangkit
dari tempat tidurnya dan pergi dengan langkah tergopoh-gopoh serta menyelinap layaknya seorang teroris yang hendak kabur dari selnya. Ia pergi ke taman tempat dulu dia pernah bahagia bersama Eka. Dipandanginya taman itu dengan sorot mata mengenang.
            “Ini terakhir kalinya aku bisa mengenang semuanya sebelum aku pergi”
            Lalu dia pergi ke sebuah pohon dan membongkar tanah yang ada di dekat pohon itu. Didapatinya selembar kertas surat bersama amplop bergambar hello kitty dan sebuah pulpen berwarna pink, warna kesukaannya.
            Ditulisnya sebuah surat yang tak cukup panjang namun dari sorot matanya terlihat bahwa surat itu sangat berarti. Setelah itu, digenggamnya surat itu dan dia duduk di sebuah kursi dekat taman.
Tiba-tiba sosok lelaki menghampirinya. Ia duduk di sebelahnya.
“Aku ingin mengenang tempat ini bersamamu”
Seketika Dinar menoleh.
“Eka?”
“Langitnya indah ya”
Mendengar Eka tak memperdulikan pertanyaannya, ia diam.
Hari telah berlalu. Hampir 15 jam mereka hanya duduk dan tanpa ada sepatah kata pun yang menghiasi indahnya taman itu. Mereka duduk menghadap ke arah barat tempat perginya sang surya.
“Tiba waktunya. Berdiri yuk?” ujar Eka sambil mengulurkan tangannya ke arah Dinar.
Dinar menyambut uluran tangan itu. Digenggamnya jari Dinar dengan erat hingga terasa kehangatan di antara jari-jemari mereka.
Lalu mereka pergi seakan mendekati sang surya dan duduk di atas rerumputan hijau menikmati suasana indah itu. Tiba-tiba air mata Dinar menetes satu per satu membasahi genggaman erat tangan mereka berdua.
“Jangan nangis ya”
“Kamu liat deh itu”
Seketika Dinar menoleh, dan Eka langsung menyentuh kepala Dinar secara perlahan, kemudian merebahkannya di pundaknya. Lalu berbisik.
“Kamu adalah matahari terakhir dalam hidupku”
Seketika nafas Dinar terhenti. Eka menyadari bahwa ia telah pergi.
“Kamu pergi bersamaan dengan tenggelamnya matahari”
Lalu ia melihat surat yang dipegang oleh Dinar, kemudia membacanya.
“UNTUK ORANG-ORANG YANG AKU SAYANG. UNTUK SAHABATKU MAAF AKU GABISA MENJAGA PERSAHABATAN KITA. UNTUK EZA, MAAF AKU GABISA MENUHIN KEINGINAN KAMU UNTUK JADI PACAR KAMU KARNA CINTA AKU CUMA SATU, YAITU EKA. UNTUK EKA, MAKASIH BUAT SEMUA KENANGAN MANIS YANG UDAH KAMU KASIH KE AKU. SAAT KAMU BACA SURAT INI AKU UDAH PERGI JAUH, KAMU BOLEH NGAMBIL GELANG YANG DULU PERNAH KAMU KASIH KE AKU BUAT KAMU KASIH KE ORANG YANG KAMU SAYANGI SEKARANG. DAN SEKARANG KAMU BEBAS UNTUK CINTA SAMA SIAPA PUN TERMASUK DINA. UNTUK DINA, MAAF AKU UDAH BENTAK-BENTAK KAMU. GA SEHARUSNYA AKU LAKUIN HAL ITU. AKU SADAR SEMUA TINDAKANKU SALAH. UNTUK ANGELA DAN ANGELI, MAKASIH KARNA KALIAN UDAH NGAJARIN AKU APA ARTINYA HIDUP BEBAS HINGGA AKU MERASAKAN KEPAHITAN HIDUP. DAN YANG TERAKHIR UNTUK MAMA DAN AYAH. MAMA, MAKASIH KARENA UDAH NGERAWAT AKU DARI KECIL, UDAH NGASI KASIH SAYANG MAMA BUAT AKU. AYAH, MAKASIH KARNA UDAH NGAJARIN AKU TENTANG BANYAK HAL. MAAF AKU UDAH PERNAH NGEBANTAH KALIAN, AKU PERNAH NGELANGGAR PERATURAN DARI KALIAN, YAITU MINUM MINUMAN KERAS. SAAT AKU UDAH GAADA NANTI, KALIAN JANGAN  SEDIH YA. SAMPAI KAPAN PUN KALIAN ADALAH ORANG TUA DINAR. DOAIN DINAR SUPAYA TENANG DI ALAM SANA.
TERTANDA: DINAR.”
Setelah Eka membaca surat itu, dia kaget karna dirinya dan Dinar telah dipenuhi oleh kerumunan orang-orang yang Dinar sayang.
“Gelang itu akan aku simpan dan ga akan aku kasi ke siapapun Nar, karna cuma kamu yang pantas pake gelang itu”
Setelah mengucapkan kalimat tadi, Eka lagsung mencium kening Dinar.
“Selamat Jalan Sayang”
~ENDING~

0 comments:

Posting Komentar